Selasa, 12 Februari 2013

Resensi Film: Cloud Atlas (2012)

Dulu saya sempat percaya dengan film-film Tom Hanks. Makin ke sini, saya sudah enggan. Terbukti dengan film-film terakhir yang dibintanginya tak pernah sukses. Kali ini ia ambil peran dalam sebuah film fiksi-sedikit-ilmiah kreasi Wachowski Bros. (Matrix: The Trilogy).

Setelah menontonnya, saya rasa sayang sekali Akademi (Oscar) memubadzirkannya begitu saja. Memang benar Cloud tak hebat namun paling tidak skrip hasil adaptasi novelnya patut diapresiasi. Wachowski Bros. menyulam 6 lapis plot lintas-era menjadi satu film berkaitan “reinkarnasi modern”. Pesan yang ingin disampaikan di dalamnya mulia sekali. Sebuah introspeksi atas hubungan universal antarmanusia, tanpa batasan ruang dan waktu.

Oleh karena plot yang diceritakan terlalu banyak, maka saya lewatkan saja bagian sinopsis. Dalam Cloud, kita akan diajak melompat-lompat dari era avonturir (saya lupa di film ditulis abad ke berapa, yang jelas era di mana kapal layar masih berjaya), sampai era pascakiamat. Di tengah-tengahnya ada set era abad ke-20 dan 22. Bagi yang mau menontonnya, silakan saja sejak awal hitung berapa era yang dipakai Wachowski. Pada durasi awal film tercantum sekali keterangan era, sedangkan di pengadegan berikut-berikutnya penonton tak dibantu lagi tulisan keterangan era. Kita wajib mind-mapping mandiri.

Berlapis-lapis cerita bersahutan satu sama lain. Yang membuat saya terpaku adalah rasa penasaran. Apa sih hubungan cerita-cerita film ini? Inilah nilai jual utama Cloud. Di samping menyaksikan kemampuan bintang-bintangnya perankan multikarakter dalam satu film, saya pikir, film ini terlalu punya banyak bintang terkenal: Tom Hanks, Halle Berry, Ben Whishaw, Jim Sturgess, dll. Hampir di masing-masing plot mereka perankan sebuah karakter. Sebagai contoh, dalam Cloud si Tom Hanks memerankan 7 karakter.

Taruhlah Cloud sebagai sebuah hiburan fiksi-ilmiah, saya suka sekali dengan maraton petualangan mencari koneksi satu-sama-lainnya. Saya tak menuntut banyak kepadanya. [B+] 12/02/13

Senin, 11 Februari 2013

Resensi Film: The Sessions (2012)

Kalau pernah menonton film bukan tipikal Oscar (baca: festival dan penghargaan) tapi mampu menggerakkan, The Sessions merupakan satu contoh di antaranya. Sebuah film berdasar kisah nyata. Mark O’Brien, seorang penyair dan jurnalis yang seumur hidupnya terkulai berbaring lumpuh karena polio. Di usia kepala tiganya, ia ingin nge-sex. Film ini menyentuh di beberapa adegan sederhananya.

Blok-blok plot cuma segelintir. Mark rajin berkonsultasi ke pastur, ia diantar kemana-mana juga dirawat oleh beberapa perawat telatennya, dan ia menjalani sesi terapi seksual. Nah, yang terakhir ini menjadi fokus plot terpilih dari sekian banyak hal inspiratif dari Mark. Sebelum lakukan terapi seksual, ia curcol dan meminta pertimbangan kepada si pastur-sahabatnya. Di luar dugaan, opini pribadi si pastur memberinya lampu hijau.

Sex Surrogate, sebuah istilah baru buat saya. Ia merupakan profesi terapis seksual. Kalau mau tahu bedanya dengan profesi PSK, maka silakan saja Anda menonton film ini. Bagi yang antimenonton film telanjang, mungkin googling saja. Ada 6 pertemuan terapi yang bakal dijalani Mark, karakter terapisnya diperankan secara berani oleh Helen Hunt. Sesi terapi seksual yang harusnya berlangsung 6 kali jadi terhenti sampai menginjak pertemuan ke-4 saja. Ikatan rasa mulai bersemi, sebuah implikasi terlarang dari sebuah mekanisme profesional. Si terapis tak ingin merusak kehidupan pribadi rumah tangganya.

Seperti yang saya tulis di atas, beberapa adegan sederhananya menyentuh. Saya tersentuh, meski momen itu muncul dalam adegan-adegan kecil atau bahkan biasa sekali. Humor ringan pun ada di mana-mana. Saya bersyukur bisa mendapat film hiburan, semenghibur hati ini. Salut untuk mendiang Mark. Suatu inspirasi dari figur yang sebagian besar hidupnya terbaring di dalam iron lung. [B+] 11/02/13  

Resensi Film: The Master (2012)

Setelah kritikus Peter Travers dari RollingStone memberinya 4 bintang sempurna dan menyematkannya di peringkat tertinggi daftar 10 film terbaik tahun 2012, saya terang saja tertarik betul menikmatinya. Saya tak begitu jelas dengan sinopsis yang tersedia. Banyak kalangan yang menyebutkan plotnya terinspirasi dari “perguruan” Scientology. Saya belum bisa mengorelasikan antarkeduanya karena saya sendiri belum begitu pahan dengan paham/kepercayaan tersebut.

Yang membuat saya familiar dengan The Master adalah nama si strada, Paul Thomas Anderson (Magnolia). Ia selalu membuat karya-dalam bertema sosio-psikologis. Dan topik yang diangkat biasanya mewah, tak populer. Dalam The Master, ia mengangkat cerita perjalanan sepak-terjang ajaran baru alih-alih membuat sebuah agama baru. Pendekatan yang digunakan meliputi psikologi dan ilmiah. Masternya merupakan seorang multiprofesi lulusan universitas. Demi melanjutkan misinya, ia menggalang dana dari para donator kaya-raya dengan timbal-balik “iming-iming” penyembuhan sakit akut.

Dalam suatu kesempatan , secara kebetulan “klub” binaan si master punya penyusup baru. Seorang veteran pelaut era Perang Dunia II, pemabuk, dan serba tak jelas. Karakter ini diperankan secara luar biasa joz gandoz oleh Joaquin Phoenix. Ia dimaklumi oleh si master, tak dihukum karena telah menyusup (tanpa izin). Si master punya banyak ketertarikan dengannya. Hubungan antara si master dan si “pelayan” ini menjadi pokok kupasan film.

Saya merasa bersalah karena tak mau mendeskripsikan resensi ini sedalam filmnya. Beberapa adegan sangat intimidatif. Ibarat sebuah menu makanan, film ini sayuran berserat sangat tinggi. Ada yang cocok ada yang tidak. Hiburan paling mudah dinikmati dalam film ini yakni sinematografi elegan berselingi komposisi musik pencitra kekalutan gubahan Jonny Greenwood (Radiohead). [B+] 11/02/13

Jumat, 08 Februari 2013

Resensi Film: Django Unchained (2012)

Mas Quentin Tarantino… Sepertinya Anda sekarang sedang gandrung dengan sejarah. Dua film terakhir Tarantino mengambil fenomena historis: rezim Hitler (Inglorious Bastards) dan perbudakan USA (Django Unchained). Yang tak pernah hilang dari ciri khas tiap karyanya adalah kesintingan bin nyentrik. Semua aspek dimainkan: manuver plot, komposisi musik, desain produksi, dll. Herannya, makin ke sini karya-karya Tarantino berevolusi insyaf. Kian santun dan bersahaja—pada skalanya sendiri.

Ini satu kisah epik. Tentang budak bernama Django yang dilepas dari belenggu rantai. Oleh pembelinya, ia dibuat menjadi manusia bebas yang dimanusiakan di tengah era perbudakan-menjijikkan USA sekitar pertengahan abad ke-19. Ia dan pembebasnya bermitra sebagai tim bounty hunter (pembunuh bayaran). Itu pilihan-hidup bengis mereka, mendulang emas lewat jalan keji. Namun, mereka juga punya tujuan utama lain yang mulia: membebaskan isteri Django dari tirani tuan budak.

Film western berdurasi nyaris 3 jam ini sangat mudah dicerna. Sepanjang ingatan saya, bahkan ini film paling enteng dari Tarantino. Tak banyak simbol-simbol analogi atau metafora. Walau demikian, nilai yang diangkat Tarantino selalu membuat merinding. Kali ini ia buat film “dogmatis” antiperbudakan, yang akan relevan sampai kapanpun mengingat di beberapa penjuru bagian bumi ini masih saja berlangsung sistem perbudakan. Entah tertutup atau terbuka, baik dikemas apik maupun tidak.

Lelucon yang termudah ditebak dalam film ini adalah… Quentin Tarantino main sebagai cameo. Apa keisengan ini yang ditiru-tiru Hanung Bramantyo dalam beberapa karya filmnya? Okelah, tak masalah. Yang penting Django tetap membara tak tertindas otoritarian di balik pelecehan sapaan: “Nigger!”. [B/A] 08/02/13    

Kamis, 07 Februari 2013

Resensi Film: Les Miserables (2012)

Apa?! Dibuat lagi! Mau sampai kapan cerita kreasi Victor Hugo ini didaur-ulang. Di luar keagungan ceritanya, saya hanya tak berminat lagi keseringan menonton film adaptasi Les. Terakhir, saya tonton versi yang dibintangi Liam Neeson. Kagetnya lagi, yang sekarang ini merupakan versi musikal turunan dari seni pertunjukan panggung. Alamak, sudah adaptasian dari hasil adaptasi pula. Beranak-pinak. Dari buku, ke panggung, terus ke layar lebar. Kalau bukan karena stradanya Tom Hooper (The King’s Speech) dan dibintangi aktor-aktris tersohor, dijamin saya bakal tak mau membuang waktu senggang.

Tak perlu saya tulis sinopsisnya. Bagi siapa saja yang belum menonton Les (2012), siap-siap saja bakal disuguhi 2,5 jam penuh nyanyian, sangat minor dialog—mungkin tak lebih dari 5% total durasi. Sebuah pengalaman baru bagi saya. Tepuk tangan buat saya sendiri telah sukses mengkhatamkan film ini. Sinematografinya pun jelas memanjakan mata. Beberapa pengambilan gambar berasa seperti menyimak video klip mewah, meskipun berteknik hand-held. Lantas, apa yang paling spesial? Saya kira adegan Anne Hathaway ketika menyanyikan I Dreamed a Dream. Tonton saja dan Anda akan tahu apa yang saya maksud.

Komplain utama dari saya untuk Les (2012) adalah boros durasi. Secara keseluruhan saya rasa film ini lebay, tapi anggun setengah mati. Semua lini tak ada yang di bawah standar holiwut. Andai saja naskahnya berangkat dari skenario orisinil atau adaptasian yang jarang diadaptasi, pasti bakal beda komentarnya. Bakalan spektakuler mengingat penonton akan menemui percikan kejutan plot. Jadinya kita bukan sekadar saksikan kemasan ulang dari sebuah cerita yang kelewat popular mendunia. Maksud saya, lantas tujuan utama dan ambisi apa yang ingin dicapai produksi film kolosal ini selain dari menyuguhkan kemasan lain? [B+] 07/02/13