Rabu, 12 Oktober 2011

Resensi Film: Oldboy (2005)

Saatnya saya harus mulai melirik film Korea. Betapa tidak? Film besutan Chanwook Park ini membuka mata dan hati saya (sepertinya saya mulai bombastis…) Jangan salah kira dulu, film berdurasi hampir genap 2 jam ini melebihi kebutuhan sensasi sinematik saya. Bak putaran sentrifugal, ketika saya hampir meraih pusat pusaran selalu saja ekor bidiknya menjauh.

Pertama-tama, cerita filmnya. Sangat sederhana dan agak gila. Seorang pria disekap secara misterius dalam sebuah kamar berfasilitas lengkap tanpa ia ketahui siapa pelakunya, apa alasannya, dan akan sampai kapan ia di sana. Hari demi hari berlalu, bulan, hingga tahun. Sampai dengan 15 tahun lamanya, ia tahu-tahu dibebaskan. Jangan harap begitu saja ia bebas, ternyata kehidupannya masih terus diintai si penyekap. Ada apa ini? Kenapa harus menunggu 15 tahun?

Misteri terus menggelayuti penonton Old Boy. Paling tidak, itu yang saya rasakan. Walau sebenarnya tak tahan melihat beberapa adegannya yang kejam dan bengis. Darah seamsal sirup. Kalau bukan karena bangunan teka-teki yang kuat, saya pasti sudah pensiun dini menikmati film KorSel ini. Pertanyaan apa dan kenapa terus-menerus meneror si korban. Sampai-sampai tertanamlah dendam kesumat di dadanya. Keluarganya hancur, isterinya dibunuh, fitnah dilayangkan kepada dirinya sebagai pembunuh isterinya. Sang anak tak diketahui secara jelas karena hanya ada kabar ia diadopsi oleh keluarga Eropa. Tak hanya karakter korban yang penasaran, saya pun demikian.

Sinematografi luar biasa menemani saya sejak awal hingga akhir film. Pemilihan warna, angle, teknik handheld, sampai fitur dramatisasinya… teramat pantas dan pas. Kapan ia mewakili sudut personal, kapan ia harus ke salon fotografi, sang strada paham betul memilihnya. Musik pengiring pun tak mau kalah mendalamnya. Bahkan, sejak detik pertama film bermula. Tak hanya komposisi orkestra (beberapa dari notasi judul terkenal) namun juga alunan kontemporer berpadu menyatu dengan babak film.

Yang perlu saya acungi dua jempol selain untuk strada Park yakni pemeran pria utamanya. Aktingnya menggetarkan, menjadi karakter utuh seorang korban kejahatan yang sangat langka (bahkan mungkin belum pernah ada) dalam sejarah kriminalitas. Adegan seks eksplisit di dalam film pun tak mubadzir dan terampuni karena amat fundamental bagi perjalanan plot berikutnya. Saya pikir, kalau adegan seks tersebut dienyahkan malah bakal kurang terasa efek pilunya.

Secara konten, banyak pesan yang ingin disampaikan film ini. Tentang hak hidup manusia. Tentang mulutmu harimaumu. Tentang cinta. Dan silakan Anda cari sendiri hal-hal lainnya. Setelah menuntaskan film ini, saya mengumpat. Saya tak sudi menonton berulang kali. Ini mencetak pengalaman baru bagi saya. Satu lagi sensasi aneh dari film aneh yang bakal menyejarah dalam jajaran daftar film tontonan saya. [A] 11/10/11

Senin, 10 Oktober 2011

Resensi Film: Kick-Ass (2010)

Lihat saja judulnya. Sudah ketahuan genre dan pangsa pasarnya. Yang menarik kan apa bakal ada kejutan di dalamnya. Siapa ingin jadi pahlawan super? Gagasan awal film ini berandai bagaimana jika merealisasikan eksistensi pahlawan-pahlawan super khas komik dalam kehidupan nyata. Seorang pemuda berkacamata, culun, dan kikuk yang “tak spesial” dan sering jadi sasaran bullying ingin mengubah keadaan itu. Ia mangkel dengan pemandangan orang yang hanya diam tak berbuat apa-apa ketika melihat ada tindak kekerasan dan kriminal. Oke, seketika jadi mengingatkan sejarah kanak-kanak Hitler yang bukannya membuat ia ketika besar menjadi macam Superman atau Spider Man malahan jadi monster sejarah perang dunia.

Kostum dipesan, dipakai, dan temui proyek pertama. Melawan duo penggangu langganan. Lalu… bretttt. Alih-alih jadi pahlawan kesiangan, yang ada ia malah jadi korban lagi dalam versi yang lebih parah. Tapi jangan salah, ia tak berhenti hanya di situ saja. Dalam petualangan berikutnya, ia menjalani kebetulan-kebetulan yang tak terbayangkan dan membuatnya terkenal seantero negeri sebagai pahlawan kesiangan nan kesohor dan inspiratif.

Momen kejutan tak saya dapatkan. Maaf sekali… Sejak awal komedi mengalir tak konstan, ditambah dengan subplot yang kesana-kemari meninggalkan jalur utama. Lama-lama Anda akan merasa bukannya menonton Kick-Ass tapi malah film pesta kostum karakter komik dan aksi sok brutal nan sadis imitasi Kill Bill-nya Quentin Tarantino. Musik latar yang dikonsep satir, dengan berkali-kali menyadur notasi judul-judul superhero, pun ikut-ikutan mengganggu. Saya menyebutnya komedi semiparodi supertanggung. Dibilang lucu ya kurang, dibilang orisinil ya tidak, dibilang hancur ya belum. [C] 08/10/11

PELIT

Pernah punya teman atau kenalan yang doyan melayangkan kata pelit jika ia tak ditraktir? Saya percaya, setiap kata itu adalah cerminan karakter pribadi. Pelit. Seberapa pun nilainya si pengidap penyakit ini akan tetap arogan. Tak bisa ditawar, seolah-olah itu gengsi bahkan harga diri. Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya dibedakan mana itu pelit mana itu hemat karena dua hal ini sering berebut porsi debat.

Hemat kalau di negeri jiran kita Malaysia disebut jimat bagi saya merupakan gaya hidup disiplin dan terencana. Ia beda dengan pelit karena punya sifat yang tak mengganggu hak lain. Gampangnya begini, dua mahasiswa kos pergi makan bersama di kantin. Satunya baru dapat undian “hujan beliung runtuh (whatever)” rezeki semilyar sedang yang satunya belum dapat kiriman wesel orang tua. Habis makan si pemenang undian bayar hanya untuk makanannya sendiri dan tidak mentraktir temannya yang lagi bokek. Apa dia pelit? Bagi saya, ya jelas tidak. Kalau mau ditraktir ya yang minta coba bilang saja apa adanya. Kalau beruntung ya dikasih, kalau tidak ya tak usah mencak-mencak. Mau ngambek? Aneh.

Nah, pelit itu lebih ke itung-itungan tapi tak peduli hak orang lain dan bahkan melanggar. Semisal lembur paksa tak dibayar, tak diberi makan, pun tak ada ucapan terima kasih apalagi kata maaf. Beda pelit dan hemat bakal terlihat dalam posisi kita menawar harga. Yang pelit pasti tak bakal memaklumi keberuntungan atau faktor-X, sedang yang hemat masih mau memaklumi. Misal, perubahan harga karena beda hari, beda stok, dan sebagainya. Yang pelit pasti bakal menghakimi si penjual itu nakal jika tak mendapat harga yang termurah, sedangkan orang hemat masih mau menerima dan tinggal pindah dan cari ke penjual lain saja. Yang hemat memeringkatkan factor tak boros di atas factor perbedaan harga. Dalam beberapa hal tak semua orang diperlakukan sama sebagai pembeli. Dan itulah rezeki. Orang yang menjengkelkan kebanyakan malah tak mendapati diskon yang diinginkan.

Tujuan antara hemat dan pelit pun berbeda makanya jalurnya juga demikian. Terkadang saya hanya tertawa (jika keterlaluan, jadi prihatin) dengan sebagian orang yang menganggap kalau tak pernah mentraktir itu pelit. Ya ampun, dangkal sekali pemahaman mereka. Seraya sambil berdoa kepada Allah swt supaya orang-orang yang demikian diberi hidayah. Amin… Percaya atau tidak, orang-orang yang demikian itu banyak dirasa menyebalkan ketimbang menyenangkan. Hemat bermuara investasi, pelit bermuara egomaniak (pemuasan hasrat diri). Tiba-tiba saya jadi ingat Bang Madit (Islam KTP)…

Selasa, 20 September 2011

Ditindih



(lokasi: perempatan SDN Tukangan, Yogyakarta)

Musim pemilukada, musim barbar.
Tak peduli apa itu vandalisme, apa itu grafiti.
Yang penting tempel dan pamer.
Tiap hari saya diteror dengan wajah-wajah balon (bakal-calon).
Para eksibionis temporer.
Mural yang tadinya memperindah pun jadi korban.
Ia ditindih.
Kemana kepedulian dan kontrol KPUD?
Belum lagi kampanye ala konvoi sok jagoan.
Sempat pula saya temukan mobil pick up terbuka berisi grup musik organ tunggal.
Lewat lagu-lagu macam "Bojo Loro", "Bokong Semok", dkk., sejumlah bapak dan om berjoget ria hampir sesaki badan jalan. Saya temui itu kala sore hari di dekat Pasar Lempunyangan. Setelah mendekat, ternyata ada gambar satu pasangan calon membabi buta. Di kaos, di poster, entahlah kalau ada pula yang di "daleman"...
Jadinya jalanan macet. BBM terbuang sia-sia. Masyarakat harus banyak-banyak konsumsi yang mengandung antioksidan dan istighfar..
Selamat dan sukses (untuk siapa?)
Saya tunggu bersih-bersihnya.

Minggu, 18 September 2011

Resensi Single: Coldplay - Paradise (2011)

Single kedua dari album Mylo Xyloto (belum diketahui apa artinya) rilisan bulan depan ini sudah banyak diunduh baik secara resmi maupun “ilegal”, setelah sebelumnya kelompok yang divokali Chris Martin mengorbitkan Every Teardrop is a Waterfall sebagai single pertama. Satu single saja mungkin tak cukup merepresentasikan ide dan konsep apa yang ditawarkan Coldplay pada album terbarunya. Makanya mungkin setelah single kedua dirilis, banyak fans dan penikmat musik umum bisa meraba-raba “dagangan” Coldplay di tengah iklim industri musik yang belum berhasil memunculkan fenomena baru lagi setelah demam Lady Gaga, kepolosan Taylor Swift, histeria Justin Bieber, beserta keremajaan Katty Perry, dkk.

Sepertinya takkan ada harapan cerah dari gelombang Britpop setelah mendengar single Paradise. Berdurasi kurang dari 5 menit dengan overture sekitar 1 menit yang mana 30 detik pertama berupa alunan orkestra ringan bernada Viva La Vida versi lemas diiringi hembusan percikan ringan akor ala musik gereja. Kemudian dimentahkan dengan masuknya suara petikan gitar bas yang sedikit berat di semacam komposisi musik yang bagi saya milik Roxette (Milk, Toast, Honey) banget namun dalam versi megahnya. Setelah puas menyajikan semenit musik pembuka yang agak mengejutkan karena terasa sebegitu popnya karya salah satu band favorit saya ini, Chris Martin memulainya dengan “when she was just a girl, she expected the world…” Barulah saya mulai berkonsentrasi pada lirik.

Setelah mengetahui keseluruhan lirik, saya dapati kekecewaan kedua. Tak ada yang spesial dengan lirik Paradise. Ia hanya menyampaikan pandangan terhadap dunia lewat kacamata seorang gadis kecil, yang berharap sesuatu surgawi. Tadinya saya berharap ada letupan emosional atau pemikiran di balik lirik Paradise guna menutup faktor biasa dalam musik pembukanya. Ternyata tidak. Hal ini berbeda sekali ketika saya mendengar untuk pertama kali Violet Hill dalam album Viva La Vida yang sebenarnya juga biasa saja dari segi syair namun sensasi aneh dan kelam musiknya kentara sekali hingga memaksa diputar berulang kali supaya terbiasa. Kondisi Paradise mirip-mirip In My Place ketika diluncurkan sebagai single pertama atas A Rush of Blood to the Head.

Hingga pada saatnya saya baru tersadar, bahwa dalam Paradise Chris Martin dkk menginginkan sebuah karya (maunya) anthemic yang bisa dinyanyikan bersama-sama di stadion dengan intonasi teriakan khas Michael Jackson bersama suara-suara “malaikat-malaikat” kecilnya atau Haddad Alwi bersama anak soleh-solehahnya dengan lirik “para-para-paradise… ow, ow, o… ow, ow, ooohhh” Hanya inikah yang mereka kehendaki dalam Paradise? Kalau demikian adanya, saya kecewa berat bin akut bin menjadi-jadi.

Seperti biasa, secara keseluruhan tiap karya Coldplay bukanlah ecek-ecek atau asal laku. Mereka punya kelas dan itulah yang membuat demarkasi ekspektasi. Sejak Yellow membahana disusul album A Rush of Blood to the Head yang kuat beserta karya-karya berikutnya yang agak progresif (terutama dalam Viva La Vida), Coldplay membuktikan eksistensi kualitas musik mereka. Sampai pada tragedi tuntutan plagiarisme untuk lagu Viva La Vida oleh joe Satriani menghinggap, mereka tetap berdiri. Sudah lima album dihasilkan (termasuk Mylo Xyloto). Sejauh ini Coldplay berhasil membangun basis fans yang kuat. Saya melihat Mylo Xyloto bakal menjadi hantaman dan ancaman serius bagi basis fans. Generasi dan komunitas fans bisa jadi akan berganti. Saya pribadi, lewat mendengarkan Paradise, telah menggeser peringkat Coldplay dari fav-list. Tentu mereka turun dalam pemeringkatan versi saya.

Dalam kekecewaan yang agak mendalam, saya tetap memutar Paradise berulang kali. Seperti saya memilih lagu dalam playlist reguler, which make no deep senses at all… [C+] 17/09/11

Senin, 12 September 2011

Resensi Film: Offside (2007)

Pelembagaan agama. Satu kata yang pasti terpintas ketika membahas tentang Iran. Offside saya tonton di Metro TV lewat programnya World Cinema yang lagi-lagi menayangkan terkait Iran (setelah Persepolis di minggu sebelumnya). Bukan suatu istilah asing lagi. Offside berarti pelanggaran karena berada di belakang baris pertahanan lawan ketika bola dilancarkan pada pemain ybs. Kali ini yang mencoba peruntungan offside adalah kaum hawa Iran yang hendak diam-diam menonton secara langsung pertandingan sepakbola kualifikasi piala dunia Iran melawan Bahrain di stadion utama.

Lewat film ini, saya baru tahu bagaimana Iran menjalankan politisasi agamanya sedemikian ketat. Kaum adam dan hawa tak boleh menonton pertandingan secara bercampur dan harus menonton acara yang sejenis kelamin. Mengapa hal ini bisa terjadi dan atas dasar apa implementasinya? Dalam film inilah dipertontonkan dialog lugas, kolokial, nan kritis lewat antarkarakter. Beberapa wanita ditawan petugas penjaga keamanan sebelum mereka berhasil menembus masuk stadion (ada yang sudah berhasil masuk namun diciduk belakangan). Set mayoritas berlangsung di area di mana wanita-wanita ini ditawan dan dijaga ketat supaya tak masuk stadion.

Satu lagi bentuk film khas Iran yang sepanjang plot hanya menampilkan kejadian beberapa jam, tak sampai berganti hari, namun tetap padat dan sarat makna. Film ini menunjukkan apa itu dilema, apa itu tugas, dan apa itu kebebasan bertanggung jawab. Semua yang tadinya bisa ditafsirkan bervariasi menjadi tak berkembang hanya dengan batas yang digariskan oleh suatu lembaga yang bernama aturan (baca: negara). Tentu saja, Offside kan berucap c’est la vie! [B+] 11/09/11

Resensi Film: 7 Wanita 7 Dunia 7 Cinta (2010)

Libur lebaran menguntungkan bagi penikmat film domestik. Beragam stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan film-film negeri sendiri. Tak peduli ngepas atau tidak dengan momennya, yang jelas bertujuan menjaring pemirsa lewat slogan pemasaran “tayang perdana”-nya.

Dari sekian banyak judul yang ditawarkan, hanya 1 yang memikat saya yakni 777. Jauh-jauh hari saya pernah membaca resensi film ini lewat tulisan Leila S. Chudori (Tempo), yang cukup membuat saya penasaran dan minat nonton. Berkisahkan tentang seorang dokter kandungan yang menghadapi pasien-pasien loyalnya dengan segambreng kompleksitas. Ada siswi SMP yang takut hamil di luar nikah, ada PSK yang mengambil tes laboratorium, ada pasangan ria yang ingin punya anak, dsb.

Ironisnya dokter perempuan ini belum menikah (dan tentu belum punya anak). Sambil disuguh fragmen kisah subplot yang kocak, teka-teki, dan serius, 777 ternyata berkerangka besar membicarakan pandangan emansipasi dan realitanya. Hal besar yang terakhir ini malah kemudian menjadi monster seram yang menenggelamkan kelucuan dan misteri plot. Jatuh-jatuhnya terkesan Hollywood-ish.

Saya sangat bahagia mengetahui masih ada film-film komersial domestik yang berkualitas, termasuk 777 ini. Betapa tidak? Film ini mampu soroti aktualita sosial lewat bungkus semikarikatural dan “kuliahan”. Secara keseluruhan, saya puas dengan jalinan subplot dalam 777 namun tidak dengan kerangka besarnya (yang membicarakan emansipasi secara vulgar). [B] 11/09/11

Resensi Film: Persepolis (2007)

Terima kasih untuk Metro TV yang dalam acara mingguannya World Cinema memutar Persepolis. Nonton gratis deh jadinya… Kala menonton, saya bersama mas dan ibu. Mas saya syok karena malam-malam kok nayangin film kartun. Saya pun demikian. Berbeda dengan ibu saya yang biasa-biasa saja menanggapinya. Batin saya berkata, pasti ini bukan kartun sembarang cerita.

Benar adanya. Persepolis memang kartun semipolitik nan menggelitik. Sejak awal, desain produksinya menarik. Memang khas film Prancis sih, jadi mungkin jika dibandingkan dengan film-film Prancis ya biasa aja. Format kartun dua dimensi dengan sentuhan sedikit tiga dimensi ini mengisahkan perjalanan intelektual bocah gadis Iran hingga menjadi wanita imigran di benua biru (Eropa).

Ia hidup di lingkungan keluarga progresif alias kontrakonservatif. Dalam film, nampaknya strada memilih jalan hitam-putih untuk menajamkan perbedaan ideologis antara pandangan mikro dan politik negeri Iran yang terlalu digambarkan represif. Keluarga ini secara tak langsung membentuk karakter si bocah gadis ini untuk bermental pemberontak. Menimbang ketidakcocokan situasi negara bagi perkembangan puterinya, maka sang orang tua mengirim si bocah gadis ini hidup di Eropa. Sebuah metafora impian kebebasan. Apakah kebebasan lantas kan didapat?

Yang saya suka dari film ini adalah niatnya yang tak tanggung-tanggung menampilkan kekirian ideologi, lewat beberapa pandangan yang dikemas secara serius dan komedikal. Beberapa adegan imajinatif ekstrem khas bocah cukup menggelikan. Yang saya kurang senangi dari Persepolis adalah tingkat konsistensi plot yang tak terjaga. Awalnya seru, tengahnya luntur, akhirnya pupus. Yah, inilah film dengan keutamaan pikiran. Rasa seakan-akan tak terbelai. Bonus utama dari film ini adalah referensi atmosfer kehidupan sosiopolitik bernegara di daratan eks-Persia. [B-] 11/09/11

Jumat, 09 September 2011

Resensi Film: Spirited Away (2002)

Awalnya saya sudah tahu betul film ini dielu-elukan sebagai karya hampir sempurna hanya dari membaca konsensus resensi kritikus film. Seringnya saya memilih mencibir dulu jika menghadapi film-film yang overrated seperti ini, seperti halnya pada Slumdog Millionaire. Tapi tak sah rasanya kalau belum coba menonton. Untung saja saya mendapatkan file-nya dari sebuah warnet. Simpan di flashdisk, tonton di rumah.

Spirited Away, sebuah kartun Jepang karya strada Hayao Miyazaki yang menurut teman bekebangsaan-Jepang saya memang rajin membuat film-film bermutu dan laku di pasaran. Coba saja Anda lihat prestasi film kartun 2 jam-an ini, hampir semua penghargaan nomine best animated feature dimenangkan olehnya. Ajang-ajang lintas benua lagi. Hebat, bukan? Alkisah ada seorang gadis kecil bernama Ichihiro yang baru saja pindah rumah. Ia berat hati dan murung selama perjalanan menuju kediaman baru di dalam mobil sedan bersama ayah-ibunya. Belum sampai tujuan, tiba-tiba keluarga ini menjumpai dan mampir di lokasi misterius nan menawan. Sebuah bangunan paduan kuil dan benteng dengan interior stasiun yang akan mengantar keluarga ini ke pengalaman magis. Sebuah dunia yang sunyi, indah, memikat, namun mencekam.

Singkat cerita, ayah-ibu Ichihiro (karena kekurangsopanan, ketidaksabaran, dan sedikit unsur ketamakan) berubah menjadi babi. Tinggal Ichihiro yang masih mewujud manusia. Ia panik dan ingin mengembalikan wujud ayah-ibunya ke semula di tengah dunia baru yang begitu janggal itu. Dibantu dengan sosok yang ia percayai, bernama Haku, Ichihiro mulailah berpetualang… Memilih dan menjalani tiap konsekuensi pilihannya.

Saya tak ingat kapan terakhir kali merasa hening dan aneh bercampur takjub, ketika menonton kartun, seperti ini. Spirited Away sarat falsafi dan pekat. Walau cukup panjang untuk ukuran film kartun, film ini melenakan. Bagi saya dongeng Disney pun terasa amatiran disandingkan dengannya. Mungkin banyak pula film kartun Eropa yang cerdas dan kritis, sebutlah amsal Persepolis. Nah, Spirited Away cukup keren. Ia tak menggurui dan tak sok jenius. Padahal di dalamnya bersumber selentingan pendidikan karakter (khusus hal yang satu ini, saya sangat merekomendasikan dunia pendidikan Indonesia bisa berkaca). A beautiful craft of philosophical fantasy. Klasik. [A] 09/09/11

Senin, 05 September 2011

PENAMPILAN SEBAGAI WUJUD IDENTITAS: TINJAUAN HISTORIS

Tulisan ini terpantik oleh salah satu artikel dalam buku suntingan Henk Schulte Nurdholt berjudul Outward Appearances yang ditulis oleh Kees Van Dijk dengan titel Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi. Saya tertarik karena pembahasannya yang inkonvensional dan disampaikan secara santai namun sarat wawasan. Kajian historis di dalamnya berbatasan spasial wilayah Indonesia dengan batasan temporal paralel memanjang sejak era prakolonial hingga Orde Baru.

Interaksi tiga dunia kultural: Pribumi, Barat, dan Muslim
Dinamika interaksi kultural lewat penampilan dipertunjukkan dalam pilihan kelengkapan pakaian, seperti: kerudung, rok panjang, dasi, celana, juga jas setelan gaya Barat. Alasan mengapa masing-masing kelompok sosial memilih kelengkapan tertentu sering tanpa disertai landasan yang jelas. Bisa merupakan sebuah pembeda kawan atau lawan, pun wujud sikap. Pada awal abad ke-20, misalnya, pemakaian celana panjang dibandingkan dengan sarung lantang ditentang oleh banyak Muslim di Indonesia. Mereka juga menolak dasi yang banyak dipakai orang-orang Indonesia progresif. Penutup kepala dan alas kaki tak luput dari pemaknaan simbolistik. Kain dan turban mencerminkan golongan Muslim. Kopiah dan peci hitam merupakan milik gerakan nasionalis. Topi Barat dan topi resmi menjadi representasi hegemoni kolonial. Alas kaki pun demikian, ketika bertelanjang kaki bisa berkonotasi spesifik mewakili dunia pedesaan yang mana di perkotaan banyak warganya memakai sandal, sepatu atau bot.

Kolonial
Sebelum tahun 1900, pilihan gaya penduduk biasa di Hindia-Belanda dibatasi aturan-aturan khusus buatan pemerintah kolonial tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dikenakan. Kelompok sosial yang diperkenankan memakai busana Barat adalah mereka yang dianggap erat dan fungsional kaitannya dengan pemerintah kolonial semisal kaum ningrat dan umat Protestan, selainnya wajib mengenakan pakaian daerah atau pakaian “nasional’ mereka. Pemerintah kolonial juga memanfaatkan busana sebagai media kontrol. Pada tahun 1658, suatu ordonansi dikeluarkan berisi tentang larangan orang Jawa di Batavia berbaur dengan “bangsa-bangsa” Indonesia lainnya. Mereka harus memakai kostum mereka sendiri dan tidak boleh memakai pakaian adat kelompok etnis Indonesia lain. Tujuan pemerintah kolonial menerapkan hal ini supaya mempermudah klasifikasi/pembedaan beragam kelompok etnis dalam fungsi pengawasan. Kenyataan ini baru berangsur berubah sejak demam Politik Etis dalam awal abad ke-20. Para pelopor gerakan nasionalis mulai banyak yang memakai kostum bergaya Barat.

Kemerdekaan
Pada masa awal kemerdekaan, pakaian Barat atau “modern” telah menjadi pakaian umum pria bagi elit politik nasional. Simbol nasionalisme tidak tertanam pada tipe pakaian khusus, melainkan pada peci. Soekarno menceritakan bahwa ia sendirilah yang menganugerahi peci dengan arti khusus, sebagai jembatan diskusi panas antara elit berorientasi Barat dan garda nasionalis. “Kita memerlukan sebuah simbol bagi kepribadian Indonesia. Topi jenis ini, sama dengan yang dipakai oleh para pekerja biasa bangsa Melayu, asli untuk rakyat kita. […] Marilah kita menegakkan kepala tinggi-tinggi mengemban topi ini sebagai symbol Indonesia Merdeka” (Adams, 1966: 51—52).

Orde Baru
Soeharto jarang muncul di depan publik mengenakan seragam militer, sesekali memakai kostum Jawa tradisional. Ia lebih memilih mengikuti praktik di masanya yang tergantung pada keadaan, mensyaratkan setelan Barat, celana, dan kemeja batik, atau setelan safari. Pakaian nasional yang didukung dari waktu ke waktu dalam publikasi-publikasi dan pengumuman-pengumuman pemerintah tidak pernah jelas. Faktor ekonomi atau kekayaan menjadi lebih nampak jelas dalam periode ini yang ditandai dengan munculnya kaum orang kaya baru (OKB).

Jumat, 19 Agustus 2011

Resensi Film: Toy Story 2 (1999)

Seri judul film animasi CGI yang satu ini saya tonton secara terbalik dan belum lengkap. Sedikit saya ingin mengingat kembali tentang apa yang saya alami sewaktu menonton Toy Story 3. Kala itu saya buta plot dan karakter Toy Story, tiba-tiba saja ingin coba menonton suguhan 3D untuk pertama kalinya. Mmm… khusus sensasi 3D, standarlah. Tapi, plotnya itu lo… di dalam kegelaman ruangan bioskop terselip beberapa kali mata saya berkaca-kaca. Betapa tidak? Alur kisah persahabatan dan nilai keluarga yang sukses disampaikan secara inosens.

Hampir senada dengan seri ketiga, seri kedua masih bercerita ketika sekelompok mainan boneka koboi bernama Woody dkk., yang terancam di-“buang” pemiliknya, terseret dalam petualangan besar karena menyelamatkan teman yang hendak dilelang sebab sudah usang. Kasihan. Dari premis ini saja kita sudah bisa membayangkan bagaimana pedihnya jika boneka/mainan itu adalah kita (baca: manusia). Hwa3… Dijamin nangis! Si pemilik koleksi boneka yang bernama Andy tak banyak berkontribusi dalam plot di sini. Ia hanya dikisahkan tak jadi membawa Woody ketika berkemah lantaran tangan Woody tak sengaja robek dan belum sempat dijahit karena keburu berangkat kemah. Dari rumah Andy, toko mainan besar, sampai bandara semuanya jadi medan petualangan Woody dkk.

Warna-warna yang disuguhkan sangat bersahabat dan menyenangkan. Pastel, penuh dengan keriangan. Saya jadi betah dan jenak menikmati keindahannya. Musik pengiringnya biasa sajalah, tapi OST-nya itu ngepas banget dengan salah satu scene cemerlangnya. Yakni ketika pengadegan montase di balik terbuangnya teman wanita Woody (namanya kalau tidak salah Jessie). Sebuah lagu berjudul When She Loved Me yang dinyanyikan Sarah McLachlan diperdengarkan. Berkali-kali Pixar menghadirkan karya pilihan. Walau yang satu ini tak teramat spesial dari segi kejutan, tapi keriangan dan kegemasan di tiap adegan kecilnya membuat saya terhibur. [B] 19/08/11

Minggu, 14 Agustus 2011

Jepretan: Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang (16/07/11)






Note.
Subhanallah... Meski hanya kurang dari setengah hari ke Semarang. Saya langsung memanfaatkan waktu berkunjung (dan salat tentunya) ke Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Waktu tak banyak, langsung saja jeprat-jepret naik ke menara dan menikmati sejenak lanskap Kota Semarang. Next time, wanna go to Lawang Sewu. Insya Allah...

Pasca-Membaca "Nasional.Is.Me"-nya Pandji Pragiwaksono

Sudah lama tak baca buku, keasyikan belajar siasat dan trik tes TOEFL. Tiba-tiba bisa kecanduan sekilas nuntasin buku karya Pandji Pragiwaksono bertitel Nasional.Is.Me. Ceritanya begini... Suatu pagi saya (seperti biasa) berstatus invisible di Y!M, di situ saya lihat teman saya sedang online dan muter lagunya Pandji berjudul apa gitu. Terus saya sapa dan sahut saja... mengingat saya sering dengar Hard Rock FM sewaktu masih merantau cari nafkah di Jakarta. Tanya tentang bagaimana lagu-lagu Pandji. Eh, teman saya tahu-tahu bilang dia jadi enggan bepergian ke Thai atau Viet dan lebih memilih destinasi domestik setelah baca Nasional.Is.Me. Whoa... penasaran saya jadinya tentang how strong this book affects its readers jadinya? Saya dikasih rekomendasi buat ngunduh pdf-nya via pandji.com (thx Aji...). Sampailah saya di laman tersebut dan busyet! Saya baru nyadar, Pandji yang dimaksud itu Pandji yang sering nongol di TV. Ya ampun, kemana aja saya selama ini... Hello?

Mulai baca. Kebetulan waktu itu saya sedang di kantor, pakai fasilitas internet kantor pula buat unduh file (sekadar informasi, saya bekerja di instansi pemerintah). Semoga ini bukan bagian dari korupsi apapun itu jenisnya, bismillah saya selalu berniat melakukan sesuatu yang bermanfaat di waktu senggang. Maklum di kerjaan saya memang sangat berlimpah waktu selanya (you know-lah?), ketimbang join RERASAN CLUB yang doyan berbuih-buih bin mumpluk ngerasani sana-sini dan amit-amit!!!! Sepuluh halaman pertama memuat perasaan tertarik amat sangatnya. Konsep tulisan Pandji santai, lugas, jujur, dan tak overakting. Teknisnya pun ayik karena tak rapi tipe justify kayak ngetik makalah. Jadi bacanya enjoy dan (yang terpenting) cepat ganti halaman. Hwa3....

Buku ini semacam persuasi provokatif bagi apatis-er sampai level ke bawahnya dalam memandang Indonesia. Intinya, tak seburuk itu kok Indonesia dan kalau peduli dan mau kamu tentu bisa berbuat sesuatu untuknya. Yang lebih memalukan lagi, saya tak pernah menggagas apa sih itu Indonesia Unite. Dan lewat baca tulisan ini saya baru tahu macam apakah Indonesia Unite itu. Saya takkan membahasnya di sini. Saya akan lebih fokus pada pengalaman dan apa yang tersisa dalam diri selama dan setelah membaca Nasional.Is.Me. Judulnya aja lucu dan kreatif ya. Salut buat Mas Pandji yang mau blak-blakan dan membuka diri guna berbagi sesama ihwal latar belakang dan pengalaman hidupnya. Acapkali saya terharu (dalam artian sebenarnya) ketika melintasi bagian-bagian yang humanis nan emosional. Itu tersebar di banyak bagian dalam tulisan ini. Mulai masa sekolahnya sampai caption pada halaman terakhir.

Saya sangat tertarik dengan perjalanan kisah SD-SMP-SMA, terutama waktu SMA. Beneran, kalau saya kreatif dan punya senses of film-making bagus pasti sudah bisa menyiapkan rencana pembuatan filmnya. Tak semua orang punya pengalaman hidup yang sama. Itu yang membuat masing-masing cerita jadi unik dan bernilai lebih kalau kita bisa menceritrerakannya secara bersemangat dan seru (ingat karakter Forrest Gump jadinya). Halaman demi halaman saya lewati, makin ke sini makin membuat saya malu karena merasa belum bisa berbuat sesuatu untuk negeri sekalipun sekarang sudah menjadi CALON staf pemerintah. Sementara di dalam dan luar kantor saya malah lebih sering enjoy ngenyek-ngenyek dan murka atas perlakuan lembaga terhadap diri. Semoga saja takkan berkepanjangan dan bisa mendorong ke arah yang lebih baik. Amin. Tapi jujur, pelampiasan itu perlu karena akan menghasilkan energi negatif kalau terus-terusan dipendam.

Nasional.Is.Me membuat khayal saya sepintas berkeliling ke beberapa pelosok negeri. Bagian yang disampaikan setelah babak tentang sekolah dan olahraga. Pada bagian olahraga, saya mengamini juga bahwa salah satu momen kebersatuan negeri ini ya pas pertandingan melawan negara lain. Semua yang tadinya berantem bisa menjadi satu-padu. Dari mana kekuatan ini berasal kalau kita sendiri telah menyadari bahwa kita ini satu. Memang musti terus diasah, kalau perlu dipaksakan. Saya harap, kalau ingin benar-benar membuat tulisan ini spesial ketika membacanya mohon dikesampingkan dulu prinsip ala Imagine-nya John Lennon sejenak karena kita sekarang sedang membicarakan Indonesia, yang dibatasi faktor yuridis dan geografis.

Saya salut dengan cetusan Indonesia Unite yang mengobarkan semangat revitalisasi nasionalisme. Sekarang masih banyak yang mendiskusikannya tentang apakah masih ada, relevankah, apa penggantinya. Bagi saya pribadi, silakan lakukan apapun yang bisa dikerjakan asal positif dan berusaha tidak berjalan di tempat. Capeknya terasa mubadzir. Negara kita tercinta ini tak hanya kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya melainkan juga wacana. Manfaatkan itu untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun. Memang Pandji dalam buku ini tak menyarankan dan menolak terjadinya revolusi karena negara ini sudah on the track. Tapi bagi saya, kaum revolusioner pun silakan meneruskan persiapan kematangan dalam eksekusi dan visinya asal tak mengganggu dan mengorbankan perdamaian dan segala kebaikan yang sudah ada di Indonesia.

Mari kita lakukan dengan cara masing-masing. Saya pribadi takkan malu untuk memulai dengan hal remeh, misal membuang sampah pada tempatnya. Bagi negara yang sebentar lagi berusia 66 tahun ini hal kecil apapun akan terasa besar manfaatnya kelak. Gila apa, buang sampah aja masih sebarangan padahal sudah berkepala enam. Apa tak kurang menyedihkan? Inilah investasi bagi pendekatan sekuler, untuk yang relijius bisa jadi jariyah. Insya Allah... Temukan teman-teman sevisi demi menjadi stabilitas pelita semangat. Konsisten untuk sedikit demi sedikit menular-sultutkan ke yang lain. Sudah jamak diketahui bahwa pada hakikatnya manusia dilahirkan bersih. Lama-kelamaan pasti akan ada yang tersetrum jika yang kita lakukan merupakan murninya kebaikan. Biarkan sumbu ini menyala hingga lilin meleleh habis. 13/08/11

Minggu, 07 Agustus 2011

Resensi Film: Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 (2011)

Selang satu dekade berlalu, sebuah seri kisah petualangan trio di dunia sihir berakhir. Berasa telah menjadi bagian dari tak hanya kru pembuat film namun juga pemirsanya. Saya jadi teringat ketika pertama kali menonton seri pertama Potter lewat VCD bajakan yang mutunya bikin muntah-muntah. Macam colongan syut di dalam bioskop.

Tentu bukanlah kisah penutup yang dinanti-nantikan para pemirsanya lewat seri pungkasan ini karena telah umum diketahui dari bukunya, melainkan bagaimana adaptasi dan visualisasinya. Ekspektasi saya menonton seri ini hanya satu, semoga lebih baik ketimbang seri sebelumnya. Film dibuka persis dengan adegan penutup dalam Part 1. Alhamdulillah... Untung tak terwara “sebelumnya... di Part 1” (seperti dalam sinetron Cinta Fitri). Kencangkan sabuk pengaman sejak dini karena seri ini langsung tancap gas.

Kalau dalam Part 1 saya sangat bersyukur (seingat saya) tak tersaji format 3D, tapi seri pungkasan ini tak salah jika Anda menikmatinya dalam format 3D karena beberapa adegan berpotensi sensasional. Seketika, saya langsung berpikir mengapa tak dibuat saja The Deathly Hallows dalam satu judul alias tak perlu dipisah namun dengan durasi yang disesuaikan. Lord of the Rings saja mampu menyajikan dengan baik tiap serinya. Selain itu, sayang tak terlalu banyak agenda strada yang membidani seri Potter (tercatat hanya 4: Chris Columbus, Alfonso Cuaron, Mike Newell, dan David Yates). Bayangkan saja jadinya jika Potter distradai oleh Tim Burton, Peter Jackson, dll.

Beberapa komentar dari teman saya yang telah membaca bukunya... Ada yang bilang terlalu maksa memasukkan adegan-adegan ciuman, juga ada yang berpendapat untuk sebuah penutupan kurang akbar. Saya pikir sangat wajar dengan lontaran komentar demikian jika kita sudah membaca bukunya. Bagi yang belum, sensasi akan terasa sedikit berbeda karena belum mengetahui jalinan akhir kisahnya ditambah dengan intensitas plot yang solid akan mengesankan tingkat keseruan yang lebih maksimal.

Beberapa adegan yang cukup “cape deh...”, semisal pengadegan Potter dalam kondisi “sekarat” dan “19 tahun kemudian” menjadi cukup terkubur. Secara keseluruhan, David Yates membayar lunas kekhilafannya dalam Part 1 dan menyajikan win-win solution bagi pemirsa Potter. Sebuah khatam yang sukses menuntaskan penasaran. [A-] 07/08/11

Rabu, 03 Agustus 2011

Resensi Film: Hereafter (2010)

Tua-tua keladi. Mungkin itu peribahasa yang pas saya sematkan bagi Clint Eastwood. Betapa produktif dan intimnya film-film drama besutan aki-aki ini. Alam bawah sadar saya selalu merindukan karya-karya Eastwood. Kali ini datang dari sebuah judul yang nilai konsensus dari kritikus filmnya bias dibilang biasa-biasa saja. Saya agak terkejut juga karena biasanya film Eastwood selalu dapat skor tinggi. Tapi saya takkan ikut-ikutan menghakimi sebelum menontonnya sendiri.

Apa yang akan terjadi setelah kematian? Pertanyaan ini menjadi peluit start. Lewat tiga cerita paralel, Hereafter menjalin ikatan kisah senasib-sepenanggunan atas tiga karakter utama lintas negara: (1) wanita karier asal Paris berprestasi gemilang yang menjalani “hidup kedua” pascamusibah tsunami kala piknik; (2) seorang cenayang—diperankan Matt Damon—warga San Fransisco yang akan bertobat melakukan pembacaan; (2) bocah yang tinggal di London sedang merindu dan berat melepas kepergian saudara kembarnya.

Menonton film multiplot pasti memancing tanya bagaimana jadinya mereka bertiga nanti. Akankah saling berhubungan atau dibiarkan saja bak fragmen berserakan. Eastwood memilih formula khas Hollywood yang takkan menelantarkan penontonnya dengan tanda tanya besar berbuntut diskusi panjang dan debat kusir. Tapi inilah yang ke depannya malah jadi bumerang Hereafter.

Si cenayang merasa kehidupan sosialnya tersiksa. Ia merasa berkat yang ia punya merupakan sebuah kutukan. Hanya bersentuhan tangan, tanpa kesengajaan pembacaan, pun indera keenamnya langsung terkoneksi dengan entitas gaib dari orang yang disentuhnya. Wanita karier asal Paris yang merasa sempat memasuki alam kematian spontan gairah dan orientasi hidupnya berbalik 360 derajat. Ia tak tertarik lagi dengan popularitas dan kekayaan, fokusnya hanya mendalami apa yang telah terjadi pada dirinya dan berbagi kisah hidupnya pada sesama. Si Bocah dari London gamang atas situasi yang menghimpitnya. Tiba-tiba ia kehilangan panutan yang bukan lain merupakan kembarannya. Ia kesana-kemari mencari jalan untuk bias berkomunikasi dengan mendiang saudaranya.

Bukan Eastwood kalau tak memperdalam nilai-nilai maknawi pencarian. Itulah kekuatan Hereafter. Ia mengajak penonton juga mencari dengan cara yang lembut, tak grusah-grusuh. Menuntun dan membebaskan perasaan. Tapi tema semacam ini bakal sulit dan pasti akan selalu susah dikembangkan. Mengapa demikian? Karena semua bermain dengan pengandaian dan ihwal keyakinan. Hereafter pun tak bias lolos dari jebakan demikian.

Tiga per empat awal bagian film begitu terasa mengalir. Baru kelihatan bingung ketika menginjak naskah bagian akhir tentang mau dibawa kemana multiplot bertemakan sentuhan kematian ini. Penulis naskah pilih menyudahinya sebagai sebuah romantisme khas ending film drama komedi. Sah-sah saja, namun sayangnya tak terbangun konstruksi utuh mengenai kisah cinta di sini. Saya sadar bahwa masalah ketiganya tuntas di bagian akhir film, namun cubitan-cubitan adegan hingga paro film tak mengarahkan dengan jenis ending yang dihasilkan. Sebuah kejutan yang tak disangka namun meleleh seperti mendapati es krim yang dibeli dari supermarket telah lumer sesampai di rumah. [B-] 03/08/11