Senin, 15 Oktober 2012

Resensi Film: The Cabin in the Woods (2012)

Lama saya tak menikmati film tegang (tanpa tanda kutip). Judul film ini saya dapatkan lewat rekomendasi teman dan sekilas membaca hasil konsensus kritikus film. Terakhir saya menyaksikan film berintensitas tinggi mungkin The Raid: Redemption. Itu pun tak bersinggungan dengan hantu-hantuan. Kali ini saya menyiapkan diri untuk cicipi sensasi deg-deg-ser sedikit-sedikit buang pandangan. Setidaknya itu bayangan saya sebelum memutar The Cabin.

Saya temui kesulitan menuliskan sinopsis film ini karena tak ingin menghancurkan unsur kejutannya. Tahu sendiri, film horor yang paling bisa dibanggakan ya dari segi kagetan-kejutannya. Begini saja, terkisahlah sekelompok remaja yang menghabiskan suatu akhir pekan mereka di sebuah gubug terpencil. Mereka belum pernah ke sana sebelumnya, dan tak disangka-sangka petualangan demi petualangan “mengerikan” bakal mereka dapatkan di sana.

Percayalah, kalau sinopsis yang saya paparkan di atas terlalu sederhana dan masih ada ide besar lagi yang membungkusnya. Nah, ide inilah yang membuat sebagian besar kritikus film dan penggila film horor dibuat terkesima oleh The Cabin. Saya ibaratkan bahwa ide tersebut yakni kawinan The Truman Show dengan Zombieland (minus kandungan humor). Seperempat kedua bagian film, saya cukup tertegangkan dengan prasangka dan dugaan yang aneh-aneh. Namun setelah pertengahan film, saya mulai tak paham bagaimana cara nikmati kejutan demi kejutannya.

Hingga pada saatnya saya menyadari bahwa film ini menawarkan sesuatu yang baru dalam rekam jejak genre horor. Saya apresiasi atas hal ini. Namun, masih ada tapinya dari saya. Bagi saya, film horor terlanjur dianggap menaruh perhatian utama di adegan kejutan dan ending atau klimaks yang menyesakkan. Dan The Cabin lumayan kurang mewakili pernyataan tersebut. Kalau saya ditanya, “apakah The Cabin merupakan film thriller ala wiken remaja berskenario inovatif?” maka saya jawab, “100%, iya!” [B] 15/10/2012           
    

Kamis, 11 Oktober 2012

Resensi Film: K vs K - Kita Versus Korupsi (2012)

Empat film cerita pendek, dirangkum dalam 1 film, bertemakan korupsi, persembahan KPK cs. Tak ada yang luar biasa, macam versi panjangnya iklan satir produsen rokok. Minim joke, kurang simple. Saya rasa, kita sebagai WNI sudah cukup kebal dengan sentuhan kisah-kisah dalam film ini. Dosisnya perlu ditambah. Saya membayangkan seandainya saja salah satu film pendek dalam film ini bisa mendeskripsikan moment of truth di salah satu pojok layanan pemerintah, baik yang bersih maupun yang kotor. [C+] 11/10/12

Selasa, 09 Oktober 2012

Resensi Film: Moonrise Kingdom (2012)

Hore… ada film bocah pilihan buat ditonton. Eits, nanti dulu. Hanya karena Moonrise Kingdom didominasi oleh karakter anak-anak, bukan berarti tingkat pangsa pasarnya kalangan anak juga. Belum lagi kita tahu catatan penyutradaraan Wes Anderson yang sempat memproduksi Fantastic Mr. Fox. Kalau Anda sudah pernah menonton film animasi Fantastic, maka Moonrise bisa dikatakan sebagai versi manusianya. Resep racikannya hampir mirip. Nah loh!

Tak perlu resah, tak perlu gundah. Ini macam film petualangan bocah-bocah juga walaupun beda jenis dengan Petualangan Sherina. Kisahnya tentang dua bocah anomali cewek-cowok yang tak cukup mampu berdamai dengan lingkungan sekitar, setnya berlokasi di sebuah kawasan pulau terpencil. Si cowok melarikan diri dari regu pramukanya, sedang si cewek minggat dari rumah. Semua dilakukan secara diam-diam, tak ada yang tahu. Mereka bertemu dan meresmikan rasa cinta satu sama lain… Ya elah, film bocah segini dewasanya (gumam saya).

Sejak ide itulah, saya langsung menyesuaikan diri untuk tak terlalu berharap bahwa ini bukan film keluarga musim liburan. Di samping juga banyak beterbangan kata “umpatan mukjizat” terlontar dari mulut bocah-bocah di dalamnya. Walaupun ini bukan naskah hasil adaptasi, namun saya merasa sangat terinsipirasi oleh karya Roald Dahl (Charlie and the Chocolate Factory), menampilkan kerumitan masalah orang dewasa lewat figur bocah tanpa proses penyederhanaan.

Durasi sangat bersahabat, yakni 1,5 jam. Desain produksi chibi-chibi. Sinematografi lumayan sedap dipandang. Cerita tak susah-susah dicerna. Musik gubahan si produktif Alexander Desplat cukup nyaman didengar. Akting, yah sedang-sedang sajalah. Minimal ada banyak bintang besar di dalamnya (Bruce Wilis, Edward Norton, Bill Murray, dll). Bagi saya, yang kurang adalah efek dramatisasi. Ini lebih menyerupai film kelam yang dikemas ala buku dongeng anak-anak. Nampak jelas sekali Moonrise bukan film bagi penonton bermental kanak-kanak. [B] 09/10/12   

Minggu, 07 Oktober 2012

Resensi Film: Magnolia (1999)

Sengaja saya niatkan diri memilih film ini untuk ditonton karena penasaran setelah membaca hasil-hasil resensi oke punya dari The Master yang sedang tayang di bioskop USA. Stradanya adalah Paul Thomas (P.T.) Anderson. Selidik punya selidik, ternyata saya pernah menonton karyanya berjudul Punch-Drunk Love. Ketika mulai memutar Magnolia dan melihat pojok panel durasi 3 jamnya, spontan saya terkejut dan agak ragu akan bisa menikmatinya.

Dalam pembuka film, seorang narator mengoceh percaya diri menjelaskan ide-idenya tentang kebetulan demi kebetulan dan kejadian cukup mengerikan. Saya belum bisa menangkap apapun itu hingga tibalah pada kisah-kisah di luar narasi verbal. Saya bilang “kisah-kisah” di sini karena Magnolia merupakan film multiplot. Tak cukup hanya dua atau tiga cerita paralel, namun lebih dari 5 plot. Saya takkan menghitungnya. Pokoknya lumayan banyak untuk sebuah ukuran film drama lepas. Sadisnya lagi, semua itu berlangsung selama 3 jam lebih. Saya pikir film drama nonkolosal berdurasi segini panjang sangat bisa dihitung jari. Dan Magnolia ini bukan film kolosal. Ia bukan The Godfather: Trilogy, Titanic, dan sejenisnya.

Lalu, tentang apakah Magnolia gerangan? Secara keseluruhan, fragmen-fragmen yang ada di dalamnya berkeinginan menyatukan sebuah ide utama yakni peristiwa berbasis kebetulan, persimpangan, dan kesempatan. Drama-drama di dalamnya berlatar dari pelbagai perspektif. Misal, ada dua jenius program kuis TV dari dua generasi yang berbeda. Dikisahkan bagaimana mereka berdua disudutkan pada posisi dalam skala popularitas yang memaksa mereka untuk selalu maju dan menjadi nomor satu. Lainnya, ada pengakuan dari 2 pria paro baya yang mengejutkan tentang masa lalunya. Dan masih banyak lagi parade drama kegalauan hidup yang sedang dihadapi masing-masing karakter dalam Magnolia.

Lalu, apa titik-titik istimewanya? Mari kita coba ungkap satu per satu: 1) Akting. Sungguh luar biasa saya melihat pemeranan masing-masing pemain. Awalnya memang sempat terkesan terlampau meledak-ledak namun berangsur terkesan nyata. Di sini saya melihat Tom Cruise sangat menikmati perannya sebagai motivator kejantanan pria; 2) Musik. Sebenarnya tak ada iringan spesial dari komposer Jon Brion, namun pilihan-pilihan lagu dari Aimee Mann tepatlah sasaran. Hingga ada satu adegan di mana semua karakter bernyanyi lagu Wise Up (It’s Not Going to Stop)-nya Aimee Mann secara terpisah tanpa terkesan wagu (aneh, tidak pas); 3) Skenario. Terpujilah naskah drama bertumpuk ini, ketika mampu membangun bagian klimaksnya bertahan selama lebih dari setengah jam di fase pertengahan film. Ketegangan menghenyakkan tak saya terima memang, namun intensitas kegentingan satu adegan dan adegan lainnya solid tercipta secara bersamaan dan susul-menyusul berkesinambungan.

Inefektivitas durasi pada Magnolia tak mengurangi daya pikatnya untuk dinikmati secara marathon. Saya tak segan memberi selamat kepada P.T. Anderson yang telah secara diam-diam menghanyutkan sulap Magnolia menjadi sebuah drama multisensasional dengan ide penutup cerita yang cukup menggelikan sekaligus menyebalkan dalam bingkai ide berselera humor tinggi ala karya novel. [B/A] 06/10/12

Rabu, 03 Oktober 2012

Resensi Film: Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)

Satu lagi bukti ketidakcocokan saya dengan hasil konsensus para kritikus film terhadap sebuah karya. Sekuel dari Sherlock Holmes-nya Guy Ritchie ini termasuk salah satunya. Adaptasi novel dan figur fiktif kesohor pasti menghasilkan sensasi harap-harap cemas berbagai pihak. Satu sisi menginginkan karakter sesuai interprestasi konservatif, sedangkan pihak-pihak lainnya menawarkan argumentasi masing-masing. Namun di sini saya salut dengan keteguhan Guy Ritchie dalam mengambil alih eksekusi interpretasi karakter Sherly yang dibintangi Robert Downey Jr.

Plot sekuel Sherlock ternyata di luar dugaan saya. Di sekuel inilah, jalan cerita yang dipilih yakni tatkala cerita Sherly berakhir. Apa?! Kisah detektif-detektifannya masih digarap seperti versi pemulanya. Cepat, bergaya, jenaka, dan kelam. Dalam sekuel ini titik beratnya ada di paro akhir, yang mana paro awalnya kurang bersahabat terhadap penonton. Film bergulir cepat, tak peduli apakah penontonnya sudah paham atau sudah mengalami proses internalisasi plot dan karakter apa belum. Sedikit demi sedikit penonton akan memahami alurnya. Kasus yang ditangani cukup besar. Ada kesintingan profesor terkenal dalam menguasai sumber-sumber daya yang dapat memicu perang dunia. Gejala-gejala prematurnya adalah mengambinghitamkan sepak terjang kaum anarkis di Eropa. Ketika kebanyakan orang berhipotesis umum, maka Sherly punya argumen lain.

Tadi sempat saya jelaskan kalau sekuel ini merupakan akhir cerita Sherly. Itu karena pilihan plotnya menyangkut kisah tewasnya Sherly di Swiss. Saya tidak coba membuatnya tak seru dengan menuliskan seperti ini, karena sudah banyak orang tahu tentang hal ini, di Swiss saja sampai ada museum Sherlock Holmes. Dalam sekuel ini Guy Ritchie berani membubuhkan “?” pada tulisan THE END. Dari sini saya tangkap bahwa Ritchie agak ingin “nakal, anormatif, antimenye-menye, bahkan alergi melodrama”. Saya cukup terpuaskan dengan momen baku tembak di tengah belantara hutan ketika kawanan Sherly melarikan diri. Sinematografi dan penyuntingan gambarnya bak sebuah theatrical trailer sebuah film. Saya apresiasi itu, karena bagi saya Sherly milik Ritchie lebih merupakan film aksi komedi berkedok kisah detektif. Bagi para penggemar Sherly (buku) mungkin bisa jadi mereka mencak-mencak terhadap karya ini. Tak mengapa. Yang jelas, Guy Ritchie sudah menjadi sutradara dalam artian punya otoritas-sentuh terhadap hasil karyanya. [B] 03/10/12   

Selasa, 02 Oktober 2012

Resensi Film: Arbitrage (2012)

Beruntungnya saya bisa mendapat unduhan film ini dari warnet, padahal masih baru kinyis-kinyis. Di bioskop Indonesia pun belum tayang. Bukan sebuah judul film yang terkenal memang, namun terdengar lumayan di kalangan peresensi film di USA. Terhitung sejak awal tahun hingga menjelang akhir tahun ini masih belum kelihatan film-film dominan atau terpuja-puji. Sebut saja, di tahun ini baru ada The Master arahan Paul Thomas Anderson yang menempati keranjang troli film pujaan.

Film ini dibintangi aktor kawakan Richard Gere yang konon (katanya) pembuat meler para kaum hawa. Yah, saya manut saja kalau begitu. Tentang apa? Nah, kalau dalam ulasan Still Walking saya bilang Asia “megang” untuk film-film drama emosional berbasis kehidupan keluarga, maka di sini saya mau bilang kalau Hollywood “megang” untuk film-film drama politik. Arbitrage sebenarnya bukan drama politik murni memang, karena benang merah utamanya adalah tindak kriminal. Ketika seorang pengusaha kaya raya berskala model sampul majalah Forbes—diperankan secara konstan oleh Tuan Gere—dihadapkan pada suatu kejadian kecelakaan mobil tunggal. Kecelakaannya bukan menjadi masalah utama, namun di dalamnya ia sedang bersama PIL (perempuan idaman lain) yang tewas di tempat saat kejadian. Tak mau berurusan dengan hukum, seketikalah ia melenyapkan semua bukti atas nama berbagai motivasi semisal khawatir kejadian tersebut akan memengaruhi bisnis dan kehidupan rumah tangganya.

Film ini mengingatkan saya pada beberapa film drama politik produksi Hollywood umumnya, sebutlah salah satunya The Ides of March. Tak banyak kebaruan di dalamnya. Hanya saja, sejak penampilan judul film saya terbawa oleh nuansa iringan musik gubahan Clint Mansell. Nah, perlu saya beberkan pula bahwa ada satu hal yang sangat menarik dalam film ini. Yakni pilihan eksekusi ending film. Cukup mudah ditebak memang terkait apa yang bakal dihadapi oleh karakter Tuan Gere di akhir film, namun saya sangat setuju dengan pilihan yang ada dalam film ini. Seolah-olah mengingatkan kita pada keseimbangan ganjaran bagi masing-masing karakter di dalamnya, supaya penonton tidak “dikecewakan” dengan gerundelan selepas menonton film seperti: “ah, curang… masa’ dia yang melakukan kejahatan tidak tersentuh siapa dan apapun”. Arbitrage tipikal film yang mampu menebus tuntas segala kebiasaan awal hingga tengah film ketika penonton menemui bagian akhirnya. Tontonlah hingga tuntas, kalau begitu. [B] 02/10/12