Selasa, 13 Agustus 2013

Resensi Film: 5 cm. (2012)

Jangan berpikiran mesum ketika membaca judul film ini! Hahahaha… Diangkat dari sebuah buku (seingat saya malah komik, karena saya sempat membuka-buka bukunya yang mana di dalamnya penuh dengan gambar dengan panel-panel khas komik), film ini berujar diinspirasi dari kejadian nyata. Oke, satu nilai jual sudah dikantongi.

Berujarkan tentang perkawinan antara tema persahabatan dan nasionalisme membuat 5cm. cukup kerepotan dan kebingungan. Jangan salah kira dulu. Pada dasarnya, saya sangat bisa menikmati film santai ini. Namun, penjejalan pesan yang tak mulus menjadi iritasi tersendiri saat menontonnya. Grup sentral dalam film ini berjumlah lima kepala. Mereka sahabatan. Sampai-sampai saking intensnya persahabatan mereka, masing-masing tak punya ruang lagi untuk menjalin interaksi sosial dengan lingkup di luar geng lima sekawan binaan mereka. Salah satu anggotanya tiba-tiba mencetuskan ide untuk putus kontak ekstrem antarsesama selama beberapa saat untuk kemudian bereuni kembali di suatu momen.

Itu plot awal pembangun film. Dan, seperti yang bisa kita simak melalui sampul film, momen reuni mereka dirayakan lewat acara pendakian Gunung “mahameru Jawa” Semeru. Khusus tentang pendakian ini banyak yang komplain, khususnya datang dari pihak para pecinta alam dkk. Film ini kurang mewakili realitas pendakian itu sendiri, intinya. Yang lebih saya soroti di film ini adalah cara si strada, Rizal Mantovani, mengemas dan memoles konsep film. Dengan dipilihnya band Nidji sebagai pengisi soundtrack film ini saja saya sudah menangkap mau dibawa ke mana arah 5cm. di tangannya.

Secara keseluruhan, saya merasa film ini masih kelewat merah jambu… Kurang eksplorasi dan sangat-ngat bermain aman-man bin nyaman-man. Sorot-sorot pemandangan di dalam film tercuri secara indahnya. Saya mulai suka ketika melihat kepekaan sinematografer memotret keindahan demi keindahan tropis persawahan sewaktu grup lima sekawan sedang menuju Malang via sepur. Belum lagi nanti ditambah eksotisme titik-titik utama di jalur pendakian, terutama di Ranu Kumbolo (seharusnya ditulis: Ranu Kumbala).

Tak lama setelah menonton film ini, saya dengarkan lagu Dewa 19 berjudul Mahameru. Sambil membayang-bayangkan, bagaimana jadinya bila film ini ditangani strada lain dan memakai lagu ini sebagai soundtrack-nya dan membiarkan Andra Ramadhan mengambil status komposernya. [B] 10/08/13

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar