Senin, 12 Maret 2012

Resensi Film: Hugo (2011)

Martin Scorsese kembali lagi dengan materi brilian dan menghangatkan tentang bocah yatim-piatu penggerak jam-jam raksasa di sebuah stasiun pusat di Paris. Profesi terselubungnya ini ternyata menjadi analogi filosofi hidup si bocah berbola mata biru jernih bernama lengkap Hugo Cabret. Memperbaiki sesuatu yang rusak dengan kunci H (huruf inisial Hugo, bisa saya artikan sebagai “heart” mencari “home”). Awalnya saya susah sekali menerka-nerka latar belakang si Hugo karena Scorsese lamban pisan euy mengurai subplot, ditambah karena adegan-adegan awal yang kosmetikal dan seret kayak naik kendaran bermotor dengan ban agak kempes. Parahnya lagi, saya melihat efek visual di dalamnya terlampau pastelnya krayon sadar efek 3D walaupun memikat dan memanjakan indra penglihatan saya.

Tapi tenang saja, kemudian saya mulai terbiasa dengan melempemnya alur ketika menemui ide (yang saya sebut di atas tadi) “memperbaiki sesuatu yang rusak”. Si Hugo berpikiran bahwa ia terlahir di muka bumi pasti bukan tanpa tujuan. Dilihatnya dunia sebagai mesin yang harus tetap bergerak dan ia bukan komponen tambahan, melainkan termasuk sebagai komponen utamanya. Hugo kecil walaupun tak punya siapa-siapa terdekat, namun akhirnya tekadnyalah yang mempertemukan ia pada keluarga baru. Semua terjadi karena ia memperbaiki sesuatu yang rusak. Jam rusak atau barang-barang mekanis lainnya, okelah. Itu sudah menjadi kelumrahan Hugo, tapi jika kehidupan orang lain yang diperbaiki? Itu perkara lain yang barangkali terlalu semu dan naïf. Si Hugo meyakininya hingga jerih payahnya berhasil.

Dengan segala iming-iming penghargaan teknis Oscar, Hugo tak terlalu memesona bagi saya karena tetap saja itu bukan tawaran utama dalam film ini seperti halnya ketika kita menanti-saksikan Avatar yang cukup revolusioner. Pelajaran dan pesan moral dalam kehidupan yang terkandung di dalamnya telah membuat saya leleh dan melebur ke dalam keteguhan Hugo. Semoga akan banyak Hugo-Hugo yang terlahir di bumi pertiwi ini. Bocah dengan semangat pahlawan, tanpa perlu mengenyam pendidikan formal-normatif. [B+] 12/03/12

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar