Rindu menonton film natural disaster? Bagi saya film yang akan saya ulas di sini serupa tapi tak sama. Ceritanya tentang sebuah virus mematikan yang belum pernah teridentifikasi dan dalam deret hitung yang semakin meningkat merenggut nyawa penduduk muka bumi. Diawali dari eksekutif mudi asal USA yang sedang dinas ke Hong Kong, diikuti korban terpapar lainnya lintas benua. Alur film kemudian memperlihatkan aksi kejar-kejaran antara paparan penyakit, investigasi dan eksperimen virus, terror penularan, hingga (formula utama film disaster) campur tangan politis dari pemerintah.
Dengan alunan elektronik pemompa adrenalin, film meloncat-loncat dari satu adegan ke adegan lain menjemput jalinan sub-subplot. Sejak perempat bagian awal penonton diajak ikut mengejar jawaban. Khusus paro awal, saya bilang film ini berhasil mengait ke rasa penasaran audiensnya. Saat menjelang paro film, seakan-akan mulai diinterupsi macam filler yang membuat intensitas ketegangan cerita menurun. Katakanlah salah satu adegannya yakni chaos khas adegan penjarahan film-film zombie.
Yang membuat kelemahan lainnya, bagi saya, adalah bertaburannya bintang kelas wakhid macam Kate Winslet, Matt Damon, dkk. yang amat disayangkan agak mubadzir mengingat kualitas akting mereka tak mampu dieksploitasi lebih karena sulaman plot yang kurang rekat. Kalau saja hasil film seperti ini diproduksi oleh strada debutan, mungkin harapan dan ulasan akan berkata lain. Namun ini hasil karya Steven Soderbergh yang telah membidani keintiman Sex, Lies, and Videotape dan penginspirasi Erin Brockovich.
PR bagi Soderbergh semoga lain kesempatan mampu mengemas film multiplot lebih ciamik. Ada kekhasan berupa kejutan bagi penonton yang sebenarnya ingin dimentahkan oleh Soderbergh dalam film ini. Yakni tentang tebakan dari mana asal virus dan kemungkinan adanya konspirasi di belakang epidemik yang terjadi. Namun karena disajikan secara biasa dan bisa didapatkan dari film-film lain, maka tak ada hal yang menarik. [B-] 09/01/12
Senin, 09 Januari 2012
Jumat, 06 Januari 2012
Resensi Film: Driving Miss Daisy (1989)
Kangen menonton film klasik santai bak di atas ayunan, menjilati es krim lembut vanilla McDonald’s, atau mengayuh sepeda ria? Coba Anda tonton Driving Miss Daisy. Sebuah film adaptasi drama panggung tentang komunikasi antara majikan jompo Yahudi dan sopir tua negro yang berujung pada persahabatan menentramkan. Memang, ini film jadul tapi masih sangat nyaman ditonton dengan warna kekuningan khas kisah tempo doeloe.
Si majikan terkenal keras kepala, pelit-perhitungan, kaku, semua dalam satu wadah kata “menjengkelkan”. Bahkan putera kandungnya sendiri mengamini karakter bundanya itu. Setelah kejadian salah masuk gigi mobil ketika sang Ibu menyopiri sendiri yang berakhir dengan sebuah kecelakaan menggelikan, si anak mencari sopir yang telaten dan sabar meladeni bundanya. Muncullah karakter brilian sopir negro yang diperankan oleh Morgan Freeman.
Interaksi si majikan rewel dengan sopir banyak omong ini melahirkan pengalaman cukup fantastis dengan segala kejutan kecil manisnya. Beberapa kejadian mengundang tawa yang benar-benar timbul pada saat yang tak diharapkan. Sekalipun adegan-adegan yang ada di dalamnya merupakan potret kejadian kecil dalam keseharian, namun justru itulah yang membuat Driving mengasyikkan. Kadang seperti kita berada dalam percakapan keluarga sendiri. Tahu sendiri kan, pasti dalam sebuah keluarga besar ada yang jadi bulan-bulanan bahan gossip atau figure idola.
Sentuhan personal intim dalam film ini (lagi-lagi) memigura persahabatan tulus antaranak manusia berbeda latar belakang secara indah dan jujur. It’ll left us feel sorry even sad about any primordial frictions have happened. [B+] 06/01/12
Si majikan terkenal keras kepala, pelit-perhitungan, kaku, semua dalam satu wadah kata “menjengkelkan”. Bahkan putera kandungnya sendiri mengamini karakter bundanya itu. Setelah kejadian salah masuk gigi mobil ketika sang Ibu menyopiri sendiri yang berakhir dengan sebuah kecelakaan menggelikan, si anak mencari sopir yang telaten dan sabar meladeni bundanya. Muncullah karakter brilian sopir negro yang diperankan oleh Morgan Freeman.
Interaksi si majikan rewel dengan sopir banyak omong ini melahirkan pengalaman cukup fantastis dengan segala kejutan kecil manisnya. Beberapa kejadian mengundang tawa yang benar-benar timbul pada saat yang tak diharapkan. Sekalipun adegan-adegan yang ada di dalamnya merupakan potret kejadian kecil dalam keseharian, namun justru itulah yang membuat Driving mengasyikkan. Kadang seperti kita berada dalam percakapan keluarga sendiri. Tahu sendiri kan, pasti dalam sebuah keluarga besar ada yang jadi bulan-bulanan bahan gossip atau figure idola.
Sentuhan personal intim dalam film ini (lagi-lagi) memigura persahabatan tulus antaranak manusia berbeda latar belakang secara indah dan jujur. It’ll left us feel sorry even sad about any primordial frictions have happened. [B+] 06/01/12
Kamis, 05 Januari 2012
Resensi Film: Crazy, Stupid, Love. (2011)
Inilah versi simple dan alainya si klasik American Beauty. Gara-gara tak sabar menahan kata “minta cerai”, hidup rumah tangga sejoli soulmate menjadi CRAZY dan STUPID. Biar saya ceritakan secara sederhana ceritanya:
1) Isteri minta cerai karena selingkuh dengan kolega ketika suaminya dirasa telah kehilangan ruh sebagai suami.
2) Putera sejoli ini yang berusia 13 tahun jatuh cinta dan berfantasi terhadap babysitter-nya.
3) Si babysitter mengidolakan si majikan (suami yang akan diceraikan).
4) Si suami sering pergi ke bar dan bertemu dengan pria metroseksual yang prihatin terhadapnya dan berminat membantu temukan ulang “kepriaan” si suami.
5) Si pria metroseksual tiba-tiba jarang ke bar dan ternyata “tobat” karena jatuh cinta riil terhadap seorang gadis.
6) Dan beberapa subplot lainnya.
Bayangkan saja semua premis kecil di nantinya bertatapan muka secara frontal satu sama lain dalam sebuah adegan klimaks yang absurd, menggelikan, dan memalukan. Mengada-ada sekali memang, tapi tunggu dulu poin plusnya…
Ketika sebuah sitkom berhasil memilih kejadian kolokial dan mengolok-olok hal tersebut, maka ia bisa menjadi komedian berdiri (stand-up comedy) yang memancing tawa karena menempatkan diri sebagai obyek lelucon. Selanjutnya kita akan memakluminya sebagai canda gurau yang ringan tapi mengendapkan renungan setelah spontanitas tawa. Itulah Crazy, Stupid, Love. yang tak kalah galau dari guyon ala pantun masa kini. Di dalamnya ada adegan Bollywood banget, “ngejablai” memang. Tapi karena ia mau diolok-olok, jadinya tak pantas dikecam deh… Ini kisah drama komedi keluarga yang amburadul dikemas tak amburadul, bahkan menghibur. [B] 05/01/12
1) Isteri minta cerai karena selingkuh dengan kolega ketika suaminya dirasa telah kehilangan ruh sebagai suami.
2) Putera sejoli ini yang berusia 13 tahun jatuh cinta dan berfantasi terhadap babysitter-nya.
3) Si babysitter mengidolakan si majikan (suami yang akan diceraikan).
4) Si suami sering pergi ke bar dan bertemu dengan pria metroseksual yang prihatin terhadapnya dan berminat membantu temukan ulang “kepriaan” si suami.
5) Si pria metroseksual tiba-tiba jarang ke bar dan ternyata “tobat” karena jatuh cinta riil terhadap seorang gadis.
6) Dan beberapa subplot lainnya.
Bayangkan saja semua premis kecil di nantinya bertatapan muka secara frontal satu sama lain dalam sebuah adegan klimaks yang absurd, menggelikan, dan memalukan. Mengada-ada sekali memang, tapi tunggu dulu poin plusnya…
Ketika sebuah sitkom berhasil memilih kejadian kolokial dan mengolok-olok hal tersebut, maka ia bisa menjadi komedian berdiri (stand-up comedy) yang memancing tawa karena menempatkan diri sebagai obyek lelucon. Selanjutnya kita akan memakluminya sebagai canda gurau yang ringan tapi mengendapkan renungan setelah spontanitas tawa. Itulah Crazy, Stupid, Love. yang tak kalah galau dari guyon ala pantun masa kini. Di dalamnya ada adegan Bollywood banget, “ngejablai” memang. Tapi karena ia mau diolok-olok, jadinya tak pantas dikecam deh… Ini kisah drama komedi keluarga yang amburadul dikemas tak amburadul, bahkan menghibur. [B] 05/01/12
Resensi Film: Drive (2011)
Bisa jadi film ini termasuk underdog di tahun 2011. Melihat konsensus kritikus film yang kebanyakan menyukainya, tentu memunculkan rasa penasaran. Film tentang apakah ini? Sinopsis belum saya baca, namun ada satu hal yang membuat saya “agak” percaya kebagusan film ini. Ya, diperankan Ryan Gosling yang notabene nampak selektif memilih film. Sebut saja film-film dia yang menghiasi tahun 2011 seperti The Ides of March dan Crazy, Stupid, Love.
Sampai film habis, saya tak tahu (ataupun karena saya yang kurang cermat) siapa nama si sopir karakter utama film. Tak dijelaskan apa latar belakangnya, tahu-tahu saja ia bekerja di sebuah bengkel, tinggal di flat, kerja sampingan sebagai stunt-man driver, bertetangga dengan wanita cantik beranak yang sedang tak tinggal bersama suaminya karena dipenjara. Wajahnya yang dingin, datar, dan jarang berkedip mata membuat misteri karakternya semakin menjadi-jadi. Gestur dan gerak-geriknya susah diterka, apakah ia pria yang baik atau jahat. Sebuah pujian patut dialamatkan untuk Gosling. Kisah menjadi kian jelas ketika si karakter utama terlibat dalam sebuah asmara dan kejadian misi perampokan yang tersabotase.
Film berproduksi desain era 80-an ini awalnya tenang, laten, dan seolah-olah menunggu bom waktu. Lewat sorotan panorama vertikal ke bawah dari atas pencakar langit Los Angeles (kalau tak salah) di malam hari, sentuhan sinematografi mencekam nan bergaya pun terbangun, lebih-lebih diselimuti musik latar techno bertensi waspada. Tanda tanya, tanda tanya, tegang, tegang, dan darah kental. Itu yang saya deskripsikan untuk plot Drive. Dalam beberapa hal mengingatkan kembali pada No Country for Old Men & Collateral. Bagi saya pribadi yang secara selera tak begitu menyukai film jenis ini, mmm… Drive cukup misterius. [B+] 05/01/11
Sampai film habis, saya tak tahu (ataupun karena saya yang kurang cermat) siapa nama si sopir karakter utama film. Tak dijelaskan apa latar belakangnya, tahu-tahu saja ia bekerja di sebuah bengkel, tinggal di flat, kerja sampingan sebagai stunt-man driver, bertetangga dengan wanita cantik beranak yang sedang tak tinggal bersama suaminya karena dipenjara. Wajahnya yang dingin, datar, dan jarang berkedip mata membuat misteri karakternya semakin menjadi-jadi. Gestur dan gerak-geriknya susah diterka, apakah ia pria yang baik atau jahat. Sebuah pujian patut dialamatkan untuk Gosling. Kisah menjadi kian jelas ketika si karakter utama terlibat dalam sebuah asmara dan kejadian misi perampokan yang tersabotase.
Film berproduksi desain era 80-an ini awalnya tenang, laten, dan seolah-olah menunggu bom waktu. Lewat sorotan panorama vertikal ke bawah dari atas pencakar langit Los Angeles (kalau tak salah) di malam hari, sentuhan sinematografi mencekam nan bergaya pun terbangun, lebih-lebih diselimuti musik latar techno bertensi waspada. Tanda tanya, tanda tanya, tegang, tegang, dan darah kental. Itu yang saya deskripsikan untuk plot Drive. Dalam beberapa hal mengingatkan kembali pada No Country for Old Men & Collateral. Bagi saya pribadi yang secara selera tak begitu menyukai film jenis ini, mmm… Drive cukup misterius. [B+] 05/01/11
Rabu, 04 Januari 2012
Resensi Film: Moneyball (2011)
Saya tak tahu betul tentang bisbol, saya tak kenal nama-nama klubnya, pun pemain-pemain bertalenta nan bekennya. Tapi saya enjoy pol menonton Moneyball. Bukan karena kisah heroic gimmick pertandingan yang berakhir kemenangan di dalamnya, melainkan proses yang berlangsung dan didapat. Jangan kira Moneyball bakal menyuguhi detail realistik dinamika permainan bisbol di lapangan, tengok saja judulnya. BOLA UANG. Sebaiknya kita menerka dulu, apa maksud dari judul itu. Sejak pembukaan film, tentu kita akan tersadarkan bahwa film ini akan berurusan dengan set angka. Mohon jangan mengernyit dulu, minimal biarkan ia menghibur Anda selama minimal 10 menit dan saya yakin film ini bakal mengunci keseimbangan Anda untuk terus menonton hingga rampung, khususnya bagi para penikmat film drama.
Pitt memerankan karakter manajer sebuah klub bisbol papan bawah yang miskin (uang juga prestasi). Momen keemasan terakhir klubnya terpaksa gagal mencapai klimaks ketika klub besar sukses menggilas timnya. Pada musim bursa transfer pemain berlangsung, para pemain gacoan mereka dibeli klub-klub kaya. Itulah potret dunia olahraga profesional sekarang yang makin kapitalistik. Lalu, Pitt bermanuver merekrut pemuda lulusan gress dari Yale jurusan ekonomi. Tugasnya mencari pemain bak pencari bakat, namun lewat keahliannya dalam meramu data-data statistik. Sungguh sebuah metode pengolahan klub yang ekstrem dan banyak ditentang oleh para penggiat bisbol, karena melalui metode ini manusia seolah-olah diangkakan dan cenderung menihilkan intuisi dan hal-hal semacamnya.
Selain menyoal kebangkitan klub, film ini menyorot sisi personal karkater yang diperankan Pitt. Bagaimana latar belakang dia, kenapa bisa sampai menjadi manajer umum klub bisbol, dan kehidupan rumah tangganya. Semua dirangkum tanpa menjadi komoditas tontonan mehek-mehek dan overdramatis. Olah penyutradaraan ini bisa jadi karena si strada beriwayatkan menghasilkan karya-karya dokumenter dan berkisah tokoh nyata. Namun yang paling membuat saya tersodok adalah ketika film ini mencoba-sajikan tema tentang bagaimana kita memenangkan permainan (bisbol dan hidup) dengan tanpa mendewakan uang. Tema seperti ini nancep dan relevan sekali dengan iklim dunia sekarang (baca: kapitalistik) ini. Apa-apa bisa dibeli uang, sekalipun kemenangan. Kita tak sadar bahwa dengan menang lewat uang, nilainya jauh lebih semu dan sintetis ketimbang kita menang lewat prestasi.
Untuk sementara ini, menurut saya Moneyball bisa jadi salah satu kandidat kuat nominasi best picture Oscar 2012. Plot intens, editing solid, dengan konstruksi emosi terkontrol. Walaupun berset klub bisbol dengan segala ceruk kejadian di belakang layarnya, Moneyball secara gemilang memaknai kembali arti uang. [A-] 04/01/12
Pitt memerankan karakter manajer sebuah klub bisbol papan bawah yang miskin (uang juga prestasi). Momen keemasan terakhir klubnya terpaksa gagal mencapai klimaks ketika klub besar sukses menggilas timnya. Pada musim bursa transfer pemain berlangsung, para pemain gacoan mereka dibeli klub-klub kaya. Itulah potret dunia olahraga profesional sekarang yang makin kapitalistik. Lalu, Pitt bermanuver merekrut pemuda lulusan gress dari Yale jurusan ekonomi. Tugasnya mencari pemain bak pencari bakat, namun lewat keahliannya dalam meramu data-data statistik. Sungguh sebuah metode pengolahan klub yang ekstrem dan banyak ditentang oleh para penggiat bisbol, karena melalui metode ini manusia seolah-olah diangkakan dan cenderung menihilkan intuisi dan hal-hal semacamnya.
Selain menyoal kebangkitan klub, film ini menyorot sisi personal karkater yang diperankan Pitt. Bagaimana latar belakang dia, kenapa bisa sampai menjadi manajer umum klub bisbol, dan kehidupan rumah tangganya. Semua dirangkum tanpa menjadi komoditas tontonan mehek-mehek dan overdramatis. Olah penyutradaraan ini bisa jadi karena si strada beriwayatkan menghasilkan karya-karya dokumenter dan berkisah tokoh nyata. Namun yang paling membuat saya tersodok adalah ketika film ini mencoba-sajikan tema tentang bagaimana kita memenangkan permainan (bisbol dan hidup) dengan tanpa mendewakan uang. Tema seperti ini nancep dan relevan sekali dengan iklim dunia sekarang (baca: kapitalistik) ini. Apa-apa bisa dibeli uang, sekalipun kemenangan. Kita tak sadar bahwa dengan menang lewat uang, nilainya jauh lebih semu dan sintetis ketimbang kita menang lewat prestasi.
Untuk sementara ini, menurut saya Moneyball bisa jadi salah satu kandidat kuat nominasi best picture Oscar 2012. Plot intens, editing solid, dengan konstruksi emosi terkontrol. Walaupun berset klub bisbol dengan segala ceruk kejadian di belakang layarnya, Moneyball secara gemilang memaknai kembali arti uang. [A-] 04/01/12
Senin, 02 Januari 2012
Resensi Film: 50/50 (2011)
Ingatkah Anda kapan terakhir kali melihat film berceritakan bagaimana orang terpapar sakit kronis bertahan hidup? Yang saya ingat a.l. The Bucket List juga Sea Inside. Paling tidak, dua judul tersebut yang belum lama sekali saya tonton. Mungkin apabila Anda mengikuti Surat Kecil untuk Tuhan mungkin itu menjadi rilisan terbaru. Sayang sekali saya belum menontonnya. Film-film tipikal ini hampir selalu menggugah dan menginspirasi kalau tidak malah jadi menjemukan laiknya The Bucket List.
Katakanlah terdapat beberapa formula: (1) vonis dari dokter; (2) kisah cinta romantis; (3) kebersamaan keluarga yang kian erat; (4) sahabat setia menemani. Nah, 50/50 pun menyuguhkan semua formula itu. Lalu, adakah keistimewaan di dalamnya? Aha! Daftar pemerannya? Bukan. Ya, kewajaran penggambaranlah yang menjadi kelebihan 50/50. Dibintangi oleh pemeran cowok dalam (500) Days of Summer membuat saya langsung mengendus aroma serupa dengan karakter agak cupu, lempeng, serta tak lihai dalam urusan cinta.
Bersama karibnya ia bekerja sebagai kontributor di sebuah radio. Ia tak punya SIM, jadi tak punya kendaraan pribadi, serta punya pacar tinggal serumah yang tak disukai karibnya. Pada suatu saat terasa sakit di punggungnya dan setelah didiagnosis dokter ternyata ia mengidap kanker langka dan persentase kesempatannya bertahan 50%. Dan itulah mengapa judul film ini 50/50. Bukan suatu jenis bantuan dalam kuis waralaba internasional.
50/50, film menyenangkan. Saya kangen mendapat sensasi penuh kebersamaan seperti dalam film ini. No political feeling, pure humanic arouse. [B] 02/01/12
Katakanlah terdapat beberapa formula: (1) vonis dari dokter; (2) kisah cinta romantis; (3) kebersamaan keluarga yang kian erat; (4) sahabat setia menemani. Nah, 50/50 pun menyuguhkan semua formula itu. Lalu, adakah keistimewaan di dalamnya? Aha! Daftar pemerannya? Bukan. Ya, kewajaran penggambaranlah yang menjadi kelebihan 50/50. Dibintangi oleh pemeran cowok dalam (500) Days of Summer membuat saya langsung mengendus aroma serupa dengan karakter agak cupu, lempeng, serta tak lihai dalam urusan cinta.
Bersama karibnya ia bekerja sebagai kontributor di sebuah radio. Ia tak punya SIM, jadi tak punya kendaraan pribadi, serta punya pacar tinggal serumah yang tak disukai karibnya. Pada suatu saat terasa sakit di punggungnya dan setelah didiagnosis dokter ternyata ia mengidap kanker langka dan persentase kesempatannya bertahan 50%. Dan itulah mengapa judul film ini 50/50. Bukan suatu jenis bantuan dalam kuis waralaba internasional.
50/50, film menyenangkan. Saya kangen mendapat sensasi penuh kebersamaan seperti dalam film ini. No political feeling, pure humanic arouse. [B] 02/01/12
Resensi Film: The Yellow Sea (2010)
Mmm, karena menonton film ini saya baru tahu kalau ada isu sosial sensitif di perbatasan Rusia-Cina-Korea. Daerah ini terapit raksasa-raksasa ekonomi namun kondisinya miskin dan menyisakan banyak perkerjaan rumah. Sungguh sebuah prolog yang tegas dan tepat sasaran digambarkan The Yellow Sea. Lewat lakon satu pemeran utama, film ini menguraikan perjuangan mengarungi hidup dalam himpitan pelbagai masalah: hutang yang hampir mustahil dilunasi, merasa dikhianati isteri, serta kurangnya dukungan dari keluarga.
Adalah si karakter utama asal perbatasan tersebut yang kemudian bertemu pihak penawar “kerja sama” penebusan hutang lewat perantara debitur. Syarat yang diajukan adalah membunuh seseorang di Korea Selatan. Tawaran yang sangat menggiurkan tentunya namun mengorbankan integritas diri. Merasa tersudutkan dan tak ada pilihan lain, pilihan pun disambut. Tak sadar, secara tak langsung ia akan berhubungan dengan dunia gangster, kriminal, dkk yang cukup ia awami.
Film dibagi 4 bab, berasa seperti membaca novel. Namun tak demikian dengan dua bab terakhirnya yang lebih berasa sebagai suguhan film aksi dengan manusia berkekuatan super karena tak mati-mati setelah sekian kali dibacok, disayat, bahkan dijagal… Maaf, harus saya pakai diksi kasar tersebut sebab memang film ini cukup brutal dari segi penyajian babak aksi. Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah adegan seks. Mengapa film-film serius Korea yang saya tonton hampir selalu beradegan seks eksplisit? Tak ada cara lain apa jalan lainkah untuk meraciknya supaya lebih terkesan santun dan ketimuran? Tapi (lagi-lagi) ini karya seni…
Menurut saya, ide dasar ihwal problem sosial dalam film ini sudah cukup bagus membangun premis. Namun sayangnya agak dimubadzirkan dengan durasi 2,5 jam nan penuh sesak dijejali aksi baku hantam, kriminalitas tingkat tinggi, dan kejar-kejaran bombastis. Ibarat jenis film yang realistik kecampuran fantasi… Sungguh perjalanan panjang bak terbangun dari sebuah mimpi asing yang menyisakan sensasi janggal. [B-] 02/01/12
Adalah si karakter utama asal perbatasan tersebut yang kemudian bertemu pihak penawar “kerja sama” penebusan hutang lewat perantara debitur. Syarat yang diajukan adalah membunuh seseorang di Korea Selatan. Tawaran yang sangat menggiurkan tentunya namun mengorbankan integritas diri. Merasa tersudutkan dan tak ada pilihan lain, pilihan pun disambut. Tak sadar, secara tak langsung ia akan berhubungan dengan dunia gangster, kriminal, dkk yang cukup ia awami.
Film dibagi 4 bab, berasa seperti membaca novel. Namun tak demikian dengan dua bab terakhirnya yang lebih berasa sebagai suguhan film aksi dengan manusia berkekuatan super karena tak mati-mati setelah sekian kali dibacok, disayat, bahkan dijagal… Maaf, harus saya pakai diksi kasar tersebut sebab memang film ini cukup brutal dari segi penyajian babak aksi. Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah adegan seks. Mengapa film-film serius Korea yang saya tonton hampir selalu beradegan seks eksplisit? Tak ada cara lain apa jalan lainkah untuk meraciknya supaya lebih terkesan santun dan ketimuran? Tapi (lagi-lagi) ini karya seni…
Menurut saya, ide dasar ihwal problem sosial dalam film ini sudah cukup bagus membangun premis. Namun sayangnya agak dimubadzirkan dengan durasi 2,5 jam nan penuh sesak dijejali aksi baku hantam, kriminalitas tingkat tinggi, dan kejar-kejaran bombastis. Ibarat jenis film yang realistik kecampuran fantasi… Sungguh perjalanan panjang bak terbangun dari sebuah mimpi asing yang menyisakan sensasi janggal. [B-] 02/01/12
Jumat, 30 Desember 2011
Resensi Film: Away We Go (2009)
Kalau film ini bukan disutradarai oleh Sam Mendes kemungkinan besar saya takkan pernah dengar judul dan enggan menontonnya. Sebuah film kecil tentang hubungan sejoli kumpul kebo yang menghadapi masa kehamilan dan sedang mencari “rumah”. Kenapa saya beri tanda kutip? Di sini artinya bisa mendua, rumah sebagai tempat tinggal dan rumah sebagai komitmen mengarungi bahtera rumah tangga. Mereka tak punya ide ataupun persiapan atas kehamilan ini. Si cowok tetap ingin melamar dan meresmikan hubungan, namun si cewek bagai batu menolak pernikahan. Biarkan hubungan berjalan seperti yang ada, komitmen tanpa ikatan pernikahan.
Si cowok yang pemuda kulit putih kikuk, phlegmatis, dan tak lulus kuliah ini menjalin cinta dengan cewek afro-amerika penutup masa lalu diri dan secara intelektual lebih pandai dari si cowok. Dari satu tempat ke tempat lain, mereka mencari “rumah”. Satu per satu dihinggapi dan dicoba, mulai dari rumah orang tua si cowok sampai saudara dan teman keduanya. Naas bagi pasangan usia 30-an ini karena kesemuanya tak berjodoh. Ada yang agak cocok tapi selalu ada penghalang, dan seringnya yang mereka temui adalah ketidakcocokan. Sepanjang film, saya merasanya cinta mereka menjadi bersemi ketika nomaden dan menyaksikan aneka ria model manajemen pasutri.
Menonton Away We Go hampir sesensasi ketika menikmati film ketiga Sam Mendes, Jarhead. Plot linier nyaris tanpa konflik berarti. Apabila Jarhead tema yang dikemukakan lebih politis, sedang yang ini lebih sosial, namun tetap pada level personal walau tak begitu terkesan mendalam. Away We Go coba memotret dengan lensa kamera komikal tanpa efek zoom tentang ironi kehidupan pasangan-pasangan cinta di tengah dunia yang semakin terbubuhi aroma kepanikan dan teror. Secara filmografi, terang saja Away We Go bukan termasuk jajaran atas karya Sam Mendes. Namun, dari yang kecil dan santai ini, Mendes tetap membuatnya tak buruk rupa. Ia seperti ingin membuat sesuatu yang ia suka tanpa tuntutan harus seperti ini atau itu supaya dapat ini atau itu.
Sepanjang kita pergi… sepanjang film datar ini pula tanpa sadar tahu-tahu kerasa perih seperti kulit luka terkena sayat kertas. [B] 30/12/11
Si cowok yang pemuda kulit putih kikuk, phlegmatis, dan tak lulus kuliah ini menjalin cinta dengan cewek afro-amerika penutup masa lalu diri dan secara intelektual lebih pandai dari si cowok. Dari satu tempat ke tempat lain, mereka mencari “rumah”. Satu per satu dihinggapi dan dicoba, mulai dari rumah orang tua si cowok sampai saudara dan teman keduanya. Naas bagi pasangan usia 30-an ini karena kesemuanya tak berjodoh. Ada yang agak cocok tapi selalu ada penghalang, dan seringnya yang mereka temui adalah ketidakcocokan. Sepanjang film, saya merasanya cinta mereka menjadi bersemi ketika nomaden dan menyaksikan aneka ria model manajemen pasutri.
Menonton Away We Go hampir sesensasi ketika menikmati film ketiga Sam Mendes, Jarhead. Plot linier nyaris tanpa konflik berarti. Apabila Jarhead tema yang dikemukakan lebih politis, sedang yang ini lebih sosial, namun tetap pada level personal walau tak begitu terkesan mendalam. Away We Go coba memotret dengan lensa kamera komikal tanpa efek zoom tentang ironi kehidupan pasangan-pasangan cinta di tengah dunia yang semakin terbubuhi aroma kepanikan dan teror. Secara filmografi, terang saja Away We Go bukan termasuk jajaran atas karya Sam Mendes. Namun, dari yang kecil dan santai ini, Mendes tetap membuatnya tak buruk rupa. Ia seperti ingin membuat sesuatu yang ia suka tanpa tuntutan harus seperti ini atau itu supaya dapat ini atau itu.
Sepanjang kita pergi… sepanjang film datar ini pula tanpa sadar tahu-tahu kerasa perih seperti kulit luka terkena sayat kertas. [B] 30/12/11
Kamis, 29 Desember 2011
Resensi Album: Adele - 21 (2011)
Suara agak berat mantap, sedikit sengau. Begitulah kesan pertama saya mendengar Adele. Pertama tahu lagunya lewat Someone Like You, sebuah lagu sentimental kekurangikhlasan batin melepaskan kekasih lalu. Dengar untuk pertama kalinya, saya langsung kesengsem. Tak ayal karena akhir-akhir ini dunia miskin lagu pencuri hati saya yang jujur, kuat, dan personal. Bagi saya, Adele bak oase di tengah semaraknya industri musik pop nan progresif dan enerjik. Satu kata saja terucap dari mulut Adele ketika menyanyi, pun hati ini seketika kenal betul bahwa ia memancarkan aura penyanyi bertalenta. Bakat vokal soul alamiah yang saat ini jarang muncul ke permukaan.
Dalam sebelas lagu di album 21, konsep nama album yang mudah dikenali dan diingat karena sesuai perkembangan usia Adele sendiri, Rolling in the Deep mengawali parade musik semiteatrikal. Si lagu cinta penyulut api dan bertenaga ini sempurna menohok pendengar 21 di saat-saat awal. Saya seperti orang yang sedang duduk menonton konser tunggal penyanyi restoran dan kemudian spontan bangkit menari kaku ikuti alunan beat musik. Lagu berikutnya, Rumor Has It, sangat girl-power dengan musik yang masih menghentak. Penggunaan filler tepukan tangan dan pengiring vokalnya memperkuat sensasi klasik. Nah, lagu slow manis sendu pertama ada di urutan ketiga lewat judul Turning Tables. Lagu yang sangat mudah dicintai.
Mulai empat urutan awal, sepertinya kita akan sadar kalau album ini cenderung disusun 2-2 (2 lagu mayor, 2 lagu minor, dst.). Walau nantinya juga tak demikian, tapi dibanding 1 ceria – 1 sendu sepertinya untuk Adele kurang cocok karena jarak antara semangat dan kesenduan lagunya sangat mencolok. Saya kembali terpukau dengan lagu di urutan kedua terakhir, yang tak lain merupakan remake Lovesong-nya The Cure. Di sini Adele bermain-main di ranah jazz dan bosanova. Penampilan seperti ini tentu akan sangat memancing perhatian. Andai saja Anda pergi ke kafe bersama pasangan, pasti Anda akan khusyuk menikmati penampilan itu. Nuansa romantis senantiasa terbangun, bayangkan perlahan tangan Anda mendekat menghampiri jemari pasangan dan ketika lagu menjelang pungkasan Anda bersiap-siap mengucapkan “aku sayang kamu, Sayang”…
Lagu penutup tak usah didiskusikan lagi masterful-nya, Someone Like You. Refleksi mendalam dari kejujuran seseorang yang sebenarnya terlarang untuk diungkapkan. Saking telanjang dan utuhnya lagu ini, membuat saya berpikir akan sangat susah bagi penyanyi lain mengutak-atik komposisi dan aransemen lagunya. Adele sangat menjanjikan. Tak perlu popularitas bombastis, saya pikir ketenarannya bisa terjaga asalkan ke depan ia memproduksi 21-21 lainnya atau bahkan melebihi 21. Lewat album ini, Adele cukup menunjukkan kepada dunia, “tak usah banyak cing-cong, hingar-bingar, kebanyakan ulah, (Jawa: kakeyan polah), dkk. untuk berkarya” [A-] 28/12/11
Rabu, 28 Desember 2011
Resensi Album: Letto - Cinta... Bersabarlah (2011)
“Du du Rindu… itulah laguku,” Itu pula yang saya rindukan dari grup band asal Kota Gudeg ini. Definitif, mendayu, tanpa menye. Dan tadi merupakan salah satu judul lagu dari total 10 tembang yang terhimpun dalam album terbaru bertitel Cinta… Bersabarlah. Instan setelah sekali mendengar keseluruhan album, saya langsung menangkap aroma tobat. Ya! Mereka kembali ke basis. Nearly goes to spiritual pop again. Jelas kita tahu bahwa dalam beberapa kasus lagu-lagu Noe dkk. terkesan menye-menye. Tapi dengar, pahami, dan resapi dulu lirik-liriknya. Serba perenungan dan dialog kebatinan. Dalam album ini tak ada yang spesial dan eksperimental terkait musikalitas mereka. Nikmati satu per satu judulnya dan akan didapati kedalaman Noe dkk. mendiskusikan cinta, pernikahan, dan transcendental. Welcome back for them! [B+] 28/12/11
Selasa, 27 Desember 2011
Resensi Film: The Ides of March (2011)
Lewat film ini, semakin memantapkan bahwa aktor Ryan Gosling selektif memilih peran. The Ides of March bisa saja mengantar Gosling memakai atribut nomine aktor terbaik Oscar. Mimik memendam amarahnya kuat tercitra dalam film politik ini. Ia memerankan karakter tim manajer kampanye bakal calon presiden yang diajukan Partai Demokrat. Brilian dan potensial, itulah karakternya. Seperti jamak diketahui, politik adalah kekuasaan. Di sini, hasil berperan sebagai kartu as. Borok-borok politik di belakang layar jelas tak terkira jumlah dan parahnya.
Jangan sekali-kali hanya mengandalkan label “brilian dan potensial” di dunia politik. Itulah pelajaran yang disampaikan George Cloney yang lama-lama jadi Deddy Mizwar-nya Hollywood lewat film arahan terbarunya ini. Dunia politik adalah monster, ketika yang putih bisa menjadi hitam dan hitam bisa menjadi putih pada saat yang sama. Tak mengenal kawan, yang dikenal hanyalah. Secara konten, The Ides of March bolehlah… Ia menambah rentetan film pembeber aib kebusukan dunia politik. Namun masih ada sayangnya, ia bermain terlalu aman dengan tanpa menampilkan kebaruan sehingga menetaskan telur yang akan dikonsumsi, bukan telur eraman. [B] 26/12/11
Jangan sekali-kali hanya mengandalkan label “brilian dan potensial” di dunia politik. Itulah pelajaran yang disampaikan George Cloney yang lama-lama jadi Deddy Mizwar-nya Hollywood lewat film arahan terbarunya ini. Dunia politik adalah monster, ketika yang putih bisa menjadi hitam dan hitam bisa menjadi putih pada saat yang sama. Tak mengenal kawan, yang dikenal hanyalah. Secara konten, The Ides of March bolehlah… Ia menambah rentetan film pembeber aib kebusukan dunia politik. Namun masih ada sayangnya, ia bermain terlalu aman dengan tanpa menampilkan kebaruan sehingga menetaskan telur yang akan dikonsumsi, bukan telur eraman. [B] 26/12/11
Senin, 26 Desember 2011
Resensi Film: Cars 2 (2011)
Ka-chaw! Tak terasa sudah bertahun-tahun sejak Disney+Pixar merilis Cars orisinil. Kala itu saya apatis dengan kartun berkarakter otomotif ini, menonton pun di luar masa edarnya alias lewat VCD. Menyesal karena baru tahu bahwa mutunya cukup terjamin, CGI hiburan berkonten kajian sosio-ekonomi. Lalu, sekarang bagaimana dengan nasib Lightning McQueen dkk dalam Cars 2?
Dibuka dengan adegan khas spionase klise. Karakter-karakternya belum pernah saya kenal sebelumnya. Mmm… kenapa jadi seperti ini gumam saya? Tunggu sampai ketemu karakter-karakter lama di babak selanjutnya, baru coba menebak-nebak kisahnya niat saya. Simpel, McQueen ditantang kembali oleh pembalap arogan asal Italia dalam rangkaian trek Grand Prix: Tokyo, Italia, dan London. Ada tiga menu utama dalam Cars 2: (1) pertandingan Grand Prix melawan si arogan; (2) friksi persahabatan McQueen; (3) isu konspirasi bisnis bahan bakar minyak.
Apa?! Konspirasi? Yah, inilah yang diangkat Cars 2 ketika dulu Cars 1 mengutarakan isu efek sosio-ekonomi terkait dibangunnya jalur-jalur tol. Saya terkadang tak habis pikir kepada Pixar dkk, kenapa mereka mengangkat isu-isu kritis ke dalam sebuah film konsumsi anak-anak. Ada banyak yang berhasil memolesnya sehingga laten, namun ada pula yang kasar polesannya. Nah, Cars 2 bagi saya tak canggih mengemasnya. Di samping polesan yang sintetis, Cars 2 kurang grengggg untuk skala Pixar.
Entahlah bagaimana nasib waralaba Cars selanjutnya, lewat suguhan seri kedua ini saya pikir Cars tersiksa menyusul sukses pencapaian Toy Story yang hat trick di ketiga serinya, bahkan seri teranyarnya sangat “bertaring”. Menonton Cars 2 sepertinya bak film layar lebar AADC yang diadaptasi ke versi sinetron tayangan RCTI, meski saya sendiri belum pernah utuh menonton serialnya. Tapi saya yakin, akan seperti itu sensasinya. Saya harap jemari Anda jangan jauh-jauh dari remote control TV. [C+] 25/12/11
Dibuka dengan adegan khas spionase klise. Karakter-karakternya belum pernah saya kenal sebelumnya. Mmm… kenapa jadi seperti ini gumam saya? Tunggu sampai ketemu karakter-karakter lama di babak selanjutnya, baru coba menebak-nebak kisahnya niat saya. Simpel, McQueen ditantang kembali oleh pembalap arogan asal Italia dalam rangkaian trek Grand Prix: Tokyo, Italia, dan London. Ada tiga menu utama dalam Cars 2: (1) pertandingan Grand Prix melawan si arogan; (2) friksi persahabatan McQueen; (3) isu konspirasi bisnis bahan bakar minyak.
Apa?! Konspirasi? Yah, inilah yang diangkat Cars 2 ketika dulu Cars 1 mengutarakan isu efek sosio-ekonomi terkait dibangunnya jalur-jalur tol. Saya terkadang tak habis pikir kepada Pixar dkk, kenapa mereka mengangkat isu-isu kritis ke dalam sebuah film konsumsi anak-anak. Ada banyak yang berhasil memolesnya sehingga laten, namun ada pula yang kasar polesannya. Nah, Cars 2 bagi saya tak canggih mengemasnya. Di samping polesan yang sintetis, Cars 2 kurang grengggg untuk skala Pixar.
Entahlah bagaimana nasib waralaba Cars selanjutnya, lewat suguhan seri kedua ini saya pikir Cars tersiksa menyusul sukses pencapaian Toy Story yang hat trick di ketiga serinya, bahkan seri teranyarnya sangat “bertaring”. Menonton Cars 2 sepertinya bak film layar lebar AADC yang diadaptasi ke versi sinetron tayangan RCTI, meski saya sendiri belum pernah utuh menonton serialnya. Tapi saya yakin, akan seperti itu sensasinya. Saya harap jemari Anda jangan jauh-jauh dari remote control TV. [C+] 25/12/11
Kamis, 22 Desember 2011
Resensi Film: Melancholia (2011)
Setiap kali menyimak film berbau nyeni, saya selalu harus siap-siap dulu. Semacam demam panggung. Antimo, obat penenang, dkk. pokoknya saya musti tersugestikan lebih dulu supaya tahan menonton hingga pungkasan. Judul yang satu ini sebenarnya cukup populer mengingat masuk film seleksi Festival Film Cannes dan di samping itu saya sering menikmati karya sang staradnya, Lars von Trier. Tonjokan pertama film Trier saya dapatkan ketika mendapati Dancer in the Dark yang dibintangi Bjork. Kemudian sempat tak utuh menonton Dogville, karena DVD bajakannya rusak di tengah jalan. Kemudian mencari-cari Antichrist, yang benar-benar susah diusahakan secara gratisan.
Melancholia, yang berposterkan Kirsten Dunst dalam balutan gaun pengantin sedang mengapung di atas sungai jernih, menyisakan teka-teki tentang apa gerangan film ini. Manapula judulnya Melancholia, yang sepintas akan dikira suatu kisah melodrama khas melankolis di dalamnya. Ternyata bukan demikian! Saya sempat sepintas pernah membaca sinopsisnya, namun belum jelas karena keterbatasan kemampuan saya dalam menerjemahan bahasa Inggris teknis dan kontekstual. Ah… langsung tonton saja.
Di balik poster misterius dan nama besar sang strada serta pemeran-pemerannya, Melancholia bercerita ihwal fase menjelang ajal. Diceritakan, terdapat sebuah planet bernama Melancholia yang dengar-dengar akan menabrak Bumi. Untuk mengetahui plot utama ini saja penonton harus tahan sampai bagian 2-nya yang mana meghabiskan satu jam pertama durasi. Perlu diketahui, plot film ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama, tentang acara malam pernikahan dalam sebuah keluarga berintrik. Bagian kedua, memperjelas tentang plot utama: saat-saat jelang menabraknya Melancholia. Tak usah menyangkal akan terjadi sebuah ending yang tak mengenakkan. Trier sudah memberi sinyal sejak awal film, yakni dalam kolase sinematografi pembukanya.
Akting para pemainnya jelas gemilang, dan ini tak luput dari sentuhan magis teknik handheld khas Trier. Biarlah juri Cannes menghadiahi Dunst penghargaan aktris terbaik, tapi memang ia menampilkan apa yang harus karakternya munculkan. Sampai rela-rela ia berpose telanjang, walau sebenarnya bisa digambarkan lebih tak frontal.
Melancholia, menghantam tepat di akhir setelah kita menunggu lama hampir kebosanan laiknya sedang mengamati lambannya itungan mundur lampu merah di simpang jalan. [B+] 21/12/11
Melancholia, yang berposterkan Kirsten Dunst dalam balutan gaun pengantin sedang mengapung di atas sungai jernih, menyisakan teka-teki tentang apa gerangan film ini. Manapula judulnya Melancholia, yang sepintas akan dikira suatu kisah melodrama khas melankolis di dalamnya. Ternyata bukan demikian! Saya sempat sepintas pernah membaca sinopsisnya, namun belum jelas karena keterbatasan kemampuan saya dalam menerjemahan bahasa Inggris teknis dan kontekstual. Ah… langsung tonton saja.
Di balik poster misterius dan nama besar sang strada serta pemeran-pemerannya, Melancholia bercerita ihwal fase menjelang ajal. Diceritakan, terdapat sebuah planet bernama Melancholia yang dengar-dengar akan menabrak Bumi. Untuk mengetahui plot utama ini saja penonton harus tahan sampai bagian 2-nya yang mana meghabiskan satu jam pertama durasi. Perlu diketahui, plot film ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama, tentang acara malam pernikahan dalam sebuah keluarga berintrik. Bagian kedua, memperjelas tentang plot utama: saat-saat jelang menabraknya Melancholia. Tak usah menyangkal akan terjadi sebuah ending yang tak mengenakkan. Trier sudah memberi sinyal sejak awal film, yakni dalam kolase sinematografi pembukanya.
Akting para pemainnya jelas gemilang, dan ini tak luput dari sentuhan magis teknik handheld khas Trier. Biarlah juri Cannes menghadiahi Dunst penghargaan aktris terbaik, tapi memang ia menampilkan apa yang harus karakternya munculkan. Sampai rela-rela ia berpose telanjang, walau sebenarnya bisa digambarkan lebih tak frontal.
Melancholia, menghantam tepat di akhir setelah kita menunggu lama hampir kebosanan laiknya sedang mengamati lambannya itungan mundur lampu merah di simpang jalan. [B+] 21/12/11
Selasa, 20 Desember 2011
Resensi Film: The Help (2011)
Jika menyimak sejarah USA pasti tak terpisahkan dengan kisah-kisah diskriminasi ras. Kali ini ada lagi film (saya bilang) bagus bertemakan itu, setelah beberapa pendahulunya sebut saja Crash dan Gran Torino. Saya termasuk yang memprediksi judul ini bisa masuk kategori film terbaik Oscar 2012, lebih lagi kansnya akan kian besar masuk jajaran nomine bila panitia Oscar masih memajang 10 judul seperti tahun-tahun belakangan ini.
Lupakan sejenak jackpot Oscar, mari kita beralih ke The Help. Bagaimana mekanisme kehidupan pembantu negro dalam rumah tangga kulit putih menjadi topik utama film ini. Seorang pembantu “dikebiri” impiannya dalam menjadi seorang yang bukan berprofesi babu, hasil tradisi turun-temurun. Sebagai pembantu, WC mereka dipisah dengan yang dipakai pemilik rumah. Dalihnya, supaya pembantu negro tersebut bisa menularkan penyakit! Lebih ironisnya tatkala mereka terpaksa merawat bayi berkulit putih majikannya, sedangkan anak mereka sendiri dirawat orang lain. Semua dikerjakan demi mendapatkan gaji cukup untuk bertahan hidup.
Masih banyak lagi kejadian menarik lainnya nan dramatis terkait kesengsaraan nasib kulit hitam di USA sekitar pertengahan abad ke-20. Tokoh utama dalam film ini adalah seorang pemudi, editor cemerlang yang sedang dalam masa keemasan mendulang prestasi. Ia sukses dalam karier, namun tidak dalam cinta. Mari kita kesampingkan subplot klise ini. Ia tertarik dengan ide mengubah sudut pandang kisah dan berita. Bagaimana jika sekarang pembaca disuguhi kisah/berita dari sudut pandang para pembantu negro, di tengah konsumsi pemberitaan dan narasi yang sangat white-skinned sentris.
Banyak cobaan dan tantangan yang menerpa si pemudi ini. Itulah salah satu poin utama yang disampaikan The Help. Mengingatkan kembali pada Erin Brockovich, ketika seorang pemberani (aktivis) harus siap dengan segala konsekuensi negatif yang akan dihadapi. Beberapa kelemahan film ini yakni ketika kita, sebagai penonton, sudah tahu dan menerka bahwa bakalan banyak adegan-adegan haru. Selain itu, kurang personalnya penggambaran masing-masing karakter membuat durasinya yang sudah melebihi rata-rata, yakni 2,5 jam, terasa kurang menyentuh. Berbeda sekali ketika kita menikmati Forrest Gump yang terbersit adegan monumental “Run, Forrest. Run!!!”, yang dalam film ini pun ada naskah tersebut, The Help membiarkan kita tak puas mencapai klimaks.
Walau demikian, filmnya rapi, kalem, dan aman. Sekarang kapan lagi kita bisa menikmati fitrah film Hollywood di tengah kebingungannya yang lagi demam restorasi 3D film-film lawas. [B+] 19/12/11
Jumat, 09 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


