Pelembagaan agama. Satu kata yang pasti terpintas ketika membahas tentang Iran. Offside saya tonton di Metro TV lewat programnya World Cinema yang lagi-lagi menayangkan terkait Iran (setelah Persepolis di minggu sebelumnya). Bukan suatu istilah asing lagi. Offside berarti pelanggaran karena berada di belakang baris pertahanan lawan ketika bola dilancarkan pada pemain ybs. Kali ini yang mencoba peruntungan offside adalah kaum hawa Iran yang hendak diam-diam menonton secara langsung pertandingan sepakbola kualifikasi piala dunia Iran melawan Bahrain di stadion utama.
Lewat film ini, saya baru tahu bagaimana Iran menjalankan politisasi agamanya sedemikian ketat. Kaum adam dan hawa tak boleh menonton pertandingan secara bercampur dan harus menonton acara yang sejenis kelamin. Mengapa hal ini bisa terjadi dan atas dasar apa implementasinya? Dalam film inilah dipertontonkan dialog lugas, kolokial, nan kritis lewat antarkarakter. Beberapa wanita ditawan petugas penjaga keamanan sebelum mereka berhasil menembus masuk stadion (ada yang sudah berhasil masuk namun diciduk belakangan). Set mayoritas berlangsung di area di mana wanita-wanita ini ditawan dan dijaga ketat supaya tak masuk stadion.
Satu lagi bentuk film khas Iran yang sepanjang plot hanya menampilkan kejadian beberapa jam, tak sampai berganti hari, namun tetap padat dan sarat makna. Film ini menunjukkan apa itu dilema, apa itu tugas, dan apa itu kebebasan bertanggung jawab. Semua yang tadinya bisa ditafsirkan bervariasi menjadi tak berkembang hanya dengan batas yang digariskan oleh suatu lembaga yang bernama aturan (baca: negara). Tentu saja, Offside kan berucap c’est la vie! [B+] 11/09/11
Senin, 12 September 2011
Resensi Film: 7 Wanita 7 Dunia 7 Cinta (2010)
Libur lebaran menguntungkan bagi penikmat film domestik. Beragam stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan film-film negeri sendiri. Tak peduli ngepas atau tidak dengan momennya, yang jelas bertujuan menjaring pemirsa lewat slogan pemasaran “tayang perdana”-nya.
Dari sekian banyak judul yang ditawarkan, hanya 1 yang memikat saya yakni 777. Jauh-jauh hari saya pernah membaca resensi film ini lewat tulisan Leila S. Chudori (Tempo), yang cukup membuat saya penasaran dan minat nonton. Berkisahkan tentang seorang dokter kandungan yang menghadapi pasien-pasien loyalnya dengan segambreng kompleksitas. Ada siswi SMP yang takut hamil di luar nikah, ada PSK yang mengambil tes laboratorium, ada pasangan ria yang ingin punya anak, dsb.
Ironisnya dokter perempuan ini belum menikah (dan tentu belum punya anak). Sambil disuguh fragmen kisah subplot yang kocak, teka-teki, dan serius, 777 ternyata berkerangka besar membicarakan pandangan emansipasi dan realitanya. Hal besar yang terakhir ini malah kemudian menjadi monster seram yang menenggelamkan kelucuan dan misteri plot. Jatuh-jatuhnya terkesan Hollywood-ish.
Saya sangat bahagia mengetahui masih ada film-film komersial domestik yang berkualitas, termasuk 777 ini. Betapa tidak? Film ini mampu soroti aktualita sosial lewat bungkus semikarikatural dan “kuliahan”. Secara keseluruhan, saya puas dengan jalinan subplot dalam 777 namun tidak dengan kerangka besarnya (yang membicarakan emansipasi secara vulgar). [B] 11/09/11
Dari sekian banyak judul yang ditawarkan, hanya 1 yang memikat saya yakni 777. Jauh-jauh hari saya pernah membaca resensi film ini lewat tulisan Leila S. Chudori (Tempo), yang cukup membuat saya penasaran dan minat nonton. Berkisahkan tentang seorang dokter kandungan yang menghadapi pasien-pasien loyalnya dengan segambreng kompleksitas. Ada siswi SMP yang takut hamil di luar nikah, ada PSK yang mengambil tes laboratorium, ada pasangan ria yang ingin punya anak, dsb.
Ironisnya dokter perempuan ini belum menikah (dan tentu belum punya anak). Sambil disuguh fragmen kisah subplot yang kocak, teka-teki, dan serius, 777 ternyata berkerangka besar membicarakan pandangan emansipasi dan realitanya. Hal besar yang terakhir ini malah kemudian menjadi monster seram yang menenggelamkan kelucuan dan misteri plot. Jatuh-jatuhnya terkesan Hollywood-ish.
Saya sangat bahagia mengetahui masih ada film-film komersial domestik yang berkualitas, termasuk 777 ini. Betapa tidak? Film ini mampu soroti aktualita sosial lewat bungkus semikarikatural dan “kuliahan”. Secara keseluruhan, saya puas dengan jalinan subplot dalam 777 namun tidak dengan kerangka besarnya (yang membicarakan emansipasi secara vulgar). [B] 11/09/11
Resensi Film: Persepolis (2007)
Terima kasih untuk Metro TV yang dalam acara mingguannya World Cinema memutar Persepolis. Nonton gratis deh jadinya… Kala menonton, saya bersama mas dan ibu. Mas saya syok karena malam-malam kok nayangin film kartun. Saya pun demikian. Berbeda dengan ibu saya yang biasa-biasa saja menanggapinya. Batin saya berkata, pasti ini bukan kartun sembarang cerita.
Benar adanya. Persepolis memang kartun semipolitik nan menggelitik. Sejak awal, desain produksinya menarik. Memang khas film Prancis sih, jadi mungkin jika dibandingkan dengan film-film Prancis ya biasa aja. Format kartun dua dimensi dengan sentuhan sedikit tiga dimensi ini mengisahkan perjalanan intelektual bocah gadis Iran hingga menjadi wanita imigran di benua biru (Eropa).
Ia hidup di lingkungan keluarga progresif alias kontrakonservatif. Dalam film, nampaknya strada memilih jalan hitam-putih untuk menajamkan perbedaan ideologis antara pandangan mikro dan politik negeri Iran yang terlalu digambarkan represif. Keluarga ini secara tak langsung membentuk karakter si bocah gadis ini untuk bermental pemberontak. Menimbang ketidakcocokan situasi negara bagi perkembangan puterinya, maka sang orang tua mengirim si bocah gadis ini hidup di Eropa. Sebuah metafora impian kebebasan. Apakah kebebasan lantas kan didapat?
Yang saya suka dari film ini adalah niatnya yang tak tanggung-tanggung menampilkan kekirian ideologi, lewat beberapa pandangan yang dikemas secara serius dan komedikal. Beberapa adegan imajinatif ekstrem khas bocah cukup menggelikan. Yang saya kurang senangi dari Persepolis adalah tingkat konsistensi plot yang tak terjaga. Awalnya seru, tengahnya luntur, akhirnya pupus. Yah, inilah film dengan keutamaan pikiran. Rasa seakan-akan tak terbelai. Bonus utama dari film ini adalah referensi atmosfer kehidupan sosiopolitik bernegara di daratan eks-Persia. [B-] 11/09/11
Benar adanya. Persepolis memang kartun semipolitik nan menggelitik. Sejak awal, desain produksinya menarik. Memang khas film Prancis sih, jadi mungkin jika dibandingkan dengan film-film Prancis ya biasa aja. Format kartun dua dimensi dengan sentuhan sedikit tiga dimensi ini mengisahkan perjalanan intelektual bocah gadis Iran hingga menjadi wanita imigran di benua biru (Eropa).
Ia hidup di lingkungan keluarga progresif alias kontrakonservatif. Dalam film, nampaknya strada memilih jalan hitam-putih untuk menajamkan perbedaan ideologis antara pandangan mikro dan politik negeri Iran yang terlalu digambarkan represif. Keluarga ini secara tak langsung membentuk karakter si bocah gadis ini untuk bermental pemberontak. Menimbang ketidakcocokan situasi negara bagi perkembangan puterinya, maka sang orang tua mengirim si bocah gadis ini hidup di Eropa. Sebuah metafora impian kebebasan. Apakah kebebasan lantas kan didapat?
Yang saya suka dari film ini adalah niatnya yang tak tanggung-tanggung menampilkan kekirian ideologi, lewat beberapa pandangan yang dikemas secara serius dan komedikal. Beberapa adegan imajinatif ekstrem khas bocah cukup menggelikan. Yang saya kurang senangi dari Persepolis adalah tingkat konsistensi plot yang tak terjaga. Awalnya seru, tengahnya luntur, akhirnya pupus. Yah, inilah film dengan keutamaan pikiran. Rasa seakan-akan tak terbelai. Bonus utama dari film ini adalah referensi atmosfer kehidupan sosiopolitik bernegara di daratan eks-Persia. [B-] 11/09/11
Jumat, 09 September 2011
Resensi Film: Spirited Away (2002)
Awalnya saya sudah tahu betul film ini dielu-elukan sebagai karya hampir sempurna hanya dari membaca konsensus resensi kritikus film. Seringnya saya memilih mencibir dulu jika menghadapi film-film yang overrated seperti ini, seperti halnya pada Slumdog Millionaire. Tapi tak sah rasanya kalau belum coba menonton. Untung saja saya mendapatkan file-nya dari sebuah warnet. Simpan di flashdisk, tonton di rumah.
Spirited Away, sebuah kartun Jepang karya strada Hayao Miyazaki yang menurut teman bekebangsaan-Jepang saya memang rajin membuat film-film bermutu dan laku di pasaran. Coba saja Anda lihat prestasi film kartun 2 jam-an ini, hampir semua penghargaan nomine best animated feature dimenangkan olehnya. Ajang-ajang lintas benua lagi. Hebat, bukan? Alkisah ada seorang gadis kecil bernama Ichihiro yang baru saja pindah rumah. Ia berat hati dan murung selama perjalanan menuju kediaman baru di dalam mobil sedan bersama ayah-ibunya. Belum sampai tujuan, tiba-tiba keluarga ini menjumpai dan mampir di lokasi misterius nan menawan. Sebuah bangunan paduan kuil dan benteng dengan interior stasiun yang akan mengantar keluarga ini ke pengalaman magis. Sebuah dunia yang sunyi, indah, memikat, namun mencekam.
Singkat cerita, ayah-ibu Ichihiro (karena kekurangsopanan, ketidaksabaran, dan sedikit unsur ketamakan) berubah menjadi babi. Tinggal Ichihiro yang masih mewujud manusia. Ia panik dan ingin mengembalikan wujud ayah-ibunya ke semula di tengah dunia baru yang begitu janggal itu. Dibantu dengan sosok yang ia percayai, bernama Haku, Ichihiro mulailah berpetualang… Memilih dan menjalani tiap konsekuensi pilihannya.
Saya tak ingat kapan terakhir kali merasa hening dan aneh bercampur takjub, ketika menonton kartun, seperti ini. Spirited Away sarat falsafi dan pekat. Walau cukup panjang untuk ukuran film kartun, film ini melenakan. Bagi saya dongeng Disney pun terasa amatiran disandingkan dengannya. Mungkin banyak pula film kartun Eropa yang cerdas dan kritis, sebutlah amsal Persepolis. Nah, Spirited Away cukup keren. Ia tak menggurui dan tak sok jenius. Padahal di dalamnya bersumber selentingan pendidikan karakter (khusus hal yang satu ini, saya sangat merekomendasikan dunia pendidikan Indonesia bisa berkaca). A beautiful craft of philosophical fantasy. Klasik. [A] 09/09/11
Spirited Away, sebuah kartun Jepang karya strada Hayao Miyazaki yang menurut teman bekebangsaan-Jepang saya memang rajin membuat film-film bermutu dan laku di pasaran. Coba saja Anda lihat prestasi film kartun 2 jam-an ini, hampir semua penghargaan nomine best animated feature dimenangkan olehnya. Ajang-ajang lintas benua lagi. Hebat, bukan? Alkisah ada seorang gadis kecil bernama Ichihiro yang baru saja pindah rumah. Ia berat hati dan murung selama perjalanan menuju kediaman baru di dalam mobil sedan bersama ayah-ibunya. Belum sampai tujuan, tiba-tiba keluarga ini menjumpai dan mampir di lokasi misterius nan menawan. Sebuah bangunan paduan kuil dan benteng dengan interior stasiun yang akan mengantar keluarga ini ke pengalaman magis. Sebuah dunia yang sunyi, indah, memikat, namun mencekam.
Singkat cerita, ayah-ibu Ichihiro (karena kekurangsopanan, ketidaksabaran, dan sedikit unsur ketamakan) berubah menjadi babi. Tinggal Ichihiro yang masih mewujud manusia. Ia panik dan ingin mengembalikan wujud ayah-ibunya ke semula di tengah dunia baru yang begitu janggal itu. Dibantu dengan sosok yang ia percayai, bernama Haku, Ichihiro mulailah berpetualang… Memilih dan menjalani tiap konsekuensi pilihannya.
Saya tak ingat kapan terakhir kali merasa hening dan aneh bercampur takjub, ketika menonton kartun, seperti ini. Spirited Away sarat falsafi dan pekat. Walau cukup panjang untuk ukuran film kartun, film ini melenakan. Bagi saya dongeng Disney pun terasa amatiran disandingkan dengannya. Mungkin banyak pula film kartun Eropa yang cerdas dan kritis, sebutlah amsal Persepolis. Nah, Spirited Away cukup keren. Ia tak menggurui dan tak sok jenius. Padahal di dalamnya bersumber selentingan pendidikan karakter (khusus hal yang satu ini, saya sangat merekomendasikan dunia pendidikan Indonesia bisa berkaca). A beautiful craft of philosophical fantasy. Klasik. [A] 09/09/11
Senin, 05 September 2011
PENAMPILAN SEBAGAI WUJUD IDENTITAS: TINJAUAN HISTORIS
Tulisan ini terpantik oleh salah satu artikel dalam buku suntingan Henk Schulte Nurdholt berjudul Outward Appearances yang ditulis oleh Kees Van Dijk dengan titel Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi. Saya tertarik karena pembahasannya yang inkonvensional dan disampaikan secara santai namun sarat wawasan. Kajian historis di dalamnya berbatasan spasial wilayah Indonesia dengan batasan temporal paralel memanjang sejak era prakolonial hingga Orde Baru.
Interaksi tiga dunia kultural: Pribumi, Barat, dan Muslim
Dinamika interaksi kultural lewat penampilan dipertunjukkan dalam pilihan kelengkapan pakaian, seperti: kerudung, rok panjang, dasi, celana, juga jas setelan gaya Barat. Alasan mengapa masing-masing kelompok sosial memilih kelengkapan tertentu sering tanpa disertai landasan yang jelas. Bisa merupakan sebuah pembeda kawan atau lawan, pun wujud sikap. Pada awal abad ke-20, misalnya, pemakaian celana panjang dibandingkan dengan sarung lantang ditentang oleh banyak Muslim di Indonesia. Mereka juga menolak dasi yang banyak dipakai orang-orang Indonesia progresif. Penutup kepala dan alas kaki tak luput dari pemaknaan simbolistik. Kain dan turban mencerminkan golongan Muslim. Kopiah dan peci hitam merupakan milik gerakan nasionalis. Topi Barat dan topi resmi menjadi representasi hegemoni kolonial. Alas kaki pun demikian, ketika bertelanjang kaki bisa berkonotasi spesifik mewakili dunia pedesaan yang mana di perkotaan banyak warganya memakai sandal, sepatu atau bot.
Kolonial
Sebelum tahun 1900, pilihan gaya penduduk biasa di Hindia-Belanda dibatasi aturan-aturan khusus buatan pemerintah kolonial tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dikenakan. Kelompok sosial yang diperkenankan memakai busana Barat adalah mereka yang dianggap erat dan fungsional kaitannya dengan pemerintah kolonial semisal kaum ningrat dan umat Protestan, selainnya wajib mengenakan pakaian daerah atau pakaian “nasional’ mereka. Pemerintah kolonial juga memanfaatkan busana sebagai media kontrol. Pada tahun 1658, suatu ordonansi dikeluarkan berisi tentang larangan orang Jawa di Batavia berbaur dengan “bangsa-bangsa” Indonesia lainnya. Mereka harus memakai kostum mereka sendiri dan tidak boleh memakai pakaian adat kelompok etnis Indonesia lain. Tujuan pemerintah kolonial menerapkan hal ini supaya mempermudah klasifikasi/pembedaan beragam kelompok etnis dalam fungsi pengawasan. Kenyataan ini baru berangsur berubah sejak demam Politik Etis dalam awal abad ke-20. Para pelopor gerakan nasionalis mulai banyak yang memakai kostum bergaya Barat.
Kemerdekaan
Pada masa awal kemerdekaan, pakaian Barat atau “modern” telah menjadi pakaian umum pria bagi elit politik nasional. Simbol nasionalisme tidak tertanam pada tipe pakaian khusus, melainkan pada peci. Soekarno menceritakan bahwa ia sendirilah yang menganugerahi peci dengan arti khusus, sebagai jembatan diskusi panas antara elit berorientasi Barat dan garda nasionalis. “Kita memerlukan sebuah simbol bagi kepribadian Indonesia. Topi jenis ini, sama dengan yang dipakai oleh para pekerja biasa bangsa Melayu, asli untuk rakyat kita. […] Marilah kita menegakkan kepala tinggi-tinggi mengemban topi ini sebagai symbol Indonesia Merdeka” (Adams, 1966: 51—52).
Orde Baru
Soeharto jarang muncul di depan publik mengenakan seragam militer, sesekali memakai kostum Jawa tradisional. Ia lebih memilih mengikuti praktik di masanya yang tergantung pada keadaan, mensyaratkan setelan Barat, celana, dan kemeja batik, atau setelan safari. Pakaian nasional yang didukung dari waktu ke waktu dalam publikasi-publikasi dan pengumuman-pengumuman pemerintah tidak pernah jelas. Faktor ekonomi atau kekayaan menjadi lebih nampak jelas dalam periode ini yang ditandai dengan munculnya kaum orang kaya baru (OKB).
Interaksi tiga dunia kultural: Pribumi, Barat, dan Muslim
Dinamika interaksi kultural lewat penampilan dipertunjukkan dalam pilihan kelengkapan pakaian, seperti: kerudung, rok panjang, dasi, celana, juga jas setelan gaya Barat. Alasan mengapa masing-masing kelompok sosial memilih kelengkapan tertentu sering tanpa disertai landasan yang jelas. Bisa merupakan sebuah pembeda kawan atau lawan, pun wujud sikap. Pada awal abad ke-20, misalnya, pemakaian celana panjang dibandingkan dengan sarung lantang ditentang oleh banyak Muslim di Indonesia. Mereka juga menolak dasi yang banyak dipakai orang-orang Indonesia progresif. Penutup kepala dan alas kaki tak luput dari pemaknaan simbolistik. Kain dan turban mencerminkan golongan Muslim. Kopiah dan peci hitam merupakan milik gerakan nasionalis. Topi Barat dan topi resmi menjadi representasi hegemoni kolonial. Alas kaki pun demikian, ketika bertelanjang kaki bisa berkonotasi spesifik mewakili dunia pedesaan yang mana di perkotaan banyak warganya memakai sandal, sepatu atau bot.
Kolonial
Sebelum tahun 1900, pilihan gaya penduduk biasa di Hindia-Belanda dibatasi aturan-aturan khusus buatan pemerintah kolonial tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dikenakan. Kelompok sosial yang diperkenankan memakai busana Barat adalah mereka yang dianggap erat dan fungsional kaitannya dengan pemerintah kolonial semisal kaum ningrat dan umat Protestan, selainnya wajib mengenakan pakaian daerah atau pakaian “nasional’ mereka. Pemerintah kolonial juga memanfaatkan busana sebagai media kontrol. Pada tahun 1658, suatu ordonansi dikeluarkan berisi tentang larangan orang Jawa di Batavia berbaur dengan “bangsa-bangsa” Indonesia lainnya. Mereka harus memakai kostum mereka sendiri dan tidak boleh memakai pakaian adat kelompok etnis Indonesia lain. Tujuan pemerintah kolonial menerapkan hal ini supaya mempermudah klasifikasi/pembedaan beragam kelompok etnis dalam fungsi pengawasan. Kenyataan ini baru berangsur berubah sejak demam Politik Etis dalam awal abad ke-20. Para pelopor gerakan nasionalis mulai banyak yang memakai kostum bergaya Barat.
Kemerdekaan
Pada masa awal kemerdekaan, pakaian Barat atau “modern” telah menjadi pakaian umum pria bagi elit politik nasional. Simbol nasionalisme tidak tertanam pada tipe pakaian khusus, melainkan pada peci. Soekarno menceritakan bahwa ia sendirilah yang menganugerahi peci dengan arti khusus, sebagai jembatan diskusi panas antara elit berorientasi Barat dan garda nasionalis. “Kita memerlukan sebuah simbol bagi kepribadian Indonesia. Topi jenis ini, sama dengan yang dipakai oleh para pekerja biasa bangsa Melayu, asli untuk rakyat kita. […] Marilah kita menegakkan kepala tinggi-tinggi mengemban topi ini sebagai symbol Indonesia Merdeka” (Adams, 1966: 51—52).
Orde Baru
Soeharto jarang muncul di depan publik mengenakan seragam militer, sesekali memakai kostum Jawa tradisional. Ia lebih memilih mengikuti praktik di masanya yang tergantung pada keadaan, mensyaratkan setelan Barat, celana, dan kemeja batik, atau setelan safari. Pakaian nasional yang didukung dari waktu ke waktu dalam publikasi-publikasi dan pengumuman-pengumuman pemerintah tidak pernah jelas. Faktor ekonomi atau kekayaan menjadi lebih nampak jelas dalam periode ini yang ditandai dengan munculnya kaum orang kaya baru (OKB).
Jumat, 19 Agustus 2011
Resensi Film: Toy Story 2 (1999)
Seri judul film animasi CGI yang satu ini saya tonton secara terbalik dan belum lengkap. Sedikit saya ingin mengingat kembali tentang apa yang saya alami sewaktu menonton Toy Story 3. Kala itu saya buta plot dan karakter Toy Story, tiba-tiba saja ingin coba menonton suguhan 3D untuk pertama kalinya. Mmm… khusus sensasi 3D, standarlah. Tapi, plotnya itu lo… di dalam kegelaman ruangan bioskop terselip beberapa kali mata saya berkaca-kaca. Betapa tidak? Alur kisah persahabatan dan nilai keluarga yang sukses disampaikan secara inosens.
Hampir senada dengan seri ketiga, seri kedua masih bercerita ketika sekelompok mainan boneka koboi bernama Woody dkk., yang terancam di-“buang” pemiliknya, terseret dalam petualangan besar karena menyelamatkan teman yang hendak dilelang sebab sudah usang. Kasihan. Dari premis ini saja kita sudah bisa membayangkan bagaimana pedihnya jika boneka/mainan itu adalah kita (baca: manusia). Hwa3… Dijamin nangis! Si pemilik koleksi boneka yang bernama Andy tak banyak berkontribusi dalam plot di sini. Ia hanya dikisahkan tak jadi membawa Woody ketika berkemah lantaran tangan Woody tak sengaja robek dan belum sempat dijahit karena keburu berangkat kemah. Dari rumah Andy, toko mainan besar, sampai bandara semuanya jadi medan petualangan Woody dkk.
Warna-warna yang disuguhkan sangat bersahabat dan menyenangkan. Pastel, penuh dengan keriangan. Saya jadi betah dan jenak menikmati keindahannya. Musik pengiringnya biasa sajalah, tapi OST-nya itu ngepas banget dengan salah satu scene cemerlangnya. Yakni ketika pengadegan montase di balik terbuangnya teman wanita Woody (namanya kalau tidak salah Jessie). Sebuah lagu berjudul When She Loved Me yang dinyanyikan Sarah McLachlan diperdengarkan. Berkali-kali Pixar menghadirkan karya pilihan. Walau yang satu ini tak teramat spesial dari segi kejutan, tapi keriangan dan kegemasan di tiap adegan kecilnya membuat saya terhibur. [B] 19/08/11
Hampir senada dengan seri ketiga, seri kedua masih bercerita ketika sekelompok mainan boneka koboi bernama Woody dkk., yang terancam di-“buang” pemiliknya, terseret dalam petualangan besar karena menyelamatkan teman yang hendak dilelang sebab sudah usang. Kasihan. Dari premis ini saja kita sudah bisa membayangkan bagaimana pedihnya jika boneka/mainan itu adalah kita (baca: manusia). Hwa3… Dijamin nangis! Si pemilik koleksi boneka yang bernama Andy tak banyak berkontribusi dalam plot di sini. Ia hanya dikisahkan tak jadi membawa Woody ketika berkemah lantaran tangan Woody tak sengaja robek dan belum sempat dijahit karena keburu berangkat kemah. Dari rumah Andy, toko mainan besar, sampai bandara semuanya jadi medan petualangan Woody dkk.
Warna-warna yang disuguhkan sangat bersahabat dan menyenangkan. Pastel, penuh dengan keriangan. Saya jadi betah dan jenak menikmati keindahannya. Musik pengiringnya biasa sajalah, tapi OST-nya itu ngepas banget dengan salah satu scene cemerlangnya. Yakni ketika pengadegan montase di balik terbuangnya teman wanita Woody (namanya kalau tidak salah Jessie). Sebuah lagu berjudul When She Loved Me yang dinyanyikan Sarah McLachlan diperdengarkan. Berkali-kali Pixar menghadirkan karya pilihan. Walau yang satu ini tak teramat spesial dari segi kejutan, tapi keriangan dan kegemasan di tiap adegan kecilnya membuat saya terhibur. [B] 19/08/11
Minggu, 14 Agustus 2011
Jepretan: Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang (16/07/11)
Note.
Subhanallah... Meski hanya kurang dari setengah hari ke Semarang. Saya langsung memanfaatkan waktu berkunjung (dan salat tentunya) ke Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Waktu tak banyak, langsung saja jeprat-jepret naik ke menara dan menikmati sejenak lanskap Kota Semarang. Next time, wanna go to Lawang Sewu. Insya Allah...
Pasca-Membaca "Nasional.Is.Me"-nya Pandji Pragiwaksono
Sudah lama tak baca buku, keasyikan belajar siasat dan trik tes TOEFL. Tiba-tiba bisa kecanduan sekilas nuntasin buku karya Pandji Pragiwaksono bertitel Nasional.Is.Me. Ceritanya begini... Suatu pagi saya (seperti biasa) berstatus invisible di Y!M, di situ saya lihat teman saya sedang online dan muter lagunya Pandji berjudul apa gitu. Terus saya sapa dan sahut saja... mengingat saya sering dengar Hard Rock FM sewaktu masih merantau cari nafkah di Jakarta. Tanya tentang bagaimana lagu-lagu Pandji. Eh, teman saya tahu-tahu bilang dia jadi enggan bepergian ke Thai atau Viet dan lebih memilih destinasi domestik setelah baca Nasional.Is.Me. Whoa... penasaran saya jadinya tentang how strong this book affects its readers jadinya? Saya dikasih rekomendasi buat ngunduh pdf-nya via pandji.com (thx Aji...). Sampailah saya di laman tersebut dan busyet! Saya baru nyadar, Pandji yang dimaksud itu Pandji yang sering nongol di TV. Ya ampun, kemana aja saya selama ini... Hello?
Mulai baca. Kebetulan waktu itu saya sedang di kantor, pakai fasilitas internet kantor pula buat unduh file (sekadar informasi, saya bekerja di instansi pemerintah). Semoga ini bukan bagian dari korupsi apapun itu jenisnya, bismillah saya selalu berniat melakukan sesuatu yang bermanfaat di waktu senggang. Maklum di kerjaan saya memang sangat berlimpah waktu selanya (you know-lah?), ketimbang join RERASAN CLUB yang doyan berbuih-buih bin mumpluk ngerasani sana-sini dan amit-amit!!!! Sepuluh halaman pertama memuat perasaan tertarik amat sangatnya. Konsep tulisan Pandji santai, lugas, jujur, dan tak overakting. Teknisnya pun ayik karena tak rapi tipe justify kayak ngetik makalah. Jadi bacanya enjoy dan (yang terpenting) cepat ganti halaman. Hwa3....
Buku ini semacam persuasi provokatif bagi apatis-er sampai level ke bawahnya dalam memandang Indonesia. Intinya, tak seburuk itu kok Indonesia dan kalau peduli dan mau kamu tentu bisa berbuat sesuatu untuknya. Yang lebih memalukan lagi, saya tak pernah menggagas apa sih itu Indonesia Unite. Dan lewat baca tulisan ini saya baru tahu macam apakah Indonesia Unite itu. Saya takkan membahasnya di sini. Saya akan lebih fokus pada pengalaman dan apa yang tersisa dalam diri selama dan setelah membaca Nasional.Is.Me. Judulnya aja lucu dan kreatif ya. Salut buat Mas Pandji yang mau blak-blakan dan membuka diri guna berbagi sesama ihwal latar belakang dan pengalaman hidupnya. Acapkali saya terharu (dalam artian sebenarnya) ketika melintasi bagian-bagian yang humanis nan emosional. Itu tersebar di banyak bagian dalam tulisan ini. Mulai masa sekolahnya sampai caption pada halaman terakhir.
Saya sangat tertarik dengan perjalanan kisah SD-SMP-SMA, terutama waktu SMA. Beneran, kalau saya kreatif dan punya senses of film-making bagus pasti sudah bisa menyiapkan rencana pembuatan filmnya. Tak semua orang punya pengalaman hidup yang sama. Itu yang membuat masing-masing cerita jadi unik dan bernilai lebih kalau kita bisa menceritrerakannya secara bersemangat dan seru (ingat karakter Forrest Gump jadinya). Halaman demi halaman saya lewati, makin ke sini makin membuat saya malu karena merasa belum bisa berbuat sesuatu untuk negeri sekalipun sekarang sudah menjadi CALON staf pemerintah. Sementara di dalam dan luar kantor saya malah lebih sering enjoy ngenyek-ngenyek dan murka atas perlakuan lembaga terhadap diri. Semoga saja takkan berkepanjangan dan bisa mendorong ke arah yang lebih baik. Amin. Tapi jujur, pelampiasan itu perlu karena akan menghasilkan energi negatif kalau terus-terusan dipendam.
Nasional.Is.Me membuat khayal saya sepintas berkeliling ke beberapa pelosok negeri. Bagian yang disampaikan setelah babak tentang sekolah dan olahraga. Pada bagian olahraga, saya mengamini juga bahwa salah satu momen kebersatuan negeri ini ya pas pertandingan melawan negara lain. Semua yang tadinya berantem bisa menjadi satu-padu. Dari mana kekuatan ini berasal kalau kita sendiri telah menyadari bahwa kita ini satu. Memang musti terus diasah, kalau perlu dipaksakan. Saya harap, kalau ingin benar-benar membuat tulisan ini spesial ketika membacanya mohon dikesampingkan dulu prinsip ala Imagine-nya John Lennon sejenak karena kita sekarang sedang membicarakan Indonesia, yang dibatasi faktor yuridis dan geografis.
Saya salut dengan cetusan Indonesia Unite yang mengobarkan semangat revitalisasi nasionalisme. Sekarang masih banyak yang mendiskusikannya tentang apakah masih ada, relevankah, apa penggantinya. Bagi saya pribadi, silakan lakukan apapun yang bisa dikerjakan asal positif dan berusaha tidak berjalan di tempat. Capeknya terasa mubadzir. Negara kita tercinta ini tak hanya kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya melainkan juga wacana. Manfaatkan itu untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun. Memang Pandji dalam buku ini tak menyarankan dan menolak terjadinya revolusi karena negara ini sudah on the track. Tapi bagi saya, kaum revolusioner pun silakan meneruskan persiapan kematangan dalam eksekusi dan visinya asal tak mengganggu dan mengorbankan perdamaian dan segala kebaikan yang sudah ada di Indonesia.
Mari kita lakukan dengan cara masing-masing. Saya pribadi takkan malu untuk memulai dengan hal remeh, misal membuang sampah pada tempatnya. Bagi negara yang sebentar lagi berusia 66 tahun ini hal kecil apapun akan terasa besar manfaatnya kelak. Gila apa, buang sampah aja masih sebarangan padahal sudah berkepala enam. Apa tak kurang menyedihkan? Inilah investasi bagi pendekatan sekuler, untuk yang relijius bisa jadi jariyah. Insya Allah... Temukan teman-teman sevisi demi menjadi stabilitas pelita semangat. Konsisten untuk sedikit demi sedikit menular-sultutkan ke yang lain. Sudah jamak diketahui bahwa pada hakikatnya manusia dilahirkan bersih. Lama-kelamaan pasti akan ada yang tersetrum jika yang kita lakukan merupakan murninya kebaikan. Biarkan sumbu ini menyala hingga lilin meleleh habis. 13/08/11
Mulai baca. Kebetulan waktu itu saya sedang di kantor, pakai fasilitas internet kantor pula buat unduh file (sekadar informasi, saya bekerja di instansi pemerintah). Semoga ini bukan bagian dari korupsi apapun itu jenisnya, bismillah saya selalu berniat melakukan sesuatu yang bermanfaat di waktu senggang. Maklum di kerjaan saya memang sangat berlimpah waktu selanya (you know-lah?), ketimbang join RERASAN CLUB yang doyan berbuih-buih bin mumpluk ngerasani sana-sini dan amit-amit!!!! Sepuluh halaman pertama memuat perasaan tertarik amat sangatnya. Konsep tulisan Pandji santai, lugas, jujur, dan tak overakting. Teknisnya pun ayik karena tak rapi tipe justify kayak ngetik makalah. Jadi bacanya enjoy dan (yang terpenting) cepat ganti halaman. Hwa3....
Buku ini semacam persuasi provokatif bagi apatis-er sampai level ke bawahnya dalam memandang Indonesia. Intinya, tak seburuk itu kok Indonesia dan kalau peduli dan mau kamu tentu bisa berbuat sesuatu untuknya. Yang lebih memalukan lagi, saya tak pernah menggagas apa sih itu Indonesia Unite. Dan lewat baca tulisan ini saya baru tahu macam apakah Indonesia Unite itu. Saya takkan membahasnya di sini. Saya akan lebih fokus pada pengalaman dan apa yang tersisa dalam diri selama dan setelah membaca Nasional.Is.Me. Judulnya aja lucu dan kreatif ya. Salut buat Mas Pandji yang mau blak-blakan dan membuka diri guna berbagi sesama ihwal latar belakang dan pengalaman hidupnya. Acapkali saya terharu (dalam artian sebenarnya) ketika melintasi bagian-bagian yang humanis nan emosional. Itu tersebar di banyak bagian dalam tulisan ini. Mulai masa sekolahnya sampai caption pada halaman terakhir.
Saya sangat tertarik dengan perjalanan kisah SD-SMP-SMA, terutama waktu SMA. Beneran, kalau saya kreatif dan punya senses of film-making bagus pasti sudah bisa menyiapkan rencana pembuatan filmnya. Tak semua orang punya pengalaman hidup yang sama. Itu yang membuat masing-masing cerita jadi unik dan bernilai lebih kalau kita bisa menceritrerakannya secara bersemangat dan seru (ingat karakter Forrest Gump jadinya). Halaman demi halaman saya lewati, makin ke sini makin membuat saya malu karena merasa belum bisa berbuat sesuatu untuk negeri sekalipun sekarang sudah menjadi CALON staf pemerintah. Sementara di dalam dan luar kantor saya malah lebih sering enjoy ngenyek-ngenyek dan murka atas perlakuan lembaga terhadap diri. Semoga saja takkan berkepanjangan dan bisa mendorong ke arah yang lebih baik. Amin. Tapi jujur, pelampiasan itu perlu karena akan menghasilkan energi negatif kalau terus-terusan dipendam.
Nasional.Is.Me membuat khayal saya sepintas berkeliling ke beberapa pelosok negeri. Bagian yang disampaikan setelah babak tentang sekolah dan olahraga. Pada bagian olahraga, saya mengamini juga bahwa salah satu momen kebersatuan negeri ini ya pas pertandingan melawan negara lain. Semua yang tadinya berantem bisa menjadi satu-padu. Dari mana kekuatan ini berasal kalau kita sendiri telah menyadari bahwa kita ini satu. Memang musti terus diasah, kalau perlu dipaksakan. Saya harap, kalau ingin benar-benar membuat tulisan ini spesial ketika membacanya mohon dikesampingkan dulu prinsip ala Imagine-nya John Lennon sejenak karena kita sekarang sedang membicarakan Indonesia, yang dibatasi faktor yuridis dan geografis.
Saya salut dengan cetusan Indonesia Unite yang mengobarkan semangat revitalisasi nasionalisme. Sekarang masih banyak yang mendiskusikannya tentang apakah masih ada, relevankah, apa penggantinya. Bagi saya pribadi, silakan lakukan apapun yang bisa dikerjakan asal positif dan berusaha tidak berjalan di tempat. Capeknya terasa mubadzir. Negara kita tercinta ini tak hanya kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya melainkan juga wacana. Manfaatkan itu untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun. Memang Pandji dalam buku ini tak menyarankan dan menolak terjadinya revolusi karena negara ini sudah on the track. Tapi bagi saya, kaum revolusioner pun silakan meneruskan persiapan kematangan dalam eksekusi dan visinya asal tak mengganggu dan mengorbankan perdamaian dan segala kebaikan yang sudah ada di Indonesia.
Mari kita lakukan dengan cara masing-masing. Saya pribadi takkan malu untuk memulai dengan hal remeh, misal membuang sampah pada tempatnya. Bagi negara yang sebentar lagi berusia 66 tahun ini hal kecil apapun akan terasa besar manfaatnya kelak. Gila apa, buang sampah aja masih sebarangan padahal sudah berkepala enam. Apa tak kurang menyedihkan? Inilah investasi bagi pendekatan sekuler, untuk yang relijius bisa jadi jariyah. Insya Allah... Temukan teman-teman sevisi demi menjadi stabilitas pelita semangat. Konsisten untuk sedikit demi sedikit menular-sultutkan ke yang lain. Sudah jamak diketahui bahwa pada hakikatnya manusia dilahirkan bersih. Lama-kelamaan pasti akan ada yang tersetrum jika yang kita lakukan merupakan murninya kebaikan. Biarkan sumbu ini menyala hingga lilin meleleh habis. 13/08/11
Minggu, 07 Agustus 2011
Resensi Film: Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 (2011)
Selang satu dekade berlalu, sebuah seri kisah petualangan trio di dunia sihir berakhir. Berasa telah menjadi bagian dari tak hanya kru pembuat film namun juga pemirsanya. Saya jadi teringat ketika pertama kali menonton seri pertama Potter lewat VCD bajakan yang mutunya bikin muntah-muntah. Macam colongan syut di dalam bioskop.
Tentu bukanlah kisah penutup yang dinanti-nantikan para pemirsanya lewat seri pungkasan ini karena telah umum diketahui dari bukunya, melainkan bagaimana adaptasi dan visualisasinya. Ekspektasi saya menonton seri ini hanya satu, semoga lebih baik ketimbang seri sebelumnya. Film dibuka persis dengan adegan penutup dalam Part 1. Alhamdulillah... Untung tak terwara “sebelumnya... di Part 1” (seperti dalam sinetron Cinta Fitri). Kencangkan sabuk pengaman sejak dini karena seri ini langsung tancap gas.
Kalau dalam Part 1 saya sangat bersyukur (seingat saya) tak tersaji format 3D, tapi seri pungkasan ini tak salah jika Anda menikmatinya dalam format 3D karena beberapa adegan berpotensi sensasional. Seketika, saya langsung berpikir mengapa tak dibuat saja The Deathly Hallows dalam satu judul alias tak perlu dipisah namun dengan durasi yang disesuaikan. Lord of the Rings saja mampu menyajikan dengan baik tiap serinya. Selain itu, sayang tak terlalu banyak agenda strada yang membidani seri Potter (tercatat hanya 4: Chris Columbus, Alfonso Cuaron, Mike Newell, dan David Yates). Bayangkan saja jadinya jika Potter distradai oleh Tim Burton, Peter Jackson, dll.
Beberapa komentar dari teman saya yang telah membaca bukunya... Ada yang bilang terlalu maksa memasukkan adegan-adegan ciuman, juga ada yang berpendapat untuk sebuah penutupan kurang akbar. Saya pikir sangat wajar dengan lontaran komentar demikian jika kita sudah membaca bukunya. Bagi yang belum, sensasi akan terasa sedikit berbeda karena belum mengetahui jalinan akhir kisahnya ditambah dengan intensitas plot yang solid akan mengesankan tingkat keseruan yang lebih maksimal.
Beberapa adegan yang cukup “cape deh...”, semisal pengadegan Potter dalam kondisi “sekarat” dan “19 tahun kemudian” menjadi cukup terkubur. Secara keseluruhan, David Yates membayar lunas kekhilafannya dalam Part 1 dan menyajikan win-win solution bagi pemirsa Potter. Sebuah khatam yang sukses menuntaskan penasaran. [A-] 07/08/11
Tentu bukanlah kisah penutup yang dinanti-nantikan para pemirsanya lewat seri pungkasan ini karena telah umum diketahui dari bukunya, melainkan bagaimana adaptasi dan visualisasinya. Ekspektasi saya menonton seri ini hanya satu, semoga lebih baik ketimbang seri sebelumnya. Film dibuka persis dengan adegan penutup dalam Part 1. Alhamdulillah... Untung tak terwara “sebelumnya... di Part 1” (seperti dalam sinetron Cinta Fitri). Kencangkan sabuk pengaman sejak dini karena seri ini langsung tancap gas.
Kalau dalam Part 1 saya sangat bersyukur (seingat saya) tak tersaji format 3D, tapi seri pungkasan ini tak salah jika Anda menikmatinya dalam format 3D karena beberapa adegan berpotensi sensasional. Seketika, saya langsung berpikir mengapa tak dibuat saja The Deathly Hallows dalam satu judul alias tak perlu dipisah namun dengan durasi yang disesuaikan. Lord of the Rings saja mampu menyajikan dengan baik tiap serinya. Selain itu, sayang tak terlalu banyak agenda strada yang membidani seri Potter (tercatat hanya 4: Chris Columbus, Alfonso Cuaron, Mike Newell, dan David Yates). Bayangkan saja jadinya jika Potter distradai oleh Tim Burton, Peter Jackson, dll.
Beberapa komentar dari teman saya yang telah membaca bukunya... Ada yang bilang terlalu maksa memasukkan adegan-adegan ciuman, juga ada yang berpendapat untuk sebuah penutupan kurang akbar. Saya pikir sangat wajar dengan lontaran komentar demikian jika kita sudah membaca bukunya. Bagi yang belum, sensasi akan terasa sedikit berbeda karena belum mengetahui jalinan akhir kisahnya ditambah dengan intensitas plot yang solid akan mengesankan tingkat keseruan yang lebih maksimal.
Beberapa adegan yang cukup “cape deh...”, semisal pengadegan Potter dalam kondisi “sekarat” dan “19 tahun kemudian” menjadi cukup terkubur. Secara keseluruhan, David Yates membayar lunas kekhilafannya dalam Part 1 dan menyajikan win-win solution bagi pemirsa Potter. Sebuah khatam yang sukses menuntaskan penasaran. [A-] 07/08/11
Rabu, 03 Agustus 2011
Resensi Film: Hereafter (2010)
Tua-tua keladi. Mungkin itu peribahasa yang pas saya sematkan bagi Clint Eastwood. Betapa produktif dan intimnya film-film drama besutan aki-aki ini. Alam bawah sadar saya selalu merindukan karya-karya Eastwood. Kali ini datang dari sebuah judul yang nilai konsensus dari kritikus filmnya bias dibilang biasa-biasa saja. Saya agak terkejut juga karena biasanya film Eastwood selalu dapat skor tinggi. Tapi saya takkan ikut-ikutan menghakimi sebelum menontonnya sendiri.
Apa yang akan terjadi setelah kematian? Pertanyaan ini menjadi peluit start. Lewat tiga cerita paralel, Hereafter menjalin ikatan kisah senasib-sepenanggunan atas tiga karakter utama lintas negara: (1) wanita karier asal Paris berprestasi gemilang yang menjalani “hidup kedua” pascamusibah tsunami kala piknik; (2) seorang cenayang—diperankan Matt Damon—warga San Fransisco yang akan bertobat melakukan pembacaan; (2) bocah yang tinggal di London sedang merindu dan berat melepas kepergian saudara kembarnya.
Menonton film multiplot pasti memancing tanya bagaimana jadinya mereka bertiga nanti. Akankah saling berhubungan atau dibiarkan saja bak fragmen berserakan. Eastwood memilih formula khas Hollywood yang takkan menelantarkan penontonnya dengan tanda tanya besar berbuntut diskusi panjang dan debat kusir. Tapi inilah yang ke depannya malah jadi bumerang Hereafter.
Si cenayang merasa kehidupan sosialnya tersiksa. Ia merasa berkat yang ia punya merupakan sebuah kutukan. Hanya bersentuhan tangan, tanpa kesengajaan pembacaan, pun indera keenamnya langsung terkoneksi dengan entitas gaib dari orang yang disentuhnya. Wanita karier asal Paris yang merasa sempat memasuki alam kematian spontan gairah dan orientasi hidupnya berbalik 360 derajat. Ia tak tertarik lagi dengan popularitas dan kekayaan, fokusnya hanya mendalami apa yang telah terjadi pada dirinya dan berbagi kisah hidupnya pada sesama. Si Bocah dari London gamang atas situasi yang menghimpitnya. Tiba-tiba ia kehilangan panutan yang bukan lain merupakan kembarannya. Ia kesana-kemari mencari jalan untuk bias berkomunikasi dengan mendiang saudaranya.
Bukan Eastwood kalau tak memperdalam nilai-nilai maknawi pencarian. Itulah kekuatan Hereafter. Ia mengajak penonton juga mencari dengan cara yang lembut, tak grusah-grusuh. Menuntun dan membebaskan perasaan. Tapi tema semacam ini bakal sulit dan pasti akan selalu susah dikembangkan. Mengapa demikian? Karena semua bermain dengan pengandaian dan ihwal keyakinan. Hereafter pun tak bias lolos dari jebakan demikian.
Tiga per empat awal bagian film begitu terasa mengalir. Baru kelihatan bingung ketika menginjak naskah bagian akhir tentang mau dibawa kemana multiplot bertemakan sentuhan kematian ini. Penulis naskah pilih menyudahinya sebagai sebuah romantisme khas ending film drama komedi. Sah-sah saja, namun sayangnya tak terbangun konstruksi utuh mengenai kisah cinta di sini. Saya sadar bahwa masalah ketiganya tuntas di bagian akhir film, namun cubitan-cubitan adegan hingga paro film tak mengarahkan dengan jenis ending yang dihasilkan. Sebuah kejutan yang tak disangka namun meleleh seperti mendapati es krim yang dibeli dari supermarket telah lumer sesampai di rumah. [B-] 03/08/11
Apa yang akan terjadi setelah kematian? Pertanyaan ini menjadi peluit start. Lewat tiga cerita paralel, Hereafter menjalin ikatan kisah senasib-sepenanggunan atas tiga karakter utama lintas negara: (1) wanita karier asal Paris berprestasi gemilang yang menjalani “hidup kedua” pascamusibah tsunami kala piknik; (2) seorang cenayang—diperankan Matt Damon—warga San Fransisco yang akan bertobat melakukan pembacaan; (2) bocah yang tinggal di London sedang merindu dan berat melepas kepergian saudara kembarnya.
Menonton film multiplot pasti memancing tanya bagaimana jadinya mereka bertiga nanti. Akankah saling berhubungan atau dibiarkan saja bak fragmen berserakan. Eastwood memilih formula khas Hollywood yang takkan menelantarkan penontonnya dengan tanda tanya besar berbuntut diskusi panjang dan debat kusir. Tapi inilah yang ke depannya malah jadi bumerang Hereafter.
Si cenayang merasa kehidupan sosialnya tersiksa. Ia merasa berkat yang ia punya merupakan sebuah kutukan. Hanya bersentuhan tangan, tanpa kesengajaan pembacaan, pun indera keenamnya langsung terkoneksi dengan entitas gaib dari orang yang disentuhnya. Wanita karier asal Paris yang merasa sempat memasuki alam kematian spontan gairah dan orientasi hidupnya berbalik 360 derajat. Ia tak tertarik lagi dengan popularitas dan kekayaan, fokusnya hanya mendalami apa yang telah terjadi pada dirinya dan berbagi kisah hidupnya pada sesama. Si Bocah dari London gamang atas situasi yang menghimpitnya. Tiba-tiba ia kehilangan panutan yang bukan lain merupakan kembarannya. Ia kesana-kemari mencari jalan untuk bias berkomunikasi dengan mendiang saudaranya.
Bukan Eastwood kalau tak memperdalam nilai-nilai maknawi pencarian. Itulah kekuatan Hereafter. Ia mengajak penonton juga mencari dengan cara yang lembut, tak grusah-grusuh. Menuntun dan membebaskan perasaan. Tapi tema semacam ini bakal sulit dan pasti akan selalu susah dikembangkan. Mengapa demikian? Karena semua bermain dengan pengandaian dan ihwal keyakinan. Hereafter pun tak bias lolos dari jebakan demikian.
Tiga per empat awal bagian film begitu terasa mengalir. Baru kelihatan bingung ketika menginjak naskah bagian akhir tentang mau dibawa kemana multiplot bertemakan sentuhan kematian ini. Penulis naskah pilih menyudahinya sebagai sebuah romantisme khas ending film drama komedi. Sah-sah saja, namun sayangnya tak terbangun konstruksi utuh mengenai kisah cinta di sini. Saya sadar bahwa masalah ketiganya tuntas di bagian akhir film, namun cubitan-cubitan adegan hingga paro film tak mengarahkan dengan jenis ending yang dihasilkan. Sebuah kejutan yang tak disangka namun meleleh seperti mendapati es krim yang dibeli dari supermarket telah lumer sesampai di rumah. [B-] 03/08/11
Minggu, 31 Juli 2011
Resensi Film: Sang Pencerah (2010)
Mau apa lagi Hanung? Ia salah satu strada Indonesia yang konsisten, baik mutu maupun produktivitasnya. Sejak Catatan Akhir Sekolah, saya jatuh cinta terhadap karya-karyanya. Meskipun beberapa judul terbilang biasa saja dan tak menarik hati, tapi tetap saja ia sukses membuktikan eksistensinya.
Sang Pencerah (SP) berkisah tentang K.H. Ahmad Dahlan (KHAD), sejak ia dilahirkan hingga mendirikan organisasi sosial Muhammadiyah. Melihat judulnya saja swerem... ngeri. Saya tak perlu banyak cerita ihwal sinopsis di sini karena ceritanya jelas, dokudrama semibiografi. Lewat banyak tebaran pemain selebritas, SP coba merekonstruksi tantangan dan keteguhan KHAD. Kalau boleh saya bagi, ada 3 babak besar subplot film ini: (1) kecemasan spiritual KHAD, (2) purifikasi dan ijtihad beserta tantangannya, dan (3) cikal-bakal Muhammadiyah.
Rona temaram kekuningan sarat khas pelita obor sebagai nuansa sinematografi SP membuai penontonnya lebih merasa mengalami langsung kesan artistik Jogjakarta era peralihan abad ke-19 menuju abad ke-20 dalam suasana musik dawai melankolis dan lagu Lir-Ilir termodifikasi. Saya tak merasakan gangguan anakronisme. Yang membuat saya agak kurang sreg dengan film ini adalah kurang tegasnya pemecahan masalah pada tiap babak plot utamanya, selalu menyisakan lamunan bahwa kenapa sudah beralih subplot?
Banyak adegan eksplisit tataran filosofis yang terkesan standar karena mudah ditebak dan sering kita lihat dalam film-film Barat sehingga kita tak memperoleh sensasi berdirinya bulu kuduk. Dalam segi pemeranan, perlu saya apresiasi untuk aksi debutan Ihsan-Idol. Sayangnya, dari segi peran protagonis kenapa Lukman Sardi melulu? Bukannya tak suka dengan akting Lukman namun bagi saya ia terlalu overekspos alias keseringan jadi orang bijak. Ini perkara subyektivitas.
Secara keseluruhan, SP cukup rapi dan apik. Namun, lagi-lagi yang menyisakan tanda tanya bagi saya adalah untuk apa film ini dibuat? Saya belum mendapatkan pencerahan hingga akhir film. Ibarat mengonsumsi versi kreatifnya sebuah buku pelajaran sejarah. Tentu kenyataan ini berbeda ketika saya menonton The King’s Speech yang walaupun bercerita tentang kegagapan tokoh sentralnya namun punya visi jelas mengantarkan penonton pada wahana renungan indahnya persahabatan.
Geli juga ketika mengulas balik kisah minus SP dalam nominasi-nominasi FFI lantaran tim juri menganggap film ini tak otentik. Sebuah alasan kekanak-kanakan. Saya kembali teringat Hanung yang membalas pernyataan seperti ini, “apa mereka pernah ngopi bareng dengan KHAD sehingga bisa mengganggap SP tak otentik?” Maju terus Hanung. Tetaplah berkarya, karena dalam karya terburukmu sekalipun masih saja jauh lebih berkualitas ketimbang mayoritas produksi film Indonesia. Kalau perfilman Indonesia mau maju, SP harusnya menjadi batas standar minimal kualitas film Indonesia. [B-] 31/07/11
Sang Pencerah (SP) berkisah tentang K.H. Ahmad Dahlan (KHAD), sejak ia dilahirkan hingga mendirikan organisasi sosial Muhammadiyah. Melihat judulnya saja swerem... ngeri. Saya tak perlu banyak cerita ihwal sinopsis di sini karena ceritanya jelas, dokudrama semibiografi. Lewat banyak tebaran pemain selebritas, SP coba merekonstruksi tantangan dan keteguhan KHAD. Kalau boleh saya bagi, ada 3 babak besar subplot film ini: (1) kecemasan spiritual KHAD, (2) purifikasi dan ijtihad beserta tantangannya, dan (3) cikal-bakal Muhammadiyah.
Rona temaram kekuningan sarat khas pelita obor sebagai nuansa sinematografi SP membuai penontonnya lebih merasa mengalami langsung kesan artistik Jogjakarta era peralihan abad ke-19 menuju abad ke-20 dalam suasana musik dawai melankolis dan lagu Lir-Ilir termodifikasi. Saya tak merasakan gangguan anakronisme. Yang membuat saya agak kurang sreg dengan film ini adalah kurang tegasnya pemecahan masalah pada tiap babak plot utamanya, selalu menyisakan lamunan bahwa kenapa sudah beralih subplot?
Banyak adegan eksplisit tataran filosofis yang terkesan standar karena mudah ditebak dan sering kita lihat dalam film-film Barat sehingga kita tak memperoleh sensasi berdirinya bulu kuduk. Dalam segi pemeranan, perlu saya apresiasi untuk aksi debutan Ihsan-Idol. Sayangnya, dari segi peran protagonis kenapa Lukman Sardi melulu? Bukannya tak suka dengan akting Lukman namun bagi saya ia terlalu overekspos alias keseringan jadi orang bijak. Ini perkara subyektivitas.
Secara keseluruhan, SP cukup rapi dan apik. Namun, lagi-lagi yang menyisakan tanda tanya bagi saya adalah untuk apa film ini dibuat? Saya belum mendapatkan pencerahan hingga akhir film. Ibarat mengonsumsi versi kreatifnya sebuah buku pelajaran sejarah. Tentu kenyataan ini berbeda ketika saya menonton The King’s Speech yang walaupun bercerita tentang kegagapan tokoh sentralnya namun punya visi jelas mengantarkan penonton pada wahana renungan indahnya persahabatan.
Geli juga ketika mengulas balik kisah minus SP dalam nominasi-nominasi FFI lantaran tim juri menganggap film ini tak otentik. Sebuah alasan kekanak-kanakan. Saya kembali teringat Hanung yang membalas pernyataan seperti ini, “apa mereka pernah ngopi bareng dengan KHAD sehingga bisa mengganggap SP tak otentik?” Maju terus Hanung. Tetaplah berkarya, karena dalam karya terburukmu sekalipun masih saja jauh lebih berkualitas ketimbang mayoritas produksi film Indonesia. Kalau perfilman Indonesia mau maju, SP harusnya menjadi batas standar minimal kualitas film Indonesia. [B-] 31/07/11
Resensi Film: Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 (2010)
Saya tak ingin menyalahkan mood saya ketika menonton film ini. Tak juga karena saya bukan Potter-mania. Tapi memang karena film ini terasa melempem dan frustrasi. Tapi silakan enyek-enyek saya lantaran kasih komentar meski tak membaca bukunya dulu. Sebuah film adaptasi harusnya berdiri sendiri, tak perlu penontonnya membaca buku terlebih dahulu.
Untung saja bagian pertama seri terakhir Harry Potter ini tak disajikan dalam format 3D, karena minus aksi dan efek yang bakal aduhai jika dinikmati dalam sajian trimatra. Alur berjalan amat lambatnya, membuat menguap berkali-kali. Walau beda kelas, saya jadi merasa seperti melihat sinetron "Puteri yang Ditukar" dan sejenisnya. Diulur-ulur, inefektif, dan pointless.
Dalam jilid pertama ini, saya kurang menangkap gereget Potter vs Voldemort. Petualangan trio Potter-Ron-Hermione pun kurang intim sekalipun dalam adegan kritis. Terlalu banyak suntingan fade in-fade out. Beda sensasi yang ditangkap ketika menikmati trilogi Lord of the Rings yang membuat akhir tiap serinya secara bijak. Membuat penasaran terselubung dalam kemasan puitis.
Satu-satunya adegan yang saya beri apresiasi adalah ketika Hermione berceritera tentang kisah ihwal apa itu relikui kematian? Pengadegan langsung berwujud semi-3D dengan monolog yang proporsional.
Semoga pungkasan film Harry Potter tidak demikian. Bagi saya, jilid 1 ini menjadi versi extended yang menjemukan. Sama sekali tak merangsang. Kalau bukan karena ia punya 6 seri pendahulu pasti saya enteng berucap "skip it out". [C] 31/07/11
Untung saja bagian pertama seri terakhir Harry Potter ini tak disajikan dalam format 3D, karena minus aksi dan efek yang bakal aduhai jika dinikmati dalam sajian trimatra. Alur berjalan amat lambatnya, membuat menguap berkali-kali. Walau beda kelas, saya jadi merasa seperti melihat sinetron "Puteri yang Ditukar" dan sejenisnya. Diulur-ulur, inefektif, dan pointless.
Dalam jilid pertama ini, saya kurang menangkap gereget Potter vs Voldemort. Petualangan trio Potter-Ron-Hermione pun kurang intim sekalipun dalam adegan kritis. Terlalu banyak suntingan fade in-fade out. Beda sensasi yang ditangkap ketika menikmati trilogi Lord of the Rings yang membuat akhir tiap serinya secara bijak. Membuat penasaran terselubung dalam kemasan puitis.
Satu-satunya adegan yang saya beri apresiasi adalah ketika Hermione berceritera tentang kisah ihwal apa itu relikui kematian? Pengadegan langsung berwujud semi-3D dengan monolog yang proporsional.
Semoga pungkasan film Harry Potter tidak demikian. Bagi saya, jilid 1 ini menjadi versi extended yang menjemukan. Sama sekali tak merangsang. Kalau bukan karena ia punya 6 seri pendahulu pasti saya enteng berucap "skip it out". [C] 31/07/11
Jumat, 15 Juli 2011
Resensi Film Dokumenter: Panggung Kasetyan Balekambang (2005)
Dokumenter tak ada matinya. Lugas, tanpa tedeng aling-aling, terkadang liar, bahkan ngawur. Meski tak sedikit pula yang berpoles ria di sana-sini. Tapi toh tujuannya menyampaikan suatu pesan dengan cara yang lebih personal. Kali ini saya mendapati satu judul yang diberi seorang teman dari Rumah Sinema, diambil dari “In-Docs, DocuBox Vol. 8: Seri Pemeliharaan Lingkungan dan Tradisi”.
Saya kira film dokumenter nonfiksi Panggung Kasetyan Balekambang mau bercerita tentang kehidupan penuh peluh pedagang bunga di Pasar Bunga Solo, namun saya keliru. Ternyata tentang kesenian kethoprak Balekambang, 0-1 saya tertinggal. Lantaran di awal film tak spesifik menggambarkan mau bercerita ihwal apa film ini. Dua puluh menit panjangnya berisi (ibarat) diskusi panel infotainment namun tanpa presenter aduhai. Ada tiga kubu: seniman Kethoprak Balekambang, pemerintah, dan budayawan.
Babak awal, apa arti kethoprak bagi komunitasnya. Kedua, mengapa masih bertahan. Ketiga, mau dibawa kemana. Jelas sangat menarik membahas tema sejenis ini, upaya pelestarian produk seni. Saya tak akan membahas substansi di sini, karena forumnya akan lebih menarik jika diperbincangkan dalam forum diskusi. Yang jelas, film ini berujar tentang itu tanpa menggiring penontonnya condong terhadap satu kubu meski secara porsi pengadegan lebih banyak lewat seniman-sentris.
Sudut lusuh nan kumuh Panggung Seniman Muda di Balekambang sayangnya tak dieksploitasi secara dramatis oleh tim kreator (Fajar Nugroho & BW PurbaNegara). Saya butuh sentuhan lebih. Sesuatu yang membuat diri jengkel, iba, bahkan tergerak. Inilah perbincangan yang takkan ada habisnya dikupas. Sebuah cerminan kereta zaman yang digerakkan oleh bahan bakar berlabel kepedulian. [C] 14/07/11 (link: http://www.in-docs.org/directories/documentary/panggung-kasetyan-balekambang-the-unwavering-ketoprak-balekambang/id)
Saya kira film dokumenter nonfiksi Panggung Kasetyan Balekambang mau bercerita tentang kehidupan penuh peluh pedagang bunga di Pasar Bunga Solo, namun saya keliru. Ternyata tentang kesenian kethoprak Balekambang, 0-1 saya tertinggal. Lantaran di awal film tak spesifik menggambarkan mau bercerita ihwal apa film ini. Dua puluh menit panjangnya berisi (ibarat) diskusi panel infotainment namun tanpa presenter aduhai. Ada tiga kubu: seniman Kethoprak Balekambang, pemerintah, dan budayawan.
Babak awal, apa arti kethoprak bagi komunitasnya. Kedua, mengapa masih bertahan. Ketiga, mau dibawa kemana. Jelas sangat menarik membahas tema sejenis ini, upaya pelestarian produk seni. Saya tak akan membahas substansi di sini, karena forumnya akan lebih menarik jika diperbincangkan dalam forum diskusi. Yang jelas, film ini berujar tentang itu tanpa menggiring penontonnya condong terhadap satu kubu meski secara porsi pengadegan lebih banyak lewat seniman-sentris.
Sudut lusuh nan kumuh Panggung Seniman Muda di Balekambang sayangnya tak dieksploitasi secara dramatis oleh tim kreator (Fajar Nugroho & BW PurbaNegara). Saya butuh sentuhan lebih. Sesuatu yang membuat diri jengkel, iba, bahkan tergerak. Inilah perbincangan yang takkan ada habisnya dikupas. Sebuah cerminan kereta zaman yang digerakkan oleh bahan bakar berlabel kepedulian. [C] 14/07/11 (link: http://www.in-docs.org/directories/documentary/panggung-kasetyan-balekambang-the-unwavering-ketoprak-balekambang/id)
Sabtu, 02 Juli 2011
Resensi Film: Source Code (2011)
Terbangun dalam raga orang lain dan berkali-kali mengulangi kejadian sama. Itulah yang dialami karakter utama film Source Code. Ia belakangan menyadari bahwa sedang menjadi kelinci percobaan proyek pertahanan rintisan pemerintah dalam mendulang informasi terorisme. Prinsip kerjanya cukup rumit dan susah untuk dijelaskan karena saya sendiri kurang paham dan tak begitu percaya dengan kemungkinan mekanik seperti itu, yakni memanfaatkan sisa gelombang elektromagnetik (dianalogikan dengan proses fenomena halo) otak milik jasad yang baru saja tewas guna menyusup dalam memori kejadian historis.
Namun jangan keburu salah sangka dulu bahwa saya lantas mencak-mencak. Dan anehnya lagi, makin kemari makin bisa menikmati ritme film. Perlu dicatat, jarang sekali penonton bisa enjoy apabila sejak awal sudah tak percaya dengan premis-premis pembangun cerita. Satu poin penting keseruan film ini adalah penonton diajak menebak-nebak siapakah pelaku teror bom. Berset di dalam gerbong kereta dan berulang kali terjadi ledakan dari kejadian yang sama. Dia ibarat rekaman yang diputar berulang kali dan si tokoh utama disusupkan untuk mencari pelaku teror bom dalam waktu 8 menit. Apabila gagal dan belum mendapat kejelasan, maka ia diterjunkan kembali ke 8 menit terakhir sebelum kereta meledak. Begitulah seterusnya sampai ketahuan siapa pengebomnya sehingga ancaman teror bom berikutnya bisa dihindari.
Meski enjoy, ada hal yang sangat mengganjal saya terhadap film ini. Saking visioner dan fiksinya ide dasar film ini, maka kecolongan juga silogismenya. Kebetulan saya menonton ramai-ramai dan di situ ada ambiguitas ihwal penyusupan jiwa dalam sebuah raga. Semua senada. Silakan tonton sendiri dan dapati sensasi meragunya. Ditambah lagi dengan pilihan ending yang kurang ulung. Ada adegan yang seharusnya lebih tepat dipilih sebagai pemungkas. Sayang sekali... Poin penting kedua yang tak kalah utamanya adalah penetrasi humanisme dalam plot fiksi ilmiah. Tanpa unsur yang satu ini, tontonan fiksi ilmiah macam apapun dengan cara ia diolah (sekalipun digarap Om Spielberg) tetap saja mubadzir karena menjadi tak utuh. Untungnya, Source Code cukup ringkas dan cergas mengantisipasinya. [B] 02/07/11
Namun jangan keburu salah sangka dulu bahwa saya lantas mencak-mencak. Dan anehnya lagi, makin kemari makin bisa menikmati ritme film. Perlu dicatat, jarang sekali penonton bisa enjoy apabila sejak awal sudah tak percaya dengan premis-premis pembangun cerita. Satu poin penting keseruan film ini adalah penonton diajak menebak-nebak siapakah pelaku teror bom. Berset di dalam gerbong kereta dan berulang kali terjadi ledakan dari kejadian yang sama. Dia ibarat rekaman yang diputar berulang kali dan si tokoh utama disusupkan untuk mencari pelaku teror bom dalam waktu 8 menit. Apabila gagal dan belum mendapat kejelasan, maka ia diterjunkan kembali ke 8 menit terakhir sebelum kereta meledak. Begitulah seterusnya sampai ketahuan siapa pengebomnya sehingga ancaman teror bom berikutnya bisa dihindari.
Meski enjoy, ada hal yang sangat mengganjal saya terhadap film ini. Saking visioner dan fiksinya ide dasar film ini, maka kecolongan juga silogismenya. Kebetulan saya menonton ramai-ramai dan di situ ada ambiguitas ihwal penyusupan jiwa dalam sebuah raga. Semua senada. Silakan tonton sendiri dan dapati sensasi meragunya. Ditambah lagi dengan pilihan ending yang kurang ulung. Ada adegan yang seharusnya lebih tepat dipilih sebagai pemungkas. Sayang sekali... Poin penting kedua yang tak kalah utamanya adalah penetrasi humanisme dalam plot fiksi ilmiah. Tanpa unsur yang satu ini, tontonan fiksi ilmiah macam apapun dengan cara ia diolah (sekalipun digarap Om Spielberg) tetap saja mubadzir karena menjadi tak utuh. Untungnya, Source Code cukup ringkas dan cergas mengantisipasinya. [B] 02/07/11
Langganan:
Postingan (Atom)




