Seri judul film animasi CGI yang satu ini saya tonton secara terbalik dan belum lengkap. Sedikit saya ingin mengingat kembali tentang apa yang saya alami sewaktu menonton Toy Story 3. Kala itu saya buta plot dan karakter Toy Story, tiba-tiba saja ingin coba menonton suguhan 3D untuk pertama kalinya. Mmm… khusus sensasi 3D, standarlah. Tapi, plotnya itu lo… di dalam kegelaman ruangan bioskop terselip beberapa kali mata saya berkaca-kaca. Betapa tidak? Alur kisah persahabatan dan nilai keluarga yang sukses disampaikan secara inosens.
Hampir senada dengan seri ketiga, seri kedua masih bercerita ketika sekelompok mainan boneka koboi bernama Woody dkk., yang terancam di-“buang” pemiliknya, terseret dalam petualangan besar karena menyelamatkan teman yang hendak dilelang sebab sudah usang. Kasihan. Dari premis ini saja kita sudah bisa membayangkan bagaimana pedihnya jika boneka/mainan itu adalah kita (baca: manusia). Hwa3… Dijamin nangis! Si pemilik koleksi boneka yang bernama Andy tak banyak berkontribusi dalam plot di sini. Ia hanya dikisahkan tak jadi membawa Woody ketika berkemah lantaran tangan Woody tak sengaja robek dan belum sempat dijahit karena keburu berangkat kemah. Dari rumah Andy, toko mainan besar, sampai bandara semuanya jadi medan petualangan Woody dkk.
Warna-warna yang disuguhkan sangat bersahabat dan menyenangkan. Pastel, penuh dengan keriangan. Saya jadi betah dan jenak menikmati keindahannya. Musik pengiringnya biasa sajalah, tapi OST-nya itu ngepas banget dengan salah satu scene cemerlangnya. Yakni ketika pengadegan montase di balik terbuangnya teman wanita Woody (namanya kalau tidak salah Jessie). Sebuah lagu berjudul When She Loved Me yang dinyanyikan Sarah McLachlan diperdengarkan. Berkali-kali Pixar menghadirkan karya pilihan. Walau yang satu ini tak teramat spesial dari segi kejutan, tapi keriangan dan kegemasan di tiap adegan kecilnya membuat saya terhibur. [B] 19/08/11
Jumat, 19 Agustus 2011
Minggu, 14 Agustus 2011
Jepretan: Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang (16/07/11)
Note.
Subhanallah... Meski hanya kurang dari setengah hari ke Semarang. Saya langsung memanfaatkan waktu berkunjung (dan salat tentunya) ke Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Waktu tak banyak, langsung saja jeprat-jepret naik ke menara dan menikmati sejenak lanskap Kota Semarang. Next time, wanna go to Lawang Sewu. Insya Allah...
Pasca-Membaca "Nasional.Is.Me"-nya Pandji Pragiwaksono
Sudah lama tak baca buku, keasyikan belajar siasat dan trik tes TOEFL. Tiba-tiba bisa kecanduan sekilas nuntasin buku karya Pandji Pragiwaksono bertitel Nasional.Is.Me. Ceritanya begini... Suatu pagi saya (seperti biasa) berstatus invisible di Y!M, di situ saya lihat teman saya sedang online dan muter lagunya Pandji berjudul apa gitu. Terus saya sapa dan sahut saja... mengingat saya sering dengar Hard Rock FM sewaktu masih merantau cari nafkah di Jakarta. Tanya tentang bagaimana lagu-lagu Pandji. Eh, teman saya tahu-tahu bilang dia jadi enggan bepergian ke Thai atau Viet dan lebih memilih destinasi domestik setelah baca Nasional.Is.Me. Whoa... penasaran saya jadinya tentang how strong this book affects its readers jadinya? Saya dikasih rekomendasi buat ngunduh pdf-nya via pandji.com (thx Aji...). Sampailah saya di laman tersebut dan busyet! Saya baru nyadar, Pandji yang dimaksud itu Pandji yang sering nongol di TV. Ya ampun, kemana aja saya selama ini... Hello?
Mulai baca. Kebetulan waktu itu saya sedang di kantor, pakai fasilitas internet kantor pula buat unduh file (sekadar informasi, saya bekerja di instansi pemerintah). Semoga ini bukan bagian dari korupsi apapun itu jenisnya, bismillah saya selalu berniat melakukan sesuatu yang bermanfaat di waktu senggang. Maklum di kerjaan saya memang sangat berlimpah waktu selanya (you know-lah?), ketimbang join RERASAN CLUB yang doyan berbuih-buih bin mumpluk ngerasani sana-sini dan amit-amit!!!! Sepuluh halaman pertama memuat perasaan tertarik amat sangatnya. Konsep tulisan Pandji santai, lugas, jujur, dan tak overakting. Teknisnya pun ayik karena tak rapi tipe justify kayak ngetik makalah. Jadi bacanya enjoy dan (yang terpenting) cepat ganti halaman. Hwa3....
Buku ini semacam persuasi provokatif bagi apatis-er sampai level ke bawahnya dalam memandang Indonesia. Intinya, tak seburuk itu kok Indonesia dan kalau peduli dan mau kamu tentu bisa berbuat sesuatu untuknya. Yang lebih memalukan lagi, saya tak pernah menggagas apa sih itu Indonesia Unite. Dan lewat baca tulisan ini saya baru tahu macam apakah Indonesia Unite itu. Saya takkan membahasnya di sini. Saya akan lebih fokus pada pengalaman dan apa yang tersisa dalam diri selama dan setelah membaca Nasional.Is.Me. Judulnya aja lucu dan kreatif ya. Salut buat Mas Pandji yang mau blak-blakan dan membuka diri guna berbagi sesama ihwal latar belakang dan pengalaman hidupnya. Acapkali saya terharu (dalam artian sebenarnya) ketika melintasi bagian-bagian yang humanis nan emosional. Itu tersebar di banyak bagian dalam tulisan ini. Mulai masa sekolahnya sampai caption pada halaman terakhir.
Saya sangat tertarik dengan perjalanan kisah SD-SMP-SMA, terutama waktu SMA. Beneran, kalau saya kreatif dan punya senses of film-making bagus pasti sudah bisa menyiapkan rencana pembuatan filmnya. Tak semua orang punya pengalaman hidup yang sama. Itu yang membuat masing-masing cerita jadi unik dan bernilai lebih kalau kita bisa menceritrerakannya secara bersemangat dan seru (ingat karakter Forrest Gump jadinya). Halaman demi halaman saya lewati, makin ke sini makin membuat saya malu karena merasa belum bisa berbuat sesuatu untuk negeri sekalipun sekarang sudah menjadi CALON staf pemerintah. Sementara di dalam dan luar kantor saya malah lebih sering enjoy ngenyek-ngenyek dan murka atas perlakuan lembaga terhadap diri. Semoga saja takkan berkepanjangan dan bisa mendorong ke arah yang lebih baik. Amin. Tapi jujur, pelampiasan itu perlu karena akan menghasilkan energi negatif kalau terus-terusan dipendam.
Nasional.Is.Me membuat khayal saya sepintas berkeliling ke beberapa pelosok negeri. Bagian yang disampaikan setelah babak tentang sekolah dan olahraga. Pada bagian olahraga, saya mengamini juga bahwa salah satu momen kebersatuan negeri ini ya pas pertandingan melawan negara lain. Semua yang tadinya berantem bisa menjadi satu-padu. Dari mana kekuatan ini berasal kalau kita sendiri telah menyadari bahwa kita ini satu. Memang musti terus diasah, kalau perlu dipaksakan. Saya harap, kalau ingin benar-benar membuat tulisan ini spesial ketika membacanya mohon dikesampingkan dulu prinsip ala Imagine-nya John Lennon sejenak karena kita sekarang sedang membicarakan Indonesia, yang dibatasi faktor yuridis dan geografis.
Saya salut dengan cetusan Indonesia Unite yang mengobarkan semangat revitalisasi nasionalisme. Sekarang masih banyak yang mendiskusikannya tentang apakah masih ada, relevankah, apa penggantinya. Bagi saya pribadi, silakan lakukan apapun yang bisa dikerjakan asal positif dan berusaha tidak berjalan di tempat. Capeknya terasa mubadzir. Negara kita tercinta ini tak hanya kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya melainkan juga wacana. Manfaatkan itu untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun. Memang Pandji dalam buku ini tak menyarankan dan menolak terjadinya revolusi karena negara ini sudah on the track. Tapi bagi saya, kaum revolusioner pun silakan meneruskan persiapan kematangan dalam eksekusi dan visinya asal tak mengganggu dan mengorbankan perdamaian dan segala kebaikan yang sudah ada di Indonesia.
Mari kita lakukan dengan cara masing-masing. Saya pribadi takkan malu untuk memulai dengan hal remeh, misal membuang sampah pada tempatnya. Bagi negara yang sebentar lagi berusia 66 tahun ini hal kecil apapun akan terasa besar manfaatnya kelak. Gila apa, buang sampah aja masih sebarangan padahal sudah berkepala enam. Apa tak kurang menyedihkan? Inilah investasi bagi pendekatan sekuler, untuk yang relijius bisa jadi jariyah. Insya Allah... Temukan teman-teman sevisi demi menjadi stabilitas pelita semangat. Konsisten untuk sedikit demi sedikit menular-sultutkan ke yang lain. Sudah jamak diketahui bahwa pada hakikatnya manusia dilahirkan bersih. Lama-kelamaan pasti akan ada yang tersetrum jika yang kita lakukan merupakan murninya kebaikan. Biarkan sumbu ini menyala hingga lilin meleleh habis. 13/08/11
Mulai baca. Kebetulan waktu itu saya sedang di kantor, pakai fasilitas internet kantor pula buat unduh file (sekadar informasi, saya bekerja di instansi pemerintah). Semoga ini bukan bagian dari korupsi apapun itu jenisnya, bismillah saya selalu berniat melakukan sesuatu yang bermanfaat di waktu senggang. Maklum di kerjaan saya memang sangat berlimpah waktu selanya (you know-lah?), ketimbang join RERASAN CLUB yang doyan berbuih-buih bin mumpluk ngerasani sana-sini dan amit-amit!!!! Sepuluh halaman pertama memuat perasaan tertarik amat sangatnya. Konsep tulisan Pandji santai, lugas, jujur, dan tak overakting. Teknisnya pun ayik karena tak rapi tipe justify kayak ngetik makalah. Jadi bacanya enjoy dan (yang terpenting) cepat ganti halaman. Hwa3....
Buku ini semacam persuasi provokatif bagi apatis-er sampai level ke bawahnya dalam memandang Indonesia. Intinya, tak seburuk itu kok Indonesia dan kalau peduli dan mau kamu tentu bisa berbuat sesuatu untuknya. Yang lebih memalukan lagi, saya tak pernah menggagas apa sih itu Indonesia Unite. Dan lewat baca tulisan ini saya baru tahu macam apakah Indonesia Unite itu. Saya takkan membahasnya di sini. Saya akan lebih fokus pada pengalaman dan apa yang tersisa dalam diri selama dan setelah membaca Nasional.Is.Me. Judulnya aja lucu dan kreatif ya. Salut buat Mas Pandji yang mau blak-blakan dan membuka diri guna berbagi sesama ihwal latar belakang dan pengalaman hidupnya. Acapkali saya terharu (dalam artian sebenarnya) ketika melintasi bagian-bagian yang humanis nan emosional. Itu tersebar di banyak bagian dalam tulisan ini. Mulai masa sekolahnya sampai caption pada halaman terakhir.
Saya sangat tertarik dengan perjalanan kisah SD-SMP-SMA, terutama waktu SMA. Beneran, kalau saya kreatif dan punya senses of film-making bagus pasti sudah bisa menyiapkan rencana pembuatan filmnya. Tak semua orang punya pengalaman hidup yang sama. Itu yang membuat masing-masing cerita jadi unik dan bernilai lebih kalau kita bisa menceritrerakannya secara bersemangat dan seru (ingat karakter Forrest Gump jadinya). Halaman demi halaman saya lewati, makin ke sini makin membuat saya malu karena merasa belum bisa berbuat sesuatu untuk negeri sekalipun sekarang sudah menjadi CALON staf pemerintah. Sementara di dalam dan luar kantor saya malah lebih sering enjoy ngenyek-ngenyek dan murka atas perlakuan lembaga terhadap diri. Semoga saja takkan berkepanjangan dan bisa mendorong ke arah yang lebih baik. Amin. Tapi jujur, pelampiasan itu perlu karena akan menghasilkan energi negatif kalau terus-terusan dipendam.
Nasional.Is.Me membuat khayal saya sepintas berkeliling ke beberapa pelosok negeri. Bagian yang disampaikan setelah babak tentang sekolah dan olahraga. Pada bagian olahraga, saya mengamini juga bahwa salah satu momen kebersatuan negeri ini ya pas pertandingan melawan negara lain. Semua yang tadinya berantem bisa menjadi satu-padu. Dari mana kekuatan ini berasal kalau kita sendiri telah menyadari bahwa kita ini satu. Memang musti terus diasah, kalau perlu dipaksakan. Saya harap, kalau ingin benar-benar membuat tulisan ini spesial ketika membacanya mohon dikesampingkan dulu prinsip ala Imagine-nya John Lennon sejenak karena kita sekarang sedang membicarakan Indonesia, yang dibatasi faktor yuridis dan geografis.
Saya salut dengan cetusan Indonesia Unite yang mengobarkan semangat revitalisasi nasionalisme. Sekarang masih banyak yang mendiskusikannya tentang apakah masih ada, relevankah, apa penggantinya. Bagi saya pribadi, silakan lakukan apapun yang bisa dikerjakan asal positif dan berusaha tidak berjalan di tempat. Capeknya terasa mubadzir. Negara kita tercinta ini tak hanya kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya melainkan juga wacana. Manfaatkan itu untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun. Memang Pandji dalam buku ini tak menyarankan dan menolak terjadinya revolusi karena negara ini sudah on the track. Tapi bagi saya, kaum revolusioner pun silakan meneruskan persiapan kematangan dalam eksekusi dan visinya asal tak mengganggu dan mengorbankan perdamaian dan segala kebaikan yang sudah ada di Indonesia.
Mari kita lakukan dengan cara masing-masing. Saya pribadi takkan malu untuk memulai dengan hal remeh, misal membuang sampah pada tempatnya. Bagi negara yang sebentar lagi berusia 66 tahun ini hal kecil apapun akan terasa besar manfaatnya kelak. Gila apa, buang sampah aja masih sebarangan padahal sudah berkepala enam. Apa tak kurang menyedihkan? Inilah investasi bagi pendekatan sekuler, untuk yang relijius bisa jadi jariyah. Insya Allah... Temukan teman-teman sevisi demi menjadi stabilitas pelita semangat. Konsisten untuk sedikit demi sedikit menular-sultutkan ke yang lain. Sudah jamak diketahui bahwa pada hakikatnya manusia dilahirkan bersih. Lama-kelamaan pasti akan ada yang tersetrum jika yang kita lakukan merupakan murninya kebaikan. Biarkan sumbu ini menyala hingga lilin meleleh habis. 13/08/11
Minggu, 07 Agustus 2011
Resensi Film: Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 (2011)
Selang satu dekade berlalu, sebuah seri kisah petualangan trio di dunia sihir berakhir. Berasa telah menjadi bagian dari tak hanya kru pembuat film namun juga pemirsanya. Saya jadi teringat ketika pertama kali menonton seri pertama Potter lewat VCD bajakan yang mutunya bikin muntah-muntah. Macam colongan syut di dalam bioskop.
Tentu bukanlah kisah penutup yang dinanti-nantikan para pemirsanya lewat seri pungkasan ini karena telah umum diketahui dari bukunya, melainkan bagaimana adaptasi dan visualisasinya. Ekspektasi saya menonton seri ini hanya satu, semoga lebih baik ketimbang seri sebelumnya. Film dibuka persis dengan adegan penutup dalam Part 1. Alhamdulillah... Untung tak terwara “sebelumnya... di Part 1” (seperti dalam sinetron Cinta Fitri). Kencangkan sabuk pengaman sejak dini karena seri ini langsung tancap gas.
Kalau dalam Part 1 saya sangat bersyukur (seingat saya) tak tersaji format 3D, tapi seri pungkasan ini tak salah jika Anda menikmatinya dalam format 3D karena beberapa adegan berpotensi sensasional. Seketika, saya langsung berpikir mengapa tak dibuat saja The Deathly Hallows dalam satu judul alias tak perlu dipisah namun dengan durasi yang disesuaikan. Lord of the Rings saja mampu menyajikan dengan baik tiap serinya. Selain itu, sayang tak terlalu banyak agenda strada yang membidani seri Potter (tercatat hanya 4: Chris Columbus, Alfonso Cuaron, Mike Newell, dan David Yates). Bayangkan saja jadinya jika Potter distradai oleh Tim Burton, Peter Jackson, dll.
Beberapa komentar dari teman saya yang telah membaca bukunya... Ada yang bilang terlalu maksa memasukkan adegan-adegan ciuman, juga ada yang berpendapat untuk sebuah penutupan kurang akbar. Saya pikir sangat wajar dengan lontaran komentar demikian jika kita sudah membaca bukunya. Bagi yang belum, sensasi akan terasa sedikit berbeda karena belum mengetahui jalinan akhir kisahnya ditambah dengan intensitas plot yang solid akan mengesankan tingkat keseruan yang lebih maksimal.
Beberapa adegan yang cukup “cape deh...”, semisal pengadegan Potter dalam kondisi “sekarat” dan “19 tahun kemudian” menjadi cukup terkubur. Secara keseluruhan, David Yates membayar lunas kekhilafannya dalam Part 1 dan menyajikan win-win solution bagi pemirsa Potter. Sebuah khatam yang sukses menuntaskan penasaran. [A-] 07/08/11
Tentu bukanlah kisah penutup yang dinanti-nantikan para pemirsanya lewat seri pungkasan ini karena telah umum diketahui dari bukunya, melainkan bagaimana adaptasi dan visualisasinya. Ekspektasi saya menonton seri ini hanya satu, semoga lebih baik ketimbang seri sebelumnya. Film dibuka persis dengan adegan penutup dalam Part 1. Alhamdulillah... Untung tak terwara “sebelumnya... di Part 1” (seperti dalam sinetron Cinta Fitri). Kencangkan sabuk pengaman sejak dini karena seri ini langsung tancap gas.
Kalau dalam Part 1 saya sangat bersyukur (seingat saya) tak tersaji format 3D, tapi seri pungkasan ini tak salah jika Anda menikmatinya dalam format 3D karena beberapa adegan berpotensi sensasional. Seketika, saya langsung berpikir mengapa tak dibuat saja The Deathly Hallows dalam satu judul alias tak perlu dipisah namun dengan durasi yang disesuaikan. Lord of the Rings saja mampu menyajikan dengan baik tiap serinya. Selain itu, sayang tak terlalu banyak agenda strada yang membidani seri Potter (tercatat hanya 4: Chris Columbus, Alfonso Cuaron, Mike Newell, dan David Yates). Bayangkan saja jadinya jika Potter distradai oleh Tim Burton, Peter Jackson, dll.
Beberapa komentar dari teman saya yang telah membaca bukunya... Ada yang bilang terlalu maksa memasukkan adegan-adegan ciuman, juga ada yang berpendapat untuk sebuah penutupan kurang akbar. Saya pikir sangat wajar dengan lontaran komentar demikian jika kita sudah membaca bukunya. Bagi yang belum, sensasi akan terasa sedikit berbeda karena belum mengetahui jalinan akhir kisahnya ditambah dengan intensitas plot yang solid akan mengesankan tingkat keseruan yang lebih maksimal.
Beberapa adegan yang cukup “cape deh...”, semisal pengadegan Potter dalam kondisi “sekarat” dan “19 tahun kemudian” menjadi cukup terkubur. Secara keseluruhan, David Yates membayar lunas kekhilafannya dalam Part 1 dan menyajikan win-win solution bagi pemirsa Potter. Sebuah khatam yang sukses menuntaskan penasaran. [A-] 07/08/11
Rabu, 03 Agustus 2011
Resensi Film: Hereafter (2010)
Tua-tua keladi. Mungkin itu peribahasa yang pas saya sematkan bagi Clint Eastwood. Betapa produktif dan intimnya film-film drama besutan aki-aki ini. Alam bawah sadar saya selalu merindukan karya-karya Eastwood. Kali ini datang dari sebuah judul yang nilai konsensus dari kritikus filmnya bias dibilang biasa-biasa saja. Saya agak terkejut juga karena biasanya film Eastwood selalu dapat skor tinggi. Tapi saya takkan ikut-ikutan menghakimi sebelum menontonnya sendiri.
Apa yang akan terjadi setelah kematian? Pertanyaan ini menjadi peluit start. Lewat tiga cerita paralel, Hereafter menjalin ikatan kisah senasib-sepenanggunan atas tiga karakter utama lintas negara: (1) wanita karier asal Paris berprestasi gemilang yang menjalani “hidup kedua” pascamusibah tsunami kala piknik; (2) seorang cenayang—diperankan Matt Damon—warga San Fransisco yang akan bertobat melakukan pembacaan; (2) bocah yang tinggal di London sedang merindu dan berat melepas kepergian saudara kembarnya.
Menonton film multiplot pasti memancing tanya bagaimana jadinya mereka bertiga nanti. Akankah saling berhubungan atau dibiarkan saja bak fragmen berserakan. Eastwood memilih formula khas Hollywood yang takkan menelantarkan penontonnya dengan tanda tanya besar berbuntut diskusi panjang dan debat kusir. Tapi inilah yang ke depannya malah jadi bumerang Hereafter.
Si cenayang merasa kehidupan sosialnya tersiksa. Ia merasa berkat yang ia punya merupakan sebuah kutukan. Hanya bersentuhan tangan, tanpa kesengajaan pembacaan, pun indera keenamnya langsung terkoneksi dengan entitas gaib dari orang yang disentuhnya. Wanita karier asal Paris yang merasa sempat memasuki alam kematian spontan gairah dan orientasi hidupnya berbalik 360 derajat. Ia tak tertarik lagi dengan popularitas dan kekayaan, fokusnya hanya mendalami apa yang telah terjadi pada dirinya dan berbagi kisah hidupnya pada sesama. Si Bocah dari London gamang atas situasi yang menghimpitnya. Tiba-tiba ia kehilangan panutan yang bukan lain merupakan kembarannya. Ia kesana-kemari mencari jalan untuk bias berkomunikasi dengan mendiang saudaranya.
Bukan Eastwood kalau tak memperdalam nilai-nilai maknawi pencarian. Itulah kekuatan Hereafter. Ia mengajak penonton juga mencari dengan cara yang lembut, tak grusah-grusuh. Menuntun dan membebaskan perasaan. Tapi tema semacam ini bakal sulit dan pasti akan selalu susah dikembangkan. Mengapa demikian? Karena semua bermain dengan pengandaian dan ihwal keyakinan. Hereafter pun tak bias lolos dari jebakan demikian.
Tiga per empat awal bagian film begitu terasa mengalir. Baru kelihatan bingung ketika menginjak naskah bagian akhir tentang mau dibawa kemana multiplot bertemakan sentuhan kematian ini. Penulis naskah pilih menyudahinya sebagai sebuah romantisme khas ending film drama komedi. Sah-sah saja, namun sayangnya tak terbangun konstruksi utuh mengenai kisah cinta di sini. Saya sadar bahwa masalah ketiganya tuntas di bagian akhir film, namun cubitan-cubitan adegan hingga paro film tak mengarahkan dengan jenis ending yang dihasilkan. Sebuah kejutan yang tak disangka namun meleleh seperti mendapati es krim yang dibeli dari supermarket telah lumer sesampai di rumah. [B-] 03/08/11
Apa yang akan terjadi setelah kematian? Pertanyaan ini menjadi peluit start. Lewat tiga cerita paralel, Hereafter menjalin ikatan kisah senasib-sepenanggunan atas tiga karakter utama lintas negara: (1) wanita karier asal Paris berprestasi gemilang yang menjalani “hidup kedua” pascamusibah tsunami kala piknik; (2) seorang cenayang—diperankan Matt Damon—warga San Fransisco yang akan bertobat melakukan pembacaan; (2) bocah yang tinggal di London sedang merindu dan berat melepas kepergian saudara kembarnya.
Menonton film multiplot pasti memancing tanya bagaimana jadinya mereka bertiga nanti. Akankah saling berhubungan atau dibiarkan saja bak fragmen berserakan. Eastwood memilih formula khas Hollywood yang takkan menelantarkan penontonnya dengan tanda tanya besar berbuntut diskusi panjang dan debat kusir. Tapi inilah yang ke depannya malah jadi bumerang Hereafter.
Si cenayang merasa kehidupan sosialnya tersiksa. Ia merasa berkat yang ia punya merupakan sebuah kutukan. Hanya bersentuhan tangan, tanpa kesengajaan pembacaan, pun indera keenamnya langsung terkoneksi dengan entitas gaib dari orang yang disentuhnya. Wanita karier asal Paris yang merasa sempat memasuki alam kematian spontan gairah dan orientasi hidupnya berbalik 360 derajat. Ia tak tertarik lagi dengan popularitas dan kekayaan, fokusnya hanya mendalami apa yang telah terjadi pada dirinya dan berbagi kisah hidupnya pada sesama. Si Bocah dari London gamang atas situasi yang menghimpitnya. Tiba-tiba ia kehilangan panutan yang bukan lain merupakan kembarannya. Ia kesana-kemari mencari jalan untuk bias berkomunikasi dengan mendiang saudaranya.
Bukan Eastwood kalau tak memperdalam nilai-nilai maknawi pencarian. Itulah kekuatan Hereafter. Ia mengajak penonton juga mencari dengan cara yang lembut, tak grusah-grusuh. Menuntun dan membebaskan perasaan. Tapi tema semacam ini bakal sulit dan pasti akan selalu susah dikembangkan. Mengapa demikian? Karena semua bermain dengan pengandaian dan ihwal keyakinan. Hereafter pun tak bias lolos dari jebakan demikian.
Tiga per empat awal bagian film begitu terasa mengalir. Baru kelihatan bingung ketika menginjak naskah bagian akhir tentang mau dibawa kemana multiplot bertemakan sentuhan kematian ini. Penulis naskah pilih menyudahinya sebagai sebuah romantisme khas ending film drama komedi. Sah-sah saja, namun sayangnya tak terbangun konstruksi utuh mengenai kisah cinta di sini. Saya sadar bahwa masalah ketiganya tuntas di bagian akhir film, namun cubitan-cubitan adegan hingga paro film tak mengarahkan dengan jenis ending yang dihasilkan. Sebuah kejutan yang tak disangka namun meleleh seperti mendapati es krim yang dibeli dari supermarket telah lumer sesampai di rumah. [B-] 03/08/11
Minggu, 31 Juli 2011
Resensi Film: Sang Pencerah (2010)
Mau apa lagi Hanung? Ia salah satu strada Indonesia yang konsisten, baik mutu maupun produktivitasnya. Sejak Catatan Akhir Sekolah, saya jatuh cinta terhadap karya-karyanya. Meskipun beberapa judul terbilang biasa saja dan tak menarik hati, tapi tetap saja ia sukses membuktikan eksistensinya.
Sang Pencerah (SP) berkisah tentang K.H. Ahmad Dahlan (KHAD), sejak ia dilahirkan hingga mendirikan organisasi sosial Muhammadiyah. Melihat judulnya saja swerem... ngeri. Saya tak perlu banyak cerita ihwal sinopsis di sini karena ceritanya jelas, dokudrama semibiografi. Lewat banyak tebaran pemain selebritas, SP coba merekonstruksi tantangan dan keteguhan KHAD. Kalau boleh saya bagi, ada 3 babak besar subplot film ini: (1) kecemasan spiritual KHAD, (2) purifikasi dan ijtihad beserta tantangannya, dan (3) cikal-bakal Muhammadiyah.
Rona temaram kekuningan sarat khas pelita obor sebagai nuansa sinematografi SP membuai penontonnya lebih merasa mengalami langsung kesan artistik Jogjakarta era peralihan abad ke-19 menuju abad ke-20 dalam suasana musik dawai melankolis dan lagu Lir-Ilir termodifikasi. Saya tak merasakan gangguan anakronisme. Yang membuat saya agak kurang sreg dengan film ini adalah kurang tegasnya pemecahan masalah pada tiap babak plot utamanya, selalu menyisakan lamunan bahwa kenapa sudah beralih subplot?
Banyak adegan eksplisit tataran filosofis yang terkesan standar karena mudah ditebak dan sering kita lihat dalam film-film Barat sehingga kita tak memperoleh sensasi berdirinya bulu kuduk. Dalam segi pemeranan, perlu saya apresiasi untuk aksi debutan Ihsan-Idol. Sayangnya, dari segi peran protagonis kenapa Lukman Sardi melulu? Bukannya tak suka dengan akting Lukman namun bagi saya ia terlalu overekspos alias keseringan jadi orang bijak. Ini perkara subyektivitas.
Secara keseluruhan, SP cukup rapi dan apik. Namun, lagi-lagi yang menyisakan tanda tanya bagi saya adalah untuk apa film ini dibuat? Saya belum mendapatkan pencerahan hingga akhir film. Ibarat mengonsumsi versi kreatifnya sebuah buku pelajaran sejarah. Tentu kenyataan ini berbeda ketika saya menonton The King’s Speech yang walaupun bercerita tentang kegagapan tokoh sentralnya namun punya visi jelas mengantarkan penonton pada wahana renungan indahnya persahabatan.
Geli juga ketika mengulas balik kisah minus SP dalam nominasi-nominasi FFI lantaran tim juri menganggap film ini tak otentik. Sebuah alasan kekanak-kanakan. Saya kembali teringat Hanung yang membalas pernyataan seperti ini, “apa mereka pernah ngopi bareng dengan KHAD sehingga bisa mengganggap SP tak otentik?” Maju terus Hanung. Tetaplah berkarya, karena dalam karya terburukmu sekalipun masih saja jauh lebih berkualitas ketimbang mayoritas produksi film Indonesia. Kalau perfilman Indonesia mau maju, SP harusnya menjadi batas standar minimal kualitas film Indonesia. [B-] 31/07/11
Sang Pencerah (SP) berkisah tentang K.H. Ahmad Dahlan (KHAD), sejak ia dilahirkan hingga mendirikan organisasi sosial Muhammadiyah. Melihat judulnya saja swerem... ngeri. Saya tak perlu banyak cerita ihwal sinopsis di sini karena ceritanya jelas, dokudrama semibiografi. Lewat banyak tebaran pemain selebritas, SP coba merekonstruksi tantangan dan keteguhan KHAD. Kalau boleh saya bagi, ada 3 babak besar subplot film ini: (1) kecemasan spiritual KHAD, (2) purifikasi dan ijtihad beserta tantangannya, dan (3) cikal-bakal Muhammadiyah.
Rona temaram kekuningan sarat khas pelita obor sebagai nuansa sinematografi SP membuai penontonnya lebih merasa mengalami langsung kesan artistik Jogjakarta era peralihan abad ke-19 menuju abad ke-20 dalam suasana musik dawai melankolis dan lagu Lir-Ilir termodifikasi. Saya tak merasakan gangguan anakronisme. Yang membuat saya agak kurang sreg dengan film ini adalah kurang tegasnya pemecahan masalah pada tiap babak plot utamanya, selalu menyisakan lamunan bahwa kenapa sudah beralih subplot?
Banyak adegan eksplisit tataran filosofis yang terkesan standar karena mudah ditebak dan sering kita lihat dalam film-film Barat sehingga kita tak memperoleh sensasi berdirinya bulu kuduk. Dalam segi pemeranan, perlu saya apresiasi untuk aksi debutan Ihsan-Idol. Sayangnya, dari segi peran protagonis kenapa Lukman Sardi melulu? Bukannya tak suka dengan akting Lukman namun bagi saya ia terlalu overekspos alias keseringan jadi orang bijak. Ini perkara subyektivitas.
Secara keseluruhan, SP cukup rapi dan apik. Namun, lagi-lagi yang menyisakan tanda tanya bagi saya adalah untuk apa film ini dibuat? Saya belum mendapatkan pencerahan hingga akhir film. Ibarat mengonsumsi versi kreatifnya sebuah buku pelajaran sejarah. Tentu kenyataan ini berbeda ketika saya menonton The King’s Speech yang walaupun bercerita tentang kegagapan tokoh sentralnya namun punya visi jelas mengantarkan penonton pada wahana renungan indahnya persahabatan.
Geli juga ketika mengulas balik kisah minus SP dalam nominasi-nominasi FFI lantaran tim juri menganggap film ini tak otentik. Sebuah alasan kekanak-kanakan. Saya kembali teringat Hanung yang membalas pernyataan seperti ini, “apa mereka pernah ngopi bareng dengan KHAD sehingga bisa mengganggap SP tak otentik?” Maju terus Hanung. Tetaplah berkarya, karena dalam karya terburukmu sekalipun masih saja jauh lebih berkualitas ketimbang mayoritas produksi film Indonesia. Kalau perfilman Indonesia mau maju, SP harusnya menjadi batas standar minimal kualitas film Indonesia. [B-] 31/07/11
Resensi Film: Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 (2010)
Saya tak ingin menyalahkan mood saya ketika menonton film ini. Tak juga karena saya bukan Potter-mania. Tapi memang karena film ini terasa melempem dan frustrasi. Tapi silakan enyek-enyek saya lantaran kasih komentar meski tak membaca bukunya dulu. Sebuah film adaptasi harusnya berdiri sendiri, tak perlu penontonnya membaca buku terlebih dahulu.
Untung saja bagian pertama seri terakhir Harry Potter ini tak disajikan dalam format 3D, karena minus aksi dan efek yang bakal aduhai jika dinikmati dalam sajian trimatra. Alur berjalan amat lambatnya, membuat menguap berkali-kali. Walau beda kelas, saya jadi merasa seperti melihat sinetron "Puteri yang Ditukar" dan sejenisnya. Diulur-ulur, inefektif, dan pointless.
Dalam jilid pertama ini, saya kurang menangkap gereget Potter vs Voldemort. Petualangan trio Potter-Ron-Hermione pun kurang intim sekalipun dalam adegan kritis. Terlalu banyak suntingan fade in-fade out. Beda sensasi yang ditangkap ketika menikmati trilogi Lord of the Rings yang membuat akhir tiap serinya secara bijak. Membuat penasaran terselubung dalam kemasan puitis.
Satu-satunya adegan yang saya beri apresiasi adalah ketika Hermione berceritera tentang kisah ihwal apa itu relikui kematian? Pengadegan langsung berwujud semi-3D dengan monolog yang proporsional.
Semoga pungkasan film Harry Potter tidak demikian. Bagi saya, jilid 1 ini menjadi versi extended yang menjemukan. Sama sekali tak merangsang. Kalau bukan karena ia punya 6 seri pendahulu pasti saya enteng berucap "skip it out". [C] 31/07/11
Untung saja bagian pertama seri terakhir Harry Potter ini tak disajikan dalam format 3D, karena minus aksi dan efek yang bakal aduhai jika dinikmati dalam sajian trimatra. Alur berjalan amat lambatnya, membuat menguap berkali-kali. Walau beda kelas, saya jadi merasa seperti melihat sinetron "Puteri yang Ditukar" dan sejenisnya. Diulur-ulur, inefektif, dan pointless.
Dalam jilid pertama ini, saya kurang menangkap gereget Potter vs Voldemort. Petualangan trio Potter-Ron-Hermione pun kurang intim sekalipun dalam adegan kritis. Terlalu banyak suntingan fade in-fade out. Beda sensasi yang ditangkap ketika menikmati trilogi Lord of the Rings yang membuat akhir tiap serinya secara bijak. Membuat penasaran terselubung dalam kemasan puitis.
Satu-satunya adegan yang saya beri apresiasi adalah ketika Hermione berceritera tentang kisah ihwal apa itu relikui kematian? Pengadegan langsung berwujud semi-3D dengan monolog yang proporsional.
Semoga pungkasan film Harry Potter tidak demikian. Bagi saya, jilid 1 ini menjadi versi extended yang menjemukan. Sama sekali tak merangsang. Kalau bukan karena ia punya 6 seri pendahulu pasti saya enteng berucap "skip it out". [C] 31/07/11
Jumat, 15 Juli 2011
Resensi Film Dokumenter: Panggung Kasetyan Balekambang (2005)
Dokumenter tak ada matinya. Lugas, tanpa tedeng aling-aling, terkadang liar, bahkan ngawur. Meski tak sedikit pula yang berpoles ria di sana-sini. Tapi toh tujuannya menyampaikan suatu pesan dengan cara yang lebih personal. Kali ini saya mendapati satu judul yang diberi seorang teman dari Rumah Sinema, diambil dari “In-Docs, DocuBox Vol. 8: Seri Pemeliharaan Lingkungan dan Tradisi”.
Saya kira film dokumenter nonfiksi Panggung Kasetyan Balekambang mau bercerita tentang kehidupan penuh peluh pedagang bunga di Pasar Bunga Solo, namun saya keliru. Ternyata tentang kesenian kethoprak Balekambang, 0-1 saya tertinggal. Lantaran di awal film tak spesifik menggambarkan mau bercerita ihwal apa film ini. Dua puluh menit panjangnya berisi (ibarat) diskusi panel infotainment namun tanpa presenter aduhai. Ada tiga kubu: seniman Kethoprak Balekambang, pemerintah, dan budayawan.
Babak awal, apa arti kethoprak bagi komunitasnya. Kedua, mengapa masih bertahan. Ketiga, mau dibawa kemana. Jelas sangat menarik membahas tema sejenis ini, upaya pelestarian produk seni. Saya tak akan membahas substansi di sini, karena forumnya akan lebih menarik jika diperbincangkan dalam forum diskusi. Yang jelas, film ini berujar tentang itu tanpa menggiring penontonnya condong terhadap satu kubu meski secara porsi pengadegan lebih banyak lewat seniman-sentris.
Sudut lusuh nan kumuh Panggung Seniman Muda di Balekambang sayangnya tak dieksploitasi secara dramatis oleh tim kreator (Fajar Nugroho & BW PurbaNegara). Saya butuh sentuhan lebih. Sesuatu yang membuat diri jengkel, iba, bahkan tergerak. Inilah perbincangan yang takkan ada habisnya dikupas. Sebuah cerminan kereta zaman yang digerakkan oleh bahan bakar berlabel kepedulian. [C] 14/07/11 (link: http://www.in-docs.org/directories/documentary/panggung-kasetyan-balekambang-the-unwavering-ketoprak-balekambang/id)
Saya kira film dokumenter nonfiksi Panggung Kasetyan Balekambang mau bercerita tentang kehidupan penuh peluh pedagang bunga di Pasar Bunga Solo, namun saya keliru. Ternyata tentang kesenian kethoprak Balekambang, 0-1 saya tertinggal. Lantaran di awal film tak spesifik menggambarkan mau bercerita ihwal apa film ini. Dua puluh menit panjangnya berisi (ibarat) diskusi panel infotainment namun tanpa presenter aduhai. Ada tiga kubu: seniman Kethoprak Balekambang, pemerintah, dan budayawan.
Babak awal, apa arti kethoprak bagi komunitasnya. Kedua, mengapa masih bertahan. Ketiga, mau dibawa kemana. Jelas sangat menarik membahas tema sejenis ini, upaya pelestarian produk seni. Saya tak akan membahas substansi di sini, karena forumnya akan lebih menarik jika diperbincangkan dalam forum diskusi. Yang jelas, film ini berujar tentang itu tanpa menggiring penontonnya condong terhadap satu kubu meski secara porsi pengadegan lebih banyak lewat seniman-sentris.
Sudut lusuh nan kumuh Panggung Seniman Muda di Balekambang sayangnya tak dieksploitasi secara dramatis oleh tim kreator (Fajar Nugroho & BW PurbaNegara). Saya butuh sentuhan lebih. Sesuatu yang membuat diri jengkel, iba, bahkan tergerak. Inilah perbincangan yang takkan ada habisnya dikupas. Sebuah cerminan kereta zaman yang digerakkan oleh bahan bakar berlabel kepedulian. [C] 14/07/11 (link: http://www.in-docs.org/directories/documentary/panggung-kasetyan-balekambang-the-unwavering-ketoprak-balekambang/id)
Sabtu, 02 Juli 2011
Resensi Film: Source Code (2011)
Terbangun dalam raga orang lain dan berkali-kali mengulangi kejadian sama. Itulah yang dialami karakter utama film Source Code. Ia belakangan menyadari bahwa sedang menjadi kelinci percobaan proyek pertahanan rintisan pemerintah dalam mendulang informasi terorisme. Prinsip kerjanya cukup rumit dan susah untuk dijelaskan karena saya sendiri kurang paham dan tak begitu percaya dengan kemungkinan mekanik seperti itu, yakni memanfaatkan sisa gelombang elektromagnetik (dianalogikan dengan proses fenomena halo) otak milik jasad yang baru saja tewas guna menyusup dalam memori kejadian historis.
Namun jangan keburu salah sangka dulu bahwa saya lantas mencak-mencak. Dan anehnya lagi, makin kemari makin bisa menikmati ritme film. Perlu dicatat, jarang sekali penonton bisa enjoy apabila sejak awal sudah tak percaya dengan premis-premis pembangun cerita. Satu poin penting keseruan film ini adalah penonton diajak menebak-nebak siapakah pelaku teror bom. Berset di dalam gerbong kereta dan berulang kali terjadi ledakan dari kejadian yang sama. Dia ibarat rekaman yang diputar berulang kali dan si tokoh utama disusupkan untuk mencari pelaku teror bom dalam waktu 8 menit. Apabila gagal dan belum mendapat kejelasan, maka ia diterjunkan kembali ke 8 menit terakhir sebelum kereta meledak. Begitulah seterusnya sampai ketahuan siapa pengebomnya sehingga ancaman teror bom berikutnya bisa dihindari.
Meski enjoy, ada hal yang sangat mengganjal saya terhadap film ini. Saking visioner dan fiksinya ide dasar film ini, maka kecolongan juga silogismenya. Kebetulan saya menonton ramai-ramai dan di situ ada ambiguitas ihwal penyusupan jiwa dalam sebuah raga. Semua senada. Silakan tonton sendiri dan dapati sensasi meragunya. Ditambah lagi dengan pilihan ending yang kurang ulung. Ada adegan yang seharusnya lebih tepat dipilih sebagai pemungkas. Sayang sekali... Poin penting kedua yang tak kalah utamanya adalah penetrasi humanisme dalam plot fiksi ilmiah. Tanpa unsur yang satu ini, tontonan fiksi ilmiah macam apapun dengan cara ia diolah (sekalipun digarap Om Spielberg) tetap saja mubadzir karena menjadi tak utuh. Untungnya, Source Code cukup ringkas dan cergas mengantisipasinya. [B] 02/07/11
Namun jangan keburu salah sangka dulu bahwa saya lantas mencak-mencak. Dan anehnya lagi, makin kemari makin bisa menikmati ritme film. Perlu dicatat, jarang sekali penonton bisa enjoy apabila sejak awal sudah tak percaya dengan premis-premis pembangun cerita. Satu poin penting keseruan film ini adalah penonton diajak menebak-nebak siapakah pelaku teror bom. Berset di dalam gerbong kereta dan berulang kali terjadi ledakan dari kejadian yang sama. Dia ibarat rekaman yang diputar berulang kali dan si tokoh utama disusupkan untuk mencari pelaku teror bom dalam waktu 8 menit. Apabila gagal dan belum mendapat kejelasan, maka ia diterjunkan kembali ke 8 menit terakhir sebelum kereta meledak. Begitulah seterusnya sampai ketahuan siapa pengebomnya sehingga ancaman teror bom berikutnya bisa dihindari.
Meski enjoy, ada hal yang sangat mengganjal saya terhadap film ini. Saking visioner dan fiksinya ide dasar film ini, maka kecolongan juga silogismenya. Kebetulan saya menonton ramai-ramai dan di situ ada ambiguitas ihwal penyusupan jiwa dalam sebuah raga. Semua senada. Silakan tonton sendiri dan dapati sensasi meragunya. Ditambah lagi dengan pilihan ending yang kurang ulung. Ada adegan yang seharusnya lebih tepat dipilih sebagai pemungkas. Sayang sekali... Poin penting kedua yang tak kalah utamanya adalah penetrasi humanisme dalam plot fiksi ilmiah. Tanpa unsur yang satu ini, tontonan fiksi ilmiah macam apapun dengan cara ia diolah (sekalipun digarap Om Spielberg) tetap saja mubadzir karena menjadi tak utuh. Untungnya, Source Code cukup ringkas dan cergas mengantisipasinya. [B] 02/07/11
Minggu, 19 Juni 2011
Coldplay - Every Teardrop is a Waterfall (2011)
(www.coldplay.com)
I TURN THE MUSIC UP, I GOT MY RECORDS ON
I SHUT THE WORLD OUTSIDE UNTIL THE LIGHTS COME ON
MAYBE THE STREETS ALIGHT, MAYBE THE TREES ARE GONE
I FEEL MY HEART START BEATING TO MY FAVOURITE SONG
AND ALL THE KIDS THEY DANCE, ALL THE KIDS ALL NIGHT
UNTIL MONDAY MORNING FEELS ANOTHER LIFE
I TURN THE MUSIC UP
I'M ON A ROLL THIS TIME
AND HEAVEN IS IN SIGHT
I TURN THE MUSIC UP, I GOT MY RECORDS ON
FROM UNDERNEATH THE RUBBLE SING A REBEL SONG
DON'T WANT TO SEE ANOTHER GENERATION DROP
I'D RATHER BE A COMMA THAN A FULL STOP
MAYBE I'M IN THE BLACK, MAYBE I'M ON MY KNEES
MAYBE I'M IN THE GAP BETWEEN THE TWO TRAPEZES
BUT MY HEART IS BEATING AND MY PULSES START
CATHEDRALS IN MY HEART
AND WE SAW OH THIS LIGHT I SWEAR YOU, EMERGE BLINKING INTO
TO TELL ME IT'S ALRIGHT
AS WE SOAR WALLS, EVERY SIREN IS A SYMPHONY
AND EVERY TEAR'S A WATERFALL
IS A WATERFALL
OH
IS A WATERFALL
OH OH OH
IS A IS A WATERFALL
EVERY TEAR
IS A WATERFALL
OH OH OH
SO YOU CAN HURT, HURT ME BAD
BUT STILL I'LL RAISE THE FLAG
OH
IT WAS A WA WA WA WA WA-ATERFALL
A WA WA WA WA WA-ATERFALL
EVERY TEAR
EVERY TEAR
EVERY TEARDROP IS A WATERFALL
EVERY TEAR
EVERY TEAR
EVERY TEARDROP IS A WATERFALL
(Every Teardrop Is A Waterfall contains elements of I Go To Rio written by Peter Allen and Adrienne Anderson)
Note:
Uplifting dan feel good, tapi saya merasa ada yang hilang dari Chris Martin dkk. jika mendengarkan single paling gres ini. Saya hanya seorang fans yang rindu dengan nostalgia karya klasik mereka dan album low key akustik ala Parachutes. Semoga suatu saat nanti Coldplay bisa membuat saya merinding kala mendengar karya mereka lagi. Hope so...
I TURN THE MUSIC UP, I GOT MY RECORDS ON
I SHUT THE WORLD OUTSIDE UNTIL THE LIGHTS COME ON
MAYBE THE STREETS ALIGHT, MAYBE THE TREES ARE GONE
I FEEL MY HEART START BEATING TO MY FAVOURITE SONG
AND ALL THE KIDS THEY DANCE, ALL THE KIDS ALL NIGHT
UNTIL MONDAY MORNING FEELS ANOTHER LIFE
I TURN THE MUSIC UP
I'M ON A ROLL THIS TIME
AND HEAVEN IS IN SIGHT
I TURN THE MUSIC UP, I GOT MY RECORDS ON
FROM UNDERNEATH THE RUBBLE SING A REBEL SONG
DON'T WANT TO SEE ANOTHER GENERATION DROP
I'D RATHER BE A COMMA THAN A FULL STOP
MAYBE I'M IN THE BLACK, MAYBE I'M ON MY KNEES
MAYBE I'M IN THE GAP BETWEEN THE TWO TRAPEZES
BUT MY HEART IS BEATING AND MY PULSES START
CATHEDRALS IN MY HEART
AND WE SAW OH THIS LIGHT I SWEAR YOU, EMERGE BLINKING INTO
TO TELL ME IT'S ALRIGHT
AS WE SOAR WALLS, EVERY SIREN IS A SYMPHONY
AND EVERY TEAR'S A WATERFALL
IS A WATERFALL
OH
IS A WATERFALL
OH OH OH
IS A IS A WATERFALL
EVERY TEAR
IS A WATERFALL
OH OH OH
SO YOU CAN HURT, HURT ME BAD
BUT STILL I'LL RAISE THE FLAG
OH
IT WAS A WA WA WA WA WA-ATERFALL
A WA WA WA WA WA-ATERFALL
EVERY TEAR
EVERY TEAR
EVERY TEARDROP IS A WATERFALL
EVERY TEAR
EVERY TEAR
EVERY TEARDROP IS A WATERFALL
(Every Teardrop Is A Waterfall contains elements of I Go To Rio written by Peter Allen and Adrienne Anderson)
Note:
Uplifting dan feel good, tapi saya merasa ada yang hilang dari Chris Martin dkk. jika mendengarkan single paling gres ini. Saya hanya seorang fans yang rindu dengan nostalgia karya klasik mereka dan album low key akustik ala Parachutes. Semoga suatu saat nanti Coldplay bisa membuat saya merinding kala mendengar karya mereka lagi. Hope so...
Sabtu, 18 Juni 2011
Resensi Film: The Town (2010)
Ben Affleck beraksi kembali. Dalam Town, Ben berlaku sebagai pemeran utama dan strada. Setelah cukup berhasil menangani Gone Baby Gone, Ben tak ambil risiko membuat terobosan baru. Bonus di dalam Town adalah adegan aksi. Mengisahkan aksi sekawan pencuri mobil dan perampok bank yang terbentuk karena faktor lingkungan. Berset di Charlestown, Boston, film berdurasi 2 jam ini menambah info buat saya bahwa kawasan itu cukup terkenal dengan kedua aksi kriminal tersebut. Terwariskan turun-temurun, mungkin seperti halnya korupsi di tanah air kita nan tercinta.
Dalam sekawanan tersebut, Ben memerankan tokoh yang ingin bertobat mengubah hidup dari pelaku kriminal menjadi khalayak seperti umumnya. Bertaburan sekali film dengan cerita seperti ini, ingat saja Eastern Promises dkk. Plotnya lempeng-lempeng saja. Dimulai dengan aksi merampok sebuah bank, menyandera saksi, investigasi, pengejaran, dan penyergapan. Kesemuanya menjadi garnis di atas kudapan utama bernama tobat dengan rencana memulai kehidupan baru.
Secara tak langsung The Town membuat saya kembali membandingkan lebih cemerlang mana antara Ben sebagai aktor atau sebagai strada. Kali ini saya sepakat dengan teman saya kalau Ben cenderung bertalenta menjadi strada, dan mungkin sekaligus penulis skenario. Entah mengapa saya selalu melihat Ben memerankan karakter yang itu-itu saja. Cowok dengan hati mulia namun terjebak dalam lingkungan “nakal”.
Untuk sebuah film bertema umum, Town kepanjangan. Tanpa kebaruan dan kejutan berarti membuatnya berwujud pribadi menyenangkan yang duduk di atas kursi roda. Seandainya saja ia bisa bergerak lebih cepat... [B] 18/06/11
Dalam sekawanan tersebut, Ben memerankan tokoh yang ingin bertobat mengubah hidup dari pelaku kriminal menjadi khalayak seperti umumnya. Bertaburan sekali film dengan cerita seperti ini, ingat saja Eastern Promises dkk. Plotnya lempeng-lempeng saja. Dimulai dengan aksi merampok sebuah bank, menyandera saksi, investigasi, pengejaran, dan penyergapan. Kesemuanya menjadi garnis di atas kudapan utama bernama tobat dengan rencana memulai kehidupan baru.
Secara tak langsung The Town membuat saya kembali membandingkan lebih cemerlang mana antara Ben sebagai aktor atau sebagai strada. Kali ini saya sepakat dengan teman saya kalau Ben cenderung bertalenta menjadi strada, dan mungkin sekaligus penulis skenario. Entah mengapa saya selalu melihat Ben memerankan karakter yang itu-itu saja. Cowok dengan hati mulia namun terjebak dalam lingkungan “nakal”.
Untuk sebuah film bertema umum, Town kepanjangan. Tanpa kebaruan dan kejutan berarti membuatnya berwujud pribadi menyenangkan yang duduk di atas kursi roda. Seandainya saja ia bisa bergerak lebih cepat... [B] 18/06/11
Kamis, 16 Juni 2011
Blur - Out of Time
Where's the love song to set us free
too many people down, everything turning the wrong way round
and I don't know what love will be
but if we stop dreaming now, lord knows we'll never clear the clouds
and you've been so busy lately
that you haven't found the time
to open up your mind
and watch the world spinning gently out of time
Feel the sunshine on your face
It's in a computer now
gone to the future, way out in space
and you've been so busy lately
that you haven't found the time
to open up your mind
and watch the world spinning gently out of time
and you've been so busy lately
that you haven't found the time
to open up your mind
and watch the world spinning gently out of time
Tell me I'm not dreaming
but are we out of time
(we're) out of time
Selasa, 14 Juni 2011
Resensi Film: 9 Songs (2005)
Kontroversial! Saya kenal judul ini sejak mengecek riwayat karya strada Michael Winterbottom (Jude, A Mighty Heart). Tak sangka, 9 Songs termasuk dalam salah satu judul unsimulated sex mainstream-movie pada versi artikel wikipedia. Ternyata di zaman ia diputar cukup banyak forum yang memperbincangkannya. Termasuk mengenai komentar aksi-aksi seksual aman (baca: berkondom) dari kedua pemerannya.
Pertama, saya tak begitu terkejut karena sebelum menontonnya sudah terlalu banyak informasi yang digali. Kedua, saya penasaran dengan bagaimana film intim ini dikemas lewat selang-seling 9 lagu konser (ada Franz Ferdinand pada daftar menu) yang maunya mewakili hubungan pasangan ini. Ketiga, seberapa nyeninya film yang mereka maksud sebagai art-house.
Kisahnya sederhana. Si pasangan bertemu dalam sebuah konser band rock di Brixton Academy, London. Berlanjutlah hubungan mereka dalam kemasan seks bebas, suka sama suka, yang penting enjoy. Nikmat atas nama gairah membara. Saya menjadi bingung menentukan genre yang pas untuk film ini. Mau masuk ke drama, terlalu eksplisit. Dikategorikan ke softcore/semiporno, ceritanya cukup riil dan alami.
Harapan saya, semoga saja takkan banyak film macam 9 Songs diproduksi lagi. Membuat saya, sebagai penikmat karya seni, dipaksa menjadi saksi mata bagaimana tak perawannya seorang aktris. Bagi saya itu terlalu menyakitkan ditonton. Semiporno ya semiporno. Film mainstream tak butuh otentisitas aktivitas seksual. Saya mengimbau bagi siapa saja yang menghindari film seks, jauhi 9 Songs.
Satu-satunya apresiasi saya buat film ini adalah tempelan melodi piano yang melatari tiap adegan seks. Ia berhasil membuat kesan seni di dalam bingkai porno, 9 Songs pun tak jadi momok yang memancing ereksi laiknya film-film biru murahan. Tag untuk film ini dari saya: drama, ¼ seni, ciuman, oral, solo, seks. Untuk sebuah film kontroversi, saya tak bergeming. Biasa saja. Tak menarik. Memalukan. Mengencang pun tidak. [D] 11/06/11
Pertama, saya tak begitu terkejut karena sebelum menontonnya sudah terlalu banyak informasi yang digali. Kedua, saya penasaran dengan bagaimana film intim ini dikemas lewat selang-seling 9 lagu konser (ada Franz Ferdinand pada daftar menu) yang maunya mewakili hubungan pasangan ini. Ketiga, seberapa nyeninya film yang mereka maksud sebagai art-house.
Kisahnya sederhana. Si pasangan bertemu dalam sebuah konser band rock di Brixton Academy, London. Berlanjutlah hubungan mereka dalam kemasan seks bebas, suka sama suka, yang penting enjoy. Nikmat atas nama gairah membara. Saya menjadi bingung menentukan genre yang pas untuk film ini. Mau masuk ke drama, terlalu eksplisit. Dikategorikan ke softcore/semiporno, ceritanya cukup riil dan alami.
Harapan saya, semoga saja takkan banyak film macam 9 Songs diproduksi lagi. Membuat saya, sebagai penikmat karya seni, dipaksa menjadi saksi mata bagaimana tak perawannya seorang aktris. Bagi saya itu terlalu menyakitkan ditonton. Semiporno ya semiporno. Film mainstream tak butuh otentisitas aktivitas seksual. Saya mengimbau bagi siapa saja yang menghindari film seks, jauhi 9 Songs.
Satu-satunya apresiasi saya buat film ini adalah tempelan melodi piano yang melatari tiap adegan seks. Ia berhasil membuat kesan seni di dalam bingkai porno, 9 Songs pun tak jadi momok yang memancing ereksi laiknya film-film biru murahan. Tag untuk film ini dari saya: drama, ¼ seni, ciuman, oral, solo, seks. Untuk sebuah film kontroversi, saya tak bergeming. Biasa saja. Tak menarik. Memalukan. Mengencang pun tidak. [D] 11/06/11
Langganan:
Postingan (Atom)





